oleh Salahuddien Gz

Pengantar

Cukup banyak buku telah ditulis dan diterjemahkan berkenaan dengan tema reinkarnasi, baik pengkajian secara ilmiah maupun pengalaman pribadi tentangnya. Masyarakat Indonesia yang sebagian besar beragama Islam dan Nasrani sepertinya terhenyak. Tentu saja karena tema reinkarnasi tidak populer—untuk tidak mengatakan tidak ada—dalam dua agama besar di Indonesia ini. Lalu yang meyakini reinkarnasi, atau yang memang ada bibit keyakinan berupa pertanyaan-pertanyaan mendasar berkaitan dengan konsep eskatologis pun membolak-balik halaman demi halaman kitab suci guna menelisik dan menginterpretasi kembali teks-teks agama yang “sepertinya” menyembunyikan ajaran reinkarnasi di balik ayat-ayat yang menggunakan kata-kata metaforis dan bersayap. Mereka memaknai kembali apa itu alam barzakh, hari berbangkit, sorga, pahala dan dosa, hari pengadilan, dan neraka, bahkan sampai pada pemaknaan kembali hakekat Tuhan Yang Maha Adil.

Banyak yang menentang, namun tidak sedikit yang menerimanya. Yang menerima reinkarnasi menyuguhkan teks-teks yang diyakini berhubungan dengan reinkarnasi dan penafsiran yang sesuai dengan prinsip keadailan Ilahi, sedangkan yang menolak, menyuguhkan teks-teks yang menceritakan kekalnya sorga, kekalnya neraka, adanya hari pengadilan sebelum jatuhnya ketentuan, apakah manusia masuk ke dalam sorga atau neraka. Di antara dua keyakinan itu, yang manakah yang disebut dengan “keyakinan”? Tentu saja, pada hemat saya, dalam masalah hidup yang fundamental, tidak mungkin dua keyakinan—yang menerima dan yang menolak—sama-sama benar. Karena kita hidup pada bumi yang sama, dan hukum alam yang mengaturnya harus sama pula, tiada pernah berubah. Lalu keyakinan manakah yang benar?

Jika hal itu berkenaan dengan prinsip hidup fundamental—seperti reinkarnasi—tentunya tak ada aturan, hukum yang berbeda bagi masing-masing individu. Tidak mungkin, reinkarnasi dialami oleh penganut Hindu dan Budha sementara umat Islam dan Nashrani tidak mengalaminya, karena mereka meyakini konsep itu tidak ada dalam kitab suci mereka. Seperti halnya hukum gravitasi, di mana-mana pun berlaku sama.

Spiritualitas menuntut kejujuran dalam berproses menuju kebenaran sejati. Dan saya yakin, keyakinan kita pada konsep-konsep keagamaan yang biasa kita pegang sesungguhnya berasal dari warisan yang kita warisi dari orang tua dan lembaga kegamaan yang telah ada sejak kita lahir. Orang tua dan lembaga agama harus kita akui, masih sedikit yang bisa mengajarkan agama secara rasional dan berdasarkan pengalaman langsung dalam keberagamaan dan spiritual. Dan konsep-konsep itu telah tertanam dalam diri kita menjadi mind set sebagai hasil pengkondisian yang tidak memberikan pilihan pada kita selain agama yang dipercaya sebagai satu-satunya yang benar.

Bagi saya, keyakinan adalah sesuatu yang harus kita alami dan kita sadari dalam kesempurnaan kekinian. Karena kebenaran yang kita hadapi selalu saja terjadi dalam kekinian. Jika dalam al-Quran Tuhan menyatakan bahwa Ia lebih dekat dari urat leher kita sendiri, dan tidak ada sesuatu di luar Tuhan, tentunya sorga dan neraka pun ada di dalam Tuhan bukan? Berada dalam kekinian. Berada dalam diri kita. Tuhan bukan masa lalu, juga bukan masa depan. Dan esok belum terjadi, kalaulah esok terjadi tentulah itu dialami dalam kekinian. Dan masa lalu hanyalah memori, yang ketika tersimpan dalam memori otak manusia, maka urusannya adalah lupa dan ingat. Namun, masa lalu dan masa depan sesungguhnya tersimpan dalam kekinian yang abadi (eternal now). Dan yang bisa melampaui waktu, baik esok hari atau kemarin hari, adalah fakultas dalam diri kita yang saya sebut sebagai kesadaran. Kesadaran melampaui ruang dan waktu.

Dalam kesadaran, segalanya tercakup di situ. Melampaui dualitas baik buruk, kelahiran dan kematian. Dan kesadaran hanya bisa dialami dalam pengalaman yang serba baru. Tuhan yang bersemayam dalam diri kita itu adalah kesadaran. Yang terus bekerja tiada henti-hentinya. Dalam al-Quran Dia menyatakan, “Setiap hari Ia selalu sibuk.” Kesadaran tak pernah tidur, namun selalu terjaga dalam nurani manusia.  Kesadaran adalah saksi yang menyaksikan permainan dualitas pikiran kita.

Karena itu, keyakinan kita yang belum menyentuh wilayah kesadaran, belum sampai pada tahapan haqqul yaqin, sesungguhnya masih terbuka kemungkinan untuk berubah, meskipun kita menyebutnya itu sebagai keyakinan atau sebagai keimanan. Demikian pula dengan konsep reinkarnasi. Mungkin kita menolak reinkarnasi, karena pemahaman pada agama kita berbeda dengan ajaran reinkarnasi, berbeda dengan konsep kekalnya sorga, kekalnya neraka, tempat kembalinya semua umat manusia. Namun jika kita menolak konsep reinkarnasi, apakah kita bisa membuktikan bahwa konsep kita yang paling absah, bisa dinalar, bisa dialami, dan disadari? Bagaimana dengan kesaksian orang yang mengaku pernah lahir sebelum kehidupannya saat ini. Jadi, pada hemat saya, kebenaran itu harus disadari dan dialami sendiri, dirasakan. Pertama-tama kita perlu membuka ruang nalar untuk memahami tanpa kesinisan terlebih dulu, karena kita pun tak bisa membuktikan bahwa keyakinan kita yang benar, kita menyatakan benar karena “agama” atau pemimpin lembaga keagamaan kita menyatakan itu benar dan “sesuai” dengan “nash” agama.

Banyak yang menyatakan bahwa ajaran reinkarnasi berasal dari negeri Timur: India, Cina, Nusantara. Atau berasal dari agama yang lahir di Timur: Hindu, Budha, Tao, faham Kebatinan, atau bahkan Kejawen. Jika Krishna, Budha, Lao Tse menyatakan keberadaan reinkarnasi, lalu Muhammad, Yesus, Musa “tidak” menyatakan keberadaan reinkarnasi, lalu apa dengan demikian para orang suci itu berbeda pandangan atas hukum alam yang seharusnya satu dan sama adanya?

Mengapa Manusia Perlu Mengalami Reinkarnasi?

Reinkarnasi adalah suatu relitas yang bisa kita sadari dengan kepekaan kesadaran kita sehari-hari. Kematian adalah sesuatu yang terjadi setiap hari. Bahkan kematian adalah hakekat yang melandasi segala sesuatu. Kematian adalah kepastian yang melebihi hidup itu sendiri. Bahwa cahaya selalu lahir dalam rahim kegelapan. Anda mati dari diri Anda kemarin dan lahir kembali menjadi diri Anda saat ini.

Kesalahan terbesar manusia sebenarnya ketika mereka merasa terpisah dari Tuhan. Jika kita merasa Tuhan berada “di sana”, tentunya perasaan tersebut sebetulnya telah membatasi kemahaadaan dan kemahaesaan Tuhan. Karena itu, setiap konsep yang dibangun dari perasaan terpisah tentunya  akan menghasilkan sikap selalu menyesal, sikap inferior, suatu sudut pandang, bahwa ada sebuah kekuasaan di luar diri kita yang sewenang-wenang dalam menentukan nasib kita, dan kita tak punya pilihan dengan kehendak-Nya. Sementara dalam al-Quran, Tuhan menyatakan: Tiada daya dan upaya selain dengan-Nya? Bahwa energi Tuhan berada dalam diri kita. Bahwa sifat-sifat Tuhan terkandung dalam diri manusia. Dan dalam ayat lain di al-Quran, Tuhan menyatakan: Sesungguhnya kehinaan yang menimpa manusia adalah akibat perbuatan tangan-tangan mereka sendiri. Hanya manusia saja yang belum menyadarinya. Manusialah yang menentukan takdirnya sendiri. Tuhan hanya memfasilitasinya. Termasuk kondisi seseorang yang menderita hidupnya ketika lahir di dunia tentu tidak bisa terlepas dari semangat ayat di atas.

Demikianlah, reinkarnasi adalah realitas sehari-hari, adalah konsep perubahan yang terus berjalan untuk menuju penyempurnaannya. Reinkarnasi, perubahan dan penyempurnaan jiwa itu adalah suatu keniscayaan yang tetap ada meskipun semua orang di dunia tidak meyakininya. Bulan akan tetap ada meskipun semua orang buta meniadakannya. Nah, realitas hanya bisa menjadi keyakinan jika kita menyadari saat mengalaminya, jika kita menyaksikan sendiri diri kita di masa lalu. Dan dari situ, reinkarnasi tidak hanya sekedar konsep yang perlu diperdebatkan, namun ia adalah realitas, keberadaan yang harus dan pasti suatu saat akan disadari oleh setiap jiwa. Jika kita telah mengalami dalam kesadaran reinkarnasi maka konsep itu pun berhenti dan menjadi keyakinan yang kuat.

Akan tetapi, pada tahap awal, kita perlu memahami reinkarnasi secara nalar. Karena, meskipun nalar seringkali ragu dan terjebak dalam dualitas, namun pemahaman sesuatu dengan nalar yang benar tentunya akan memudahkan kita untuk mendekatkan kita pada keyakinan akan reinkarnasi. karena jika kita terbuka dengan konsep reinkarnasi, maka pikiran yang kita proyeksikan pada diri kita di masa lalu, tentang kejadian di masa lalu suatu saat mungkin akan kita tangkap kenyataannya dalam alam meditasi, berupa insight atau sebuah gambaran dalam pikiran kita.

Energi yang menyusun alam semesta ini satu adanya di tengah kebhinnekaannya yang luar biasa. Dalam perbedaan wujud yang luar biasa banyak, sesungguhnya ada energi yang sama yang membuat semuanya ini maujud. Di dalam setiap materi terdapat energi yang mewujudkannya, dan energi bisa mengambil bentuk berupa materi. Yang non wujud berada dalam yang wujud, dan yang wujud akan kembali, dan menyimpan sesuatu yang non wujud. Ada  dua nama Tuhan dalam Islam yang mungkin belum banyak kita perhatikan: Al-Dzahir dan Al-Bathin. Jadi Allah adalah yang nampak sekaligus yang tidak nampak, dzahir dan batin. Membatasi Allah hanya pada sesuatu yang tidak nampak justru akan membatasi kemahaadaan Allah, seakan-akan Allah berada di awang-awang dan tidak hadir dalam dunia wujud. Pandangan semacam itu akan mengakibatkan orang menjadi idealis. Sementara jika kita membatasi Allah sebagai sesuatu yang lahir saja, maka kita akan terjebak pada pandangan materialis. Seakan-akan hanya yang maujud saja, hanya yang positif saja yang nyata, padahal kita pun mempunyai dunia batin, kesadaran, yang tidak dzahir namun “ada”.

Secara sederhana, kita, dan bahkan anak kecil pun akan bertanya, dari manakah asal-usulnya? Dari manakah asal usul keberadaan itu? jika kita menjawabnya secara berurutan, tentunya jawaban terakhir itu akan sampai kepada ketiadaan. Jawaban terakhirnya akan sampai pada pikiran yang menyerah karena tidak mampu menjangkaunya. Nah, yang tak mampu diperkirakan dalam pikiran itu kita menyebutnya sebagai Tuhan. Banyak para mistikus yang menyatakan bahwa Tuhan adalah Ketiadaan yang merengkuh, yang mengandung segala macam keberadaan, dalam konsepsi mistik Jawa, Tuhan disebut suwung hamengku ana (ketiadaan yang mengandung keberadaan). Dalam pertanyaan-pertanyaan filsafat, seringkali dikatakan bahwa yang “ada” berasal dari yang “tiada”. Namun, bagaimana yang “tidak ada” bisa melahirkan yang “ada”? Oleh karena itu, mereka pun berkesimpulan bahwasanya anatara “ada” dan “tiada” itu sama saja. Kata para Budha, yang ada ini sesungguhnya tiada, maya belaka.

Namun, “ada” atau “tiada”, itulah yang sejati, yang nyata. Yang sempurna. Yang membuat semuanya tidak sempurna adalah pikiran kita yang menilai. Karena penilaian adalah kerja pikiran. Untuk sampai pada kenyataan dan hakekat sesungguhnya, para master dan para sufi menganjurkan kita untuk melampaui ego, mind kita, dan ketika kita berdisiplin diri untuk melampaui ego, tidak terikat pada pikiran yang membonceng keinginan, kita tentu akan sampai pada realitas yang melampaui segala macam pikiran, yang melampaui segala macam penilaian. Dan aneka macam ritul, meditasi, adalah sebuah latihan pendisiplinan diri untuk memupus ego kita yang tercipta dari pikiran liar (nafsu) kita sehari-hari. Pada tahap awal, pikiran adalah jalan untuk memahami kenyataan, namun ia juga sekaligus menjadi hijab yang membuat kita terhalang dalam menyatukan diri dengan kenyataan yang sejati.

Sebelum terciptanya alam semesta, sebelum dunia wujud maujud dalam ranah ruang dan waktu, maka yang ada hanyalah ketiadaan yang menyimpan segala macam peristiwa dalam pikiran murninya. Tuhan, yang adalah keheningan, ketiadaan abadi-Nya itu sendiri, ingin agar Dia dikenali, agar kekayaan batin-Nya diketahui dan disaksikan-Nya sendiri. Oleh karena itu, Dia lalu berkehendak untuk mewujudkan pikiran-Nya ke dalam dunia wujud. Sifat pertama dan yang utama dari Tuhan adalah kehendak. Dan kehendak ini muncul dari pikiran murni-Nya. Ia ingin melihat wujud-Nya yang abstrak memakai wadag. Dalam beberapa literatur tasawuf kita sering mendengar bahwa Tuhan menciptakan alam semesta agar dia bisa dikenali oleh diri-Nya sendiri pula. Atau, seperti yang sering diungkapkan oleh Maulana Jalaluddin Rumi, Tuhan ingin menciptakan Manusia agar ada yang bilang, ada yang memuji-Nya. Dan sesungguhnya yang memuji dan mengenali-Nya adalah diri-Nya sendiri juga. Kita bisa merasakan dan memahami konsep di atas dengan sebuah contoh tentang seorang pelukis yang ingin mengekspresikan ide lukisannya dalam pikirannya ke dalam sebuah kanvas. Ide pelukis itu bisa kita ibaratkan sebagai pikiran Tuhan, dan lukisan di atas kanvas itu kita ibaratkan sebagai ciptaan yang lahir dari kehendak sang pelukis itu sendiri. Atau seperti benih sebuah tanaman, yang menyimpan akar, dahan, ranting, dedaunan, dan buah, dalam potensialitas dirinya sendiri. Dan benih itu harus ditanam dalam tanah, harus berproses untuk mendapatkan kesempurnaan seperti yang telah dikandung dalam benih tanaman itu.

Sebelum menciptakan semesta, Tuhan menciptakan prototipe kesadaran sejati diri-Nya yang akan mengejawantah dalam tubuh manusia utama  (insan kamil). Dalam Islam tasawuf, prototipe itu disebut sebagai nur muhammad. Atau energi murni sebelum mengejawantah dalam perwujudannya sebagai tokoh historis bernama Muhammad bin Abdullah, nabi yang lahir di kota Makkah itu. Dan  nur Muhammad itu sebetulnya ada dalam setiap ciptaan, karena segala macam ciptaan itu sesungguhnya adalah dari napas-Nya pula. Yang membedakan hanyalah tingkat keasadaran ciptaan itu akan jati dirinya yang tak terpisah dari Tuhan. Yang sesungguhnya tak terbatas dan omni present, hadir di mana-mana. Nur Muhammad mengalami beberapa fase dalam dunia untuk mencapai kesadaran tertingginya sebagai insan kamil, sebagai Muhammad. Dalam beberapa literatur agama, kebatinan, juga ilmu pengetahuan modern menyebutkan bahwasanya alam semesta terbentuk sebelum manusia seperti yang kita lihat sekarang ini, semesta tercipta sebelum adanya manusia yang memiliki kesadaran diri dan benda-benda maujud di dunia. Bahkan ketika proses itu sudah sampai pada manusia, kesadarannya masih harus terus berproses dan mengalami peningkatan dalam beberapa kelahiran hingga sampai pada kesadaran tunggal, kesadaran semesta seperti yang dimiliki oleh nabi Muhammad. Setiap nabi sesungguhnya pun tidak serta merta menjadi seorang nabi. Mereka dulunya pun berproses sebagaimana kita, babak belur dulu sebelum mencapai kesempurnaan sejati. Seperti kata Nietzsche yang juga memahami konsep insan kamil, puncak kebudayaan adalah berdiam diri dari naluri-naluri liar.

Dalam beberapa kesempatan, Muhammad seringkali menyatakan, Ana basyarum mitslukum (sesungguhnya aku ini seperti kalian semuanya). Yang membedakan hanya tingkatan kesadarannya saja, bahwasanya Muhammad telah mencapai kesadaran paripurna dalam kelahirannya yang terakhir. Dalam suatu kesempatan, Muhammad pernah mengatakan bahwa dalam dirinya terkandung jiwa Ibrahim. Atau dalam doa tahiyyat akhir ketika shalat, pujian kepada Muhammad selalu dihubungkan dengan pujian kepada Ibrahim. Sementara itu, kita masih berproses untuk mencapai kesadaran Muhammad. Dan kita saat ini sedang berproses ke sana. Kita akan dan pasti akan mencapainya. Suatu saat. Dan kelahiran para nabi, para wali, dan para master adalah untuk memberikan contoh kepada manusia tentang Tuhan yang bisa dilihat, diraba, dirasakan dalam tubuh manusia. Muhammad pernah bilang, Ana Ahmad bilaa mim. Yang artinya sesungguhnya dialah Tuhan yang maujud. Atau seperti kata Yesus, Tiada seseorang pun bisa sampai pada Bapa tanpa melalui Aku. Jadi, sesungguhnya itulah pentingnya para nabi, para wali, para mursyid yang mengetahui betul apa yang harus kita lakukan dalam proses perjalanan kita menuju kesempurnaan sejati.

Keberadaan para master itu ditulis dalam al-Quran: Dan di antara keduanya, ada batas, dan di atas tempat tertinggi, A’raaf itu, ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka. (7:46)

Ayat di atas menyiratkan pengetian bahwa, orang yang berdiri di tempat tertinggi itu adalah Para nabi yang melampaui dualitas, baik buruk, sorga neraka, kebaikan atau kejahatan. Dan para master itu sangat mengenal cici-ciri manusia yang masih terjebak pada dualitas baik dan buruk, karena sesungguhnya para master itu telah melewati, telah melampaui apa yang belum dilampaui oleh dua golongan tadi. Saat orang menjadi nabi, menjadi master, sesungguhnya dia hanyalah menjadi penyaksi, syahid, yang terus terjaga dalam keseimbangan. Yang selalu waspada layaknya Budha di antara peristiwa-peristiwa dunia yang hilir mudik terus berganti.

Life is Just a Game, be Joyful….

Lalu kita mungkin bertanya, untuk apa penciptaan ini terjadi? Untuk apa kita harus lahir di dunia? Untuk apa Tuhan memendarkan, memerincikan diri-Nya, mengembangkan diri-Nya dalam alam yang bhinneka ini? Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang harus terbetik dalam diri kita supaya kita bisa melewatkan hidup ini dengan keyakinan, dan tidak berputus asa atau pun jumawa. Seperti yang telah disebutkan dalam hadits qudsi, Tuhan adalah kekayaan yang tersembunyi, dan Ia menciptakan semesta agar diri-Nya dikenali. Jika Tuhan tanpa ciptaan, siapa yang bisa menyebutnya sebagai Tuhan? Tuhan tanpa manusia, tentu Dia tidak bisa disebut sebagai Tuhan. Jadi ada unsur game dalam penciptaan ini. Tuhan ingin bermain-main dengan diri-Nya sendiri agar tidak masyghul dalam kesunyian-Nya. Dalam diri-Nya, terkandung kesadaran murni yang mengandung segala macam potensialitas yang Dia kehendaki agar teraktualisasi dalam sejarah. Baik itu potensi kebaikan maupun kejahatan, baik itu potensi malaikati maupun potensi syaithani.

Itulah misteri Tuhan yang tiada seorang pun bisa memecahkannya. Kehendak-Nya begitu misteri. Dan karena Dia dan kehendak-Nya adalah misteri, maka ciptaannya yang mengandung energi-Nya pun misteri. Namun, ketika kita berbicara tentang Tuhan, yang harus disadari adalah, kita tak pernah terpisah dari-Nya. Kita ada di dalam-Nya. Dan Dia ada di dalam diri kita. Sehingga, ketika kita membenci atau memuji-Nya, sesungguhnya rasa benci dan pujian itu akan kembali pada kita sendiri.

Dalam al-Quran seringkali disebutkan bahwasanya hidup ini tak lain hanyalah permainan dan senda gurau (laibun wa lahwun). Jika Tuhan menciptakan dunia ini sebagai arena permainannya, maka, tak ada pilihan bagi kita untuk bermain dan menikmati permainan itu. Permainan baik dan buruk, cinta dan benci, protagonis dan antagonis yang membentuk sebuah cerita dalam sejarah. Hegel, seorang spiritualis dari Jerman menganggap bahwa, sejarah adalah otobiografi Tuhan, atau Tuhan bukan hanya yang memiliki sejarah, namun Dia adalah sejarah itu sendiri. (Hegel; Reason in History;1953)

Dan dalam permainan, game itu, pasti ada aturan permainannya. Aturan itu tak pernah berubah, abadi selamanya. Dalam Islam, aturan yang tak pernah berubah itu disebut sebagai Sunnatullah, bangsa Timur menyebutnya sebagai hukum karma, dan ilmu pengetahuan modern menyebutnya sebagai hukum kausalitas. Secara sederhana hukum itu oleh nenek moyang kita diungkapkan dalam sebuah kata-kata indah: siapa yang  menanam dia yang akan menuai, siapa yang berhutang dia harus mengembalikan. Sunntullah itu tak bisa dilanggar oleh siapa pun bahkan oleh Tuhan sendiri. Tuhan taat kepada aturan yang berada dalam diri-Nya sendiri. Hukum karma itulah yang membuat kita harus bereinkanasi terus menerus. Hukum permainan hidup itulah yang menciptakan rantai samsara, jika kita belum melampauinya dan menyatu dengan sang pemilik permainan: Tuhan. Tuhan yang ruh murni-Nya dikandung oleh para nabi dan para master selalu dalam kesadaran murninya, ketika bermain di muka bumi. Mereka sadar akan kekuatan maya hidup. Mereka telah melampaui samsara, rantai kelahiran dan kematian, dan mereka turun ke dunia untuk bermain, untuk memberikan contoh pada manusia bagaimana menikmati hidup, menunjukkan sebuah cara bagaimana manusia harus kembali ke haribaan-Nya.

Tuhan ingin agar ciptaan-Nya yang pada awal-awal terbentuknya semesta bermula sebagai makhluk sederhana serupa mineral dalam air dan bebatuan, mengalami penyempurnaan fisik dan kesadaran sehingga bisa mengenal diri-Nya, dalam wujud manusia melalui hukum evolusi. Dalam diri manusialah, kesadaran Tuhan mulai nampak. Manusia mampu memikul pikiran Tuhan yang mengandung dualitas baik dan buruk. Itulah maksud ayat dari al-Quran, bahwasanya amanat (kesadaran) Allah telah ditawarkan pada gunung, laut, dan makhluk lainnya, namun mereka semua menolaknya, karena kesadaran mereka belum mencukupi untuk menerimnaya, dan manusialah yang mampu mengemban amanat-Nya. Kata Tuhan selanjutnya, bahwa manusia benar-benar bodoh dan zalim. Makna sesungguhnya adalah bahwa, Dia menertawakan diri-Nya sendiri. Imajinasikanlah, betapa lucunya ketika  Tuhan mengutuk dan membodoh-bodohkan manusia yang merupakan tujuan akhir penciptaan-Nya sendiri. Dia telah memendarkan diri-Nya dari tingkatan tanah liat menuju kesadaran tertinggi dalam wujud manusia. Dia mengutuki dan menertawakan manusia untuk—suatu saat—didekap-Nya kembali karena kerinduan-Nya yang akut dalam penantiannya pada si anak hilang, yang juga adalah diri-Nya sendiri pula.

Jadi reinkarnasi adalah sebuah permainan yang diciptakan oleh Tuhan. Dan Tuhan tidak akan berhenti bermain, dia tak akan berhenti mencipta karena itulah sifat-Nya yang utama. Lalu mengapa kita harus terlalu serius memikirkan hidup? Hidup ini misteri dan sebuah misteri tetap akan menjadi misteri. Selamilah dan nikmatilah misteri itu. Karena Tuhan ingin melihat manusia bergembira. Tuhan ingin agar manusia memahami hakekat-Nya. Dan reinkarnasi akan terus dialami manusia sampai manusia mengenal kesejatian Tuhan.  Dan untuk itu, dia akan selalu mengutus wakil-Nya, untuk berbicara atas nama-Nya. Seperti sabda Krisna kepada arjuna di medan Kuruksetra:  Jika Dharma (kebenaran, aturan kehidupan) terancam, maka Aku akan turun kembali ke dunia untuk menegakkannya  dari masa ke masa (Bhagavadgita).

Mengapa Islam Tidak Terlalu Jelas Berbicara tentang Reinkarnasi?

Jika ditilik dari tingkat kesadaran umat yang dihadapi oleh nabi Muhammad masih dalam tingkatan jahiliyyah (kesadaran rendah), dan mempertimbangkan asas manfaat kalau seandainya ajaran reinkarnasi disampaikan pada masyarakat awam seperti itu, maka sepertinya nabi Muhammad “menunda” atau “menyamarkan” faham reinkarnasi dalam ungkapan-ungkapan metaforis dan implisit? Karena Nabi Muhammad pernah berkata pada para sahabatnya:

Al-Quran disampaikan dalam tujuh dialek; dan dalam setiap dialek ada makna luar dan makna dalamnya. (Hadits Nabi)

Atau dalam salah satu kesempatan, beliau menyatakan:

Aku menerima dua macam pengetahuan dari Utusan Tuhan (Jibril): salah satu darinya kuajarkan pada orang-orang dan jika saja pengetahuan yang satunya lagi kuajarkan pada mereka, tentu saja akan rusaklah kerongkongan mereka (membingungkan mereka-pen.) (Hadits Nabi)

Lalu, pertanyaannya, jika ajaran-ajaran Muhammad yang rahasia dan belum waktunya disampaikan pada saat itu seperti mungkin reinkarnasi belum pernah sampai pada kita, lalu pada siapakah ajaran rahasia itu disampaikan. Ada beberapa orang yang mempercayai, bahwa ajaran sejati Nabi Muhammad itu diwarisi oleh Hazrat Ali. Karena Muhammad pernah bilang:

Jika aku adalah gudang ilmu, maka Ali adalah pintu gerbangnya.

Dan, dari Hazrat Ali, kemudian pemahaman itu terwariskan kepada para sufi. Karena dalam genealogi tarekat tasawuf, hampir semuanya dari Muahammad langsung turun kepada Hazrat Ali.

Salah satu sufi dari banyak sufi yang telah sampai pada pengalaman reinkarnasi adalah Jalaluddin  Rumi. Ia sempat menyatakan dalam catatannya yang rahasia:

Aku adalah satu jiwa namun memiliki tubuh ratusan ribu. Namun karena syariah, mulutku tak bisa banyak bicara. Aku telah melihat diriku dalam dua ribu tubuh, namun tak ada yang sebaik sekarang ini.

Dari sini, saya mencurigai bahwasanya nabi Muhammad masih belum menyingkap reinkarnasi dengan jelas pada umatnya saat itu, karena tingkat kesadaran masyarakat Arab pada saat itu masih belum memungkinkan jika ajaran itu diterima oleh mereka, sehingga ayat-ayat al-Quran cenderung mengungkapkan reinkarnasi dengan bahasa-bahasa simbolis. Seperti ayat berikut ini:

Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan  siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup (Q.S. 3:27)

Jika Muhammad menyampaikan dengan terbuka ajaran reinkarnasi pada zaman jahiliyyah kala itu, bisa jadi masyarakat pada saat itu akan bermalas-malasan berusaha dalam meningkatkan kesadaran spiritualnya karena sangat mungkin mereka beranggapan, bahwa, hidup tidak hanya saat ini, dan bisa diperbaiki pada hari esok. Masyarakat  Arab pada saat itu harus diberikan peraturan yang sangat ketat agar mereka mau  berdisiplin. Pada hemat saya, Muhammad pun “terpaksa” berkompromi terhadap tingkat kecerdasan umatnya ketika beliau berbicara tentang hidup sesudah mati, hari kiamat, hari pengadilan, dan sorga-neraka.

*Salahuddien Gz, mantan mahasiswa Filsafat UGM  th. 1995-2000. Bekerja freelance sebagai penerjemah dan editor buku-buku sastra, spiritualitas, dan filsafat. Saat ini sedang menyusun buku antologi prosa lirisnya sendiri tentang cinta dan pendakian jiwa. Tinggal di Pondok Labu Jakarta Selatan.