oleh Drs. Promadi, M.A., Ph.D, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sultan Syarif Kasim Riau

ICT dalam Pendidikan Menurut Perspektif Islam

Pesan pertama agama Islam yang diajarkan Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW melalui malaikat Jibril merupakan model awal komunikasi pembelajaran dalam konteks Pendidikan Islam. Komunikasi pembelajaran pada tahap ini berlangsung secara manual-tradisional tanpa sentuhan teknologi kreatif, terutama teknologi komunikasi. Nabi, sebagai seorang yang dinobatkan Tuhan sebagai juru bicaraNya, dan melalui mereka Tuhan berkomunikasi dengan manusia menggunakan bentuk morfologis, sintaksis, dan semantik bahasa manusia , membawa tugas untuk menyampaikan risalah Tuhan berupa wahyu.

Dengan kata lain, Nabi berperan sebagai jembatan penghubung antara Tuhan dan manusia; menyampaikan ajaran-ajaran Tuhan kepada umat dengan memforward bahasa yang digunakan Tuhan kepada manusia. Artinya, Nabi memiliki kemampuan berkomunikasi dalam dua bentuk morfologis dan sintaksis bahasa: bahasa primordialnya sebagai seorang manusia biasa, dan juga bahasa Tuhan. Rasulullah Muhammad SAW berupaya menyimpan informasi yang diterimanya dengan cara menghafalnya sehingga informasi itu dapat diberikan kembali saat diminta persis sebagaimana ia diterima. Melalui kemampuan daya hafal Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis sehingga tak satupun ayat al-Qur’an yang mengalami distorsi sebagai bukti jaminan Allah tetap melelihara kemurnianya . dapat menjadi sinyal betapa perlunya bantuan teknologi untuk menyamai kemampuan mereka khusus bagi umat yang tidak memiliki daya kognitif seperti mereka.

Dengan adanya bantuan teknologi, maka proses penghafalan Al-Qur’an bisa dipercepat, mudah dan sebagainya. Dalam kajian Psikologi Kognitif, kemampuan ingatan seseorang terbagi kepada tiga jenis yaitu kemampuan menerima, menyimpan dan memunculkan kembali informasi. Ingatan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap keberhasilan pembelajaran. Semakin baik kemampuan ingatan seseorang, maka semakin banyak informasi yang dapat dia terima, simpan, dan munculkan kembali (Promadi, 2009 :113). Dengan bantuan Teknologi Informasi dan Komunikasi atau ICT, kemampuan menerima, menyimpan, dan memunculkan kembali ini dapat diakselerasi, sehingga lebih efektif dan efisien. Penyimpangan informasi dan pengrusakan selama dalam perjalanan dapat dihindari. Dengan demikian keberhasilan pembelajaran dapat ditingkatkan.

Ketika wahyu Tuhan, terutama yang hanya berbentuk semantik, ditransliterasikan kedalam bahasa manusia menggunakan bentuk morfologis dan sintaksis, terjadilah sesuatu yang tak terhindarkan, yaitu reduksi atas semantik pesan-pesan Tuhan. Sebab, menerjemahkan semantik “bahasa” Tuhan ke dalam bentuk morfologis dan sintaksis bahasa manusia sama halnya dengan: pertama, membatasi semantik yang sebelumnya sebenarnya tidak terbatas; kedua, menyederhanakan semantik yang sebelumnya “melampaui” kesederhanaan; ketiga, mensistematisasikan semantik yang sebelumnya tidak terikat oleh kaidah atau struktur apapun. Jadi, jika terjadi reduksi atas semantik wahyu Tuhan, maka hal itu dapat diterima sebagai suatu hal yang wajar terjadi karena Nabi memang diutus bukan sebagai manusia super yang mampu mengatasi paradoks-paradoks eksistensial (http://islamlib.com/id).

Terdapatnya perbedaan semantik pemahaman ayat-ayat Tuhan oleh kalangan yang berbeda, ketika pesan agama yang diterima Rasulullah diteruskan (forward) kepada manusia lain, dan terjadi pengkodean ulang beberapa kali ke dalam bentuk morfologis dan sintaksis yang berbeda-beda merupakan wujud dari kemungkinan kondisi yang dapat membawa terjadinya reduksi pesan Tuhan yang tak terhindarkan. Perbedaan eksistensial ini memaksa kita menerima konsekuensi bahwa ketika bahasa Yang Transenden (wahyu) ditransformasikan kedalam bahasa yang imanen, maka ketika itu juga ia masuk dalam sebuah “wilayah” yang memandang diferensiasi sebagai sebuah keniscayaan. Dengan kata lain, wahyu akan dipahami dalam cara yang berbeda, sesuai dengan karakteristik “bahasa” masing-masing manusia. Pada tataran yang lebih radikal, semantik wahyu Tuhan akan diinterpretasikan se-plural “bahasa” manusia. “Bahasa” dalam hal ini, bukan hanya dalam pengertian leksikal semata, juga mencakup di dalamnya persolan konteks. Konteks yang kemudian mempengaruhi cara pandang seseorang. Karena itu, konteks yang berbeda akan menghasilkan penafsiran semantis yang berbeda pula atas satu wahyu. Pada titik ini, bahasa Tuhan yang sebelumnya monolitik, kemudian tampil dalam keanekaragaman bentuk dan pemahamannya. Bahkan, tidak menutup kemungkinan akan terjadinya kontradiksi pemahaman.

Disinilah terlihat betapa Teknologi Informasi dan Komunikasi memainkan peranan yang sangat penting dalam membantu manusia mengolah pesan, menyimpan dan memunculkannya kembali saat diminta guna menghindari distorsi dan reduksi semantik. Salah satu bentuk sinyal Teknologi Informasi dan Komunikasi terawal dalam Islam adalah proses saving data dengan cara menghafal ayat-ayat yang diturunkan secara periodik kepada Muhammad SAW dengan metode manual. Proses ini sebenarnya merupakan sinyal akan kebutuhan TIK yang lebih canggih di kemudian hari, sebagai pengembangan teknik menghafal menggunakan multimedia.

Dalam kaitannya dengan wahyu yang diterima para Nabi inilah, problem bahasa muncul. Bagaimana tidak, Tuhan dan Nabi secara eksistensial berada dalam sebuah ranah yang berbeda: Tuhan terlingkupi oleh transendensinya, sedangkan manusia dibatasi oleh imanensinya. Konsekuensinya, jika yang satu mencoba berkomunikasi dengan yang lainnya untuk menyampaikan informasi, maka problem bahasa menjadi hambatan terbesar karena perbedaan simbol dan kode yang berbeda antara dua bahasa yang berbeda. Sehingga bahasa yang satu tidak dapat dicerna oleh yang lainnya. Selain itu, problem ini hanya dapat diatasi, terutama dalam pandangan Sufi dan umat Kristiani, jika entitas yang satu mencoba untuk berfusi atau meleburkan diri dalam cara “ber-ada” entitas yang lainnya. Dengan kata lain, yang transenden menjelma menjadi yang imanen, atau sebaliknya. Ketika al-Hallaj mengatakan “Ana al-Haq” tidak dapat diterima kalangan Muslim saat itu karena perbedaan antara semantik yang mereka pahami dari simbol bahasa yang digunakan Al-Hallaj ketika proses decode dan semantik yang ingin disampaikan Al-Hallaj dan simbol bahasa yang digunakan mereka saat proses encode semanti dari Al-Hallaj. Oleh karena komunikasi merupakan pertukaran makna di antara beberapa orang dengan menggunakan sistem tanda yang umum (“the exchange of meanings between individuals through a common system of symbol”) (Seiler, 2002:5), maka paling tidak, kedua belah pihak harus saling mengerti kode yang digunakan, karena komunikasi tidak akan wujud kalau kedua belah pihak saling tidak memahami kode bahasa yang digunakan. Dalam kasus Al-Hallaj, perbedaan semantik “Ana al-Haq” antara Al-Hallaj dan Maum Muslimin kemungkinan tidak menemukan titik temu, dan differensiasi telah mencatat sejarah duka dalam perkembangan mistik Islam.

Melalui Malaikat Jibril, proses peleburan bahasa dapat terjadi sehingga antara Jibril dan Rasulullah SAW terjadi komunikasi, karena Jibril menggunakan simbol-simbol dan kode bahasa yang digunakan Rasul. Kemudian Rasulullah SAW mempresentasikan dan mensosialisasikan ajaran-ajaran Allah melalui bahasanya yang sekaligus bahasa yang dipahami umatnya . Ini membuktikan bahwa Allah memang tidak pernah mengutus utusanNya kecuali yang menguasai bahasa kaum yang bersangkutan, agar informasi yang diberikan jelas dan komunikatif . Dalam komunikasi, kedua belah pihak harus saling mengerti kode, tiada komunikasi kalau saling tidak memahami kode. Komunikasi yang efektif terjadi apabila kedua belah pihak mengerti tanda dan sistem masing-masing, komunikasi akan sukar terjadi apabila kedua belah pihak menggunakan sistem atau kode (morfologis, sintaksis dan semantik) yang berbeda.

Ketika Jibril meminta Muhammad SAW membaca pesan pertama Allah yang beliau bawa berbentuk teks, Muhammad SAW selaku seorang yang tidak pernah mempelajari dan tidak memiliki pengetahuan tentang representasi sinyal-sinyal grafis terhadap fonologis walaupun terhadap Bahasa Arab yang merupakan bahasa ibu bagi beliau, menolak untuk membaca dan dengan jujur mengakui keterbatasan pengetahuan kognitifnya dengan mengatakan “Ma Ana bi Qori’ . Bahkan sampai tiga kali diminta membaca, beliau tetap saja tidak melakukannya. Penolakan Rasulullah SAW untuk membaca ternyata membuahkan hasil terhindarnya distorsi komunikasi. Selain itu terciptalah efektifitas komunikasi, karena keefektifan komunikasi ditentukan oleh kemampuan seseorang mengenal tanda-tanda daripada seseorang, mengetahui bagaimana tanda-tanda itu digunakan dan memahami maksudnya (DeVITO, 1993:13). Meskipun Al-Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab, akan tetapi apabila seseorang tidak mengerti simbol-simbol grafis yang merepresentasikan fonologisnya, maka tidak akan terjadi komunikasi.

Setelah gagal melakukan transaksi komunikasi melalui media teks, Jibril mengubah pesan teks menjadi pesan audio yang dibacakannya langsung kepada Muhammad SAW. Kata pertama ‘Iqro’ diterima Rasulullah SAW, melalui ketrampilan mendengar terhadap informasi yang disampaikan oleh Jibril dalam Bahasa Arab. Sistim informasi yang berlangsung kala itu adalah dalam bentuk face to face antara Jibril dan Muhammad SAW.

Berbicara tentang sinyal visual yang diterima Rasulullah SAW beberapa saat setelah beliau kembali dari Isra’, satu perjalanan malam yang jauh yang dari dan kembali ke Masjid al-Haram melalui Masjidil Aqsa dan Sidrat al-Muntaha, adalah berupa video Masjid al-Aqsa. Dengan sistem informasi berupa penayangan bentuk fisik Masjid al-Aqsa kepada Muhammad SAW, telah membantu beliau menjelaskan setiap karakteristik masjid tersebut yang ditanyakan kaum Qurays sebagai respon atas ketidakpercayaan mereka akan peristiwa Isra’.

Bentuk pesan lain yang menarik ketika Isra’ adalah gambar animasi tentang peristiwa yang bakal dialami umat manusia di akhirat kelak, sebagai gambaran balasan atau ganjaran atas aktifitas yang dilakukannya selama di dunia. Peristiwa yang diperlihatkan dalam bentuk gambar bergerak, seperti orang yang sedang memukul-mukul kepalanya sendiri, merupakan gambaran balasan atau hukuman yang bakal diterima. Gambar animasi itu adalah proyeksi futuristis tentang akibat pelanggaran hukum Allah dan sebagai sinyal diperlukannya teknologi kreatif dalam menyampaikan informasi agar akurat dan tidak mengalami perubahan bahkan penyimpangan.

Peta perjalanan komunikasi religius, kalau boleh dikatakan teknologi informasi dan komunikasi kewahyuan, berawal dari (1) Allah melalui pengkodean (encode) atau pemberian simbol terhadap bahasa Tuhan menjadi bahasa manusia kepada Jibril sebagai penyampai pesan. Kemudian (2) Jibril melakukan pengkodean kembali (decode) terhadap pesan yang diterimanya sehingga dia memahami dengan benar dan tepat isi pesan sebelum dia sampaikan ke Muhammad SAW. Ketika (3) Jibril hendak menyampaikan pesan Tuhan kepada Muhammad SAW, dia melakukan pengkodean kembali (encode) pesan yang akan disampaikannya. Ketika (4) Muhammad SAW menerima wahyu, beliaupun melakukan pengkodean (decode) sehingga dia bisa menerima isi pesan persis sebagaimana yang dikehendaki Tuhan tanpa adanya distorsi informasi. Tidak hanya sampai disitu, ketika (5) Muhammad SAW mensosialisasikan pesan-pesan agama kepada pengikutnya, beliau mengadakan pengkodean kembali (encode) secara audio terhadap apa yang beliau terima sebelumnya dari Jibril kedalam bahasa para pengikutnya yaitu Bahasa Arab. Para (6) pengikut beliau kemudian melakukan pengkodean ulang (decode) sehingga apa yang mereka pahami dari Rasulullah SAW, juga persis sama dengan informasi awal yang diterima Jibril dari Allah. Hasil tangkapan mereka, (7) dikodekan kembali (encode) dalam bentuk sinyal teks di berbagai media tradisional yang tersedia saat itu, termasuk tulang-belulang, pelepah kurma dan sebagainya. Kemudian (8) dikodekan (decode) belakangan oleh sahabat-sahabat beliau yang kemudian (9) dikodekan lagi (encode) untuk dibukukan di zaman Usman ibn Affan.

Begitulah seterusnya proses encode dan decode berlangsung hingga pesan Tuhan sampai kepada kita para pengikut Muhammad SAW di abad 21 melalui jalur informasi yang sangat panjang menggunakan teknologi informatika yang beragam mulai dari yang paling simpel manual-tradisional sampai perangkat multimedia terkini yang paling canggih dan kompleks. Kini pesan Allah itu sudah menyebar luas ke berbagai wilayah di seluruh penjuru dunia dan disebarkan dalam berbagai bahasa asing, dan melalui berbagai media baik teks, audio, video oleh percetakan Mushaf Al-Qur’an secara besar-besaran di kota Madinah al-Munawwarah dan percetakan lokal di berbagai negara.

Sistim Informasi dalam bentuk teks, grafis, audio, visual dan animasi yang dialami Rasulullah SAW, ketika (i) menerima wahyu pertama, (ii) saat menjalani perjalanan Isra’, dan (iii) ketika baru saja kembali dari Isra’, akhirnya menjadi trend kehidupan manusia abad ini dengan mendapat sentuhan teknologi kreatif. Meskipun teknologi kreatif ini bukan hasil kajian yang intensif terhadap sinyal-sinyal teknologi informatika dari kehidupan dan pengalaman Rasulullah SAW tersebut. Bahkan penggagas, penemu, serta pemain di sektor ini mayoritas bukan dari kalangan Muslim sendiri. Walaubagaimanapun, sistem informasi ini mampu direkonstruksi, diaktualisasikan dan digunakan untuk kemudahan hidup modern di berbagai sektor, termasuk sektor pendidikan.

Sesuai perjalanan waktu dan perkembangan kemajuan teknologi kreatif yang semakin canggih, dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diilhamkan Allah kepada manusia, belakangan ini, ditemukan berbagai konsep yang tertuang dalam teknik informatika untuk membantu mempermudah manusia berkomunikasi dan mengirim informasi dengan lebih akurat, efektif dan efisien.

Dari paparan di atas, dapat dipahami bahwa ICT sudah digambarkan sejak masa-masa awal kemunculan agama Islam dan diikuti pada proses perjalanan kehidupan Rasulullah SAW terutama ketika menjalani proses pembelajaran konsep-konsep agama Islam saat menerima wahyu. Beberapa sinyal teknologi kreatif tentang pelahiran ICT di kemudian hari merupakan tonggak kekuatan agama ini yang perlu dikaji dan dikembangkan oleh umatnya. Dengan demikian kaum Muslim hari ini tidak hanya sebagai pengguna ICT, tapi sebagai penemu dan pencipta teknologi kreatif untuk pemajuan Islam dan Kaum Muslim dalam tataran global. Umat Islam diharapkan menjadi umat yang maju karena memanfaatkan ajaran Islam, dan tidak lagi sebagai umat yang tertinggal karena meninggalkan ajaran agamanya.

Pesan-pesan Religius dan Isyarat Teknologi Multimedia Interaktif

Allah, yang eksistensinya dalam perspektif kaum sufi jauh dan dekat secara terintegral, merupakan sosok virtual yang dapat didekati bila diadakan upaya kontak komunikasi zikir antara manusia denganNya. Sebaliknya, betapa Dia akan terasa sangat jauh bila ketiadaan komunikasi, meskipun Dia ada di sekitar kita. Konsep Ihsān, yang menganjurkan agar seorang Muslim beribadah sambil membayangkan bahwa seolah-olah dia melihat Allah dan jika dia tidak mampu melihatNya, cukup meyakini bahwa saat itu Allah melihatnya , juga merupakan isyarat sains informatika tentang betapa “dekat” dan mudahnya berkomunikasi dengan Allah. Tugas manusialah berupaya memilih dan menentukan teknik bagaimana berkomunikasi denganNya yang tidak jauh itu. Allah juga mensosialisasikan konsep “Ud’uni astajib lakum” untuk menunjukkan betapa Dia tidak “jauh” dari ummat. Dengan pemberitahuan bahwa Dia akan merespon setiap pemintaan atau do’a hambaNya, menunjukkan bahwa Dia begitu mudah dihubungi melalui jalur komunikasi religius.

Beberapa ayat Al-Qur’an memberikan isyarat sains dan teknologi informatika yang kemudian dapat diterapkan dalam dunia pendidikan. Sebagai contoh, ayat Wa nahnu aqrabu ilaihi min hubl al-warid yang menggambarkan betapa dekatnya Allah dengan manusia, bahkan lebih dekat daripada urat leher mereka sendiri, adalah isyarat sains informatika untuk mengatasi jarak lewat media komunikasi. Dengan adanya komunikasi, dua pribadi yang “berjauhan” dan tidak dapat melakukan kotak fisik secara face to face, justru merasa dekat dengan terjadinya komunikasi. Disinilah peran komunikasi jarak jauh (distant communication) dan komunikasi maya (virtual communication) menunjukkan andilnya dalam mendekatkan dua pihak yang berada tidak pada waktu, lokasi, dan situasi yang sama. Persoalannya adalah bagaimana mendekati dan berkomunikasi dengan Allah? Adakah Allah memberikan isyarat tentang teknologi komunikasi dan informasi terutama bila mengadakan komunikasi interaktif denganNya? Apa alat bantu komunikasi virtual denganNya?

Isyarat dari Al-Qur’an tentang peran bantuan media informasi dan komunikasi, sekarang lebih populer ICT, dalam kaitannya dengan pendidikan sudah tersirat dalam QS. Al-Alaq: 4-5 sbb: Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajari manusia apa yang tidak diketahuinya.

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia mengajar manusia, atau menyampaikan informasi yang berisi pesan-pesan pendidikan, dengan perantaraan media tulis baca atau media teks.

Isyarat lain dalam Islam tentang Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah sebuah hadits, dimana Rasulullah SAW memberikan instruksi untuk menyampaikan pesan-pesan Islam kepada sesama meskipun dalam kuantitas yang sangat minim, satu kalimat . Sangat disayangkan apabila satu kalimat ini disampaikan hanya terbatas kepada satu individu, padahal Hadis ini hanya membatasi batas minimal pesan dan bukan audien. Oleh karenanya, sangat memungkinkan pesan yang terbatas ini disampaikan kepada audien yang tidak terbatas, baik pada tataran geografis, waktu, situasi dan kondisi, serta media baik media komunikasi sinkroni maupun asinkroni. Untuk mencapai kuantitas yang memuaskan, seorang Muslim harus berupaya sedemikian rupa menyampaikan ke sesama Muslim sebanyak-banyaknya tanpa adanya limitasi. Hadis ini juga tidak membatasi secara spesifik teknik yang digunakan dalam penyampaian, mulai dari teknologi manual-tradisional sampai ke teknologi canggih-multimedia. Ketiadaan penentuan bentuk komunikasi dalam penyebaran informasi ini, memberikan peluang kepada umat untuk menciptakan teknologi kreatif sistim informatika. Akan tetapi satu rambu-rambu perlu diperhatikan agar penyampaian informasi disesuaikan dengan calon penerimam pesan. Bahkan Rasulullah SAW memberikan petunjuk psikologis agar pesan yang disampaikan efektif. Ungkapan Rasulullah SAW “Khatibu al-nas calā qadri ‘uqūlihim”, adalah bimbingan Rasulullah agar penyampaian informasi berlangsung efektif dengan mempertimbangkan karakteristik audien, dari berbagai latar belakang sosial terutama aspek kognisi.

Secara keseluruhan, bentuk ICT grafis, audio, visual, dan multimedia yang digunakan Jibril dalam proses presentasi ajaran Islam kepada Rasulullah SAW dapat dikembangkan dengan menggunakan integrasi Teknologi Informasi dan Komunikasi terkini untuk proses pembelajaran dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan Islam yang lebih efektif, efisien dan menarik.

….

(Makalah disampaikan pada Kuliah Umum mengawali Semester Ganjil TA 2009/2010 pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Rabu, 2 September 2009, di Gedung PKM UIN SUSKA RIAU)

ICT dalam Pendidikan Menurut Perspektif Islam

Pesan pertama agama Islam yang diajarkan Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW melalui malaikat Jibril merupakan model awal komunikasi pembelajaran dalam konteks Pendidikan Islam. Komunikasi pembelajaran pada tahap ini berlangsung secara manual-tradisional tanpa sentuhan teknologi kreatif, terutama teknologi komunikasi. Nabi, sebagai seorang yang dinobatkan Tuhan sebagai juru bicaraNya, dan melalui mereka Tuhan berkomunikasi dengan manusia menggunakan bentuk morfologis, sintaksis, dan semantik bahasa manusia , membawa tugas untuk menyampaikan risalah Tuhan berupa wahyu. Dengan kata lain, Nabi berperan sebagai jembatan penghubung antara Tuhan dan manusia; menyampaikan ajaran-ajaran Tuhan kepada umat dengan memforward bahasa yang digunakan Tuhan kepada manusia. Artinya, Nabi memiliki kemampuan berkomunikasi dalam dua bentuk morfologis dan sintaksis bahasa: bahasa primordialnya sebagai seorang manusia biasa, dan juga bahasa Tuhan. Rasulullah Muhammad SAW berupaya menyimpan informasi yang diterimanya dengan cara menghafalnya sehingga informasi itu dapat diberikan kembali saat diminta persis sebagaimana ia diterima. Melalui kemampuan daya hafal Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis sehingga tak satupun ayat al-Qur’an yang mengalami distorsi sebagai bukti jaminan Allah tetap melelihara kemurnianya . dapat menjadi sinyal betapa perlunya bantuan teknologi untuk menyamai kemampuan mereka khusus bagi umat yang tidak memiliki daya kognitif seperti mereka.

Dengan adanya bantuan teknologi, maka proses penghafalan Al-Qur’an bisa dipercepat, mudah dan sebagainya. Dalam kajian Psikologi Kognitif, kemampuan ingatan seseorang terbagi kepada tiga jenis yaitu kemampuan menerima, menyimpan dan memunculkan kembali informasi. Ingatan mempunyai pengaruh yang cukup besar terhadap keberhasilan pembelajaran. Semakin baik kemampuan ingatan seseorang, maka semakin banyak informasi yang dapat dia terima, simpan, dan munculkan kembali (Promadi, 2009 :113). Dengan bantuan Teknologi Informasi dan Komunikasi atau ICT, kemampuan menerima, menyimpan, dan memunculkan kembali ini dapat diakselerasi, sehingga lebih efektif dan efisien. Penyimpangan informasi dan pengrusakan selama dalam perjalanan dapat dihindari. Dengan demikian keberhasilan pembelajaran dapat ditingkatkan.

Ketika wahyu Tuhan, terutama yang hanya berbentuk semantik, ditransliterasikan kedalam bahasa manusia menggunakan bentuk morfologis dan sintaksis, terjadilah sesuatu yang tak terhindarkan, yaitu reduksi atas semantik pesan-pesan Tuhan. Sebab, menerjemahkan semantik “bahasa” Tuhan ke dalam bentuk morfologis dan sintaksis bahasa manusia sama halnya dengan: pertama, membatasi semantik yang sebelumnya sebenarnya tidak terbatas; kedua, menyederhanakan semantik yang sebelumnya “melampaui” kesederhanaan; ketiga, mensistematisasikan semantik yang sebelumnya tidak terikat oleh kaidah atau struktur apapun. Jadi, jika terjadi reduksi atas semantik wahyu Tuhan, maka hal itu dapat diterima sebagai suatu hal yang wajar terjadi karena Nabi memang diutus bukan sebagai manusia super yang mampu mengatasi paradoks-paradoks eksistensial (http://islamlib.com/id).

Terdapatnya perbedaan semantik pemahaman ayat-ayat Tuhan oleh kalangan yang berbeda, ketika pesan agama yang diterima Rasulullah diteruskan (forward) kepada manusia lain, dan terjadi pengkodean ulang beberapa kali ke dalam bentuk morfologis dan sintaksis yang berbeda-beda merupakan wujud dari kemungkinan kondisi yang dapat membawa terjadinya reduksi pesan Tuhan yang tak terhindarkan. Perbedaan eksistensial ini memaksa kita menerima konsekuensi bahwa ketika bahasa Yang Transenden (wahyu) ditransformasikan kedalam bahasa yang imanen, maka ketika itu juga ia masuk dalam sebuah “wilayah” yang memandang diferensiasi sebagai sebuah keniscayaan. Dengan kata lain, wahyu akan dipahami dalam cara yang berbeda, sesuai dengan karakteristik “bahasa” masing-masing manusia. Pada tataran yang lebih radikal, semantik wahyu Tuhan akan diinterpretasikan se-plural “bahasa” manusia. “Bahasa” dalam hal ini, bukan hanya dalam pengertian leksikal semata, juga mencakup di dalamnya persolan konteks. Konteks yang kemudian mempengaruhi cara pandang seseorang. Karena itu, konteks yang berbeda akan menghasilkan penafsiran semantis yang berbeda pula atas satu wahyu. Pada titik ini, bahasa Tuhan yang sebelumnya monolitik, kemudian tampil dalam keanekaragaman bentuk dan pemahamannya. Bahkan, tidak menutup kemungkinan akan terjadinya kontradiksi pemahaman.

Disinilah terlihat betapa Teknologi Informasi dan Komunikasi memainkan peranan yang sangat penting dalam membantu manusia mengolah pesan, menyimpan dan memunculkannya kembali saat diminta guna menghindari distorsi dan reduksi semantik. Salah satu bentuk sinyal Teknologi Informasi dan Komunikasi terawal dalam Islam adalah proses saving data dengan cara menghafal ayat-ayat yang diturunkan secara periodik kepada Muhammad SAW dengan metode manual. Proses ini sebenarnya merupakan sinyal akan kebutuhan TIK yang lebih canggih di kemudian hari, sebagai pengembangan teknik menghafal menggunakan multimedia.

Dalam kaitannya dengan wahyu yang diterima para Nabi inilah, problem bahasa muncul. Bagaimana tidak, Tuhan dan Nabi secara eksistensial berada dalam sebuah ranah yang berbeda: Tuhan terlingkupi oleh transendensinya, sedangkan manusia dibatasi oleh imanensinya. Konsekuensinya, jika yang satu mencoba berkomunikasi dengan yang lainnya untuk menyampaikan informasi, maka problem bahasa menjadi hambatan terbesar karena perbedaan simbol dan kode yang berbeda antara dua bahasa yang berbeda. Sehingga bahasa yang satu tidak dapat dicerna oleh yang lainnya. Selain itu, problem ini hanya dapat diatasi, terutama dalam pandangan Sufi dan umat Kristiani, jika entitas yang satu mencoba untuk berfusi atau meleburkan diri dalam cara “ber-ada” entitas yang lainnya. Dengan kata lain, yang transenden menjelma menjadi yang imanen, atau sebaliknya. Ketika al-Hallaj mengatakan “Ana al-Haq” tidak dapat diterima kalangan Muslim saat itu karena perbedaan antara semantik yang mereka pahami dari simbol bahasa yang digunakan Al-Hallaj ketika proses decode dan semantik yang ingin disampaikan Al-Hallaj dan simbol bahasa yang digunakan mereka saat proses encode semanti dari Al-Hallaj. Oleh karena komunikasi merupakan pertukaran makna di antara beberapa orang dengan menggunakan sistem tanda yang umum (“the exchange of meanings between individuals through a common system of symbol”) (Seiler, 2002:5), maka paling tidak, kedua belah pihak harus saling mengerti kode yang digunakan, karena komunikasi tidak akan wujud kalau kedua belah pihak saling tidak memahami kode bahasa yang digunakan. Dalam kasus Al-Hallaj, perbedaan semantik “Ana al-Haq” antara Al-Hallaj dan Maum Muslimin kemungkinan tidak menemukan titik temu, dan differensiasi telah mencatat sejarah duka dalam perkembangan mistik Islam.

Melalui Malaikat Jibril, proses peleburan bahasa dapat terjadi sehingga antara Jibril dan Rasulullah SAW terjadi komunikasi, karena Jibril menggunakan simbol-simbol dan kode bahasa yang digunakan Rasul. Kemudian Rasulullah SAW mempresentasikan dan mensosialisasikan ajaran-ajaran Allah melalui bahasanya yang sekaligus bahasa yang dipahami umatnya . Ini membuktikan bahwa Allah memang tidak pernah mengutus utusanNya kecuali yang menguasai bahasa kaum yang bersangkutan, agar informasi yang diberikan jelas dan komunikatif . Dalam komunikasi, kedua belah pihak harus saling mengerti kode, tiada komunikasi kalau saling tidak memahami kode. Komunikasi yang efektif terjadi apabila kedua belah pihak mengerti tanda dan sistem masing-masing, komunikasi akan sukar terjadi apabila kedua belah pihak menggunakan sistem atau kode (morfologis, sintaksis dan semantik) yang berbeda.

Ketika Jibril meminta Muhammad SAW membaca pesan pertama Allah yang beliau bawa berbentuk teks, Muhammad SAW selaku seorang yang tidak pernah mempelajari dan tidak memiliki pengetahuan tentang representasi sinyal-sinyal grafis terhadap fonologis walaupun terhadap Bahasa Arab yang merupakan bahasa ibu bagi beliau, menolak untuk membaca dan dengan jujur mengakui keterbatasan pengetahuan kognitifnya dengan mengatakan “Ma Ana bi Qori’ . Bahkan sampai tiga kali diminta membaca, beliau tetap saja tidak melakukannya. Penolakan Rasulullah SAW untuk membaca ternyata membuahkan hasil terhindarnya distorsi komunikasi. Selain itu terciptalah efektifitas komunikasi, karena keefektifan komunikasi ditentukan oleh kemampuan seseorang mengenal tanda-tanda daripada seseorang, mengetahui bagaimana tanda-tanda itu digunakan dan memahami maksudnya (DeVITO, 1993:13). Meskipun Al-Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab, akan tetapi apabila seseorang tidak mengerti simbol-simbol grafis yang merepresentasikan fonologisnya, maka tidak akan terjadi komunikasi.

Setelah gagal melakukan transaksi komunikasi melalui media teks, Jibril mengubah pesan teks menjadi pesan audio yang dibacakannya langsung kepada Muhammad SAW. Kata pertama ‘Iqro’ diterima Rasulullah SAW, melalui ketrampilan mendengar terhadap informasi yang disampaikan oleh Jibril dalam Bahasa Arab. Sistim informasi yang berlangsung kala itu adalah dalam bentuk face to face antara Jibril dan Muhammad SAW.

Berbicara tentang sinyal visual yang diterima Rasulullah SAW beberapa saat setelah beliau kembali dari Isra’, satu perjalanan malam yang jauh yang dari dan kembali ke Masjid al-Haram melalui Masjidil Aqsa dan Sidrat al-Muntaha, adalah berupa video Masjid al-Aqsa. Dengan sistem informasi berupa penayangan bentuk fisik Masjid al-Aqsa kepada Muhammad SAW, telah membantu beliau menjelaskan setiap karakteristik masjid tersebut yang ditanyakan kaum Qurays sebagai respon atas ketidakpercayaan mereka akan peristiwa Isra’.

Bentuk pesan lain yang menarik ketika Isra’ adalah gambar animasi tentang peristiwa yang bakal dialami umat manusia di akhirat kelak, sebagai gambaran balasan atau ganjaran atas aktifitas yang dilakukannya selama di dunia. Peristiwa yang diperlihatkan dalam bentuk gambar bergerak, seperti orang yang sedang memukul-mukul kepalanya sendiri, merupakan gambaran balasan atau hukuman yang bakal diterima. Gambar animasi itu adalah proyeksi futuristis tentang akibat pelanggaran hukum Allah dan sebagai sinyal diperlukannya teknologi kreatif dalam menyampaikan informasi agar akurat dan tidak mengalami perubahan bahkan penyimpangan.

Peta perjalanan komunikasi religius, kalau boleh dikatakan teknologi informasi dan komunikasi kewahyuan, berawal dari (1) Allah melalui pengkodean (encode) atau pemberian simbol terhadap bahasa Tuhan menjadi bahasa manusia kepada Jibril sebagai penyampai pesan. Kemudian (2) Jibril melakukan pengkodean kembali (decode) terhadap pesan yang diterimanya sehingga dia memahami dengan benar dan tepat isi pesan sebelum dia sampaikan ke Muhammad SAW. Ketika (3) Jibril hendak menyampaikan pesan Tuhan kepada Muhammad SAW, dia melakukan pengkodean kembali (encode) pesan yang akan disampaikannya. Ketika (4) Muhammad SAW menerima wahyu, beliaupun melakukan pengkodean (decode) sehingga dia bisa menerima isi pesan persis sebagaimana yang dikehendaki Tuhan tanpa adanya distorsi informasi. Tidak hanya sampai disitu, ketika (5) Muhammad SAW mensosialisasikan pesan-pesan agama kepada pengikutnya, beliau mengadakan pengkodean kembali (encode) secara audio terhadap apa yang beliau terima sebelumnya dari Jibril kedalam bahasa para pengikutnya yaitu Bahasa Arab. Para (6) pengikut beliau kemudian melakukan pengkodean ulang (decode) sehingga apa yang mereka pahami dari Rasulullah SAW, juga persis sama dengan informasi awal yang diterima Jibril dari Allah. Hasil tangkapan mereka, (7) dikodekan kembali (encode) dalam bentuk sinyal teks di berbagai media tradisional yang tersedia saat itu, termasuk tulang-belulang, pelepah kurma dan sebagainya. Kemudian (8) dikodekan (decode) belakangan oleh sahabat-sahabat beliau yang kemudian (9) dikodekan lagi (encode) untuk dibukukan di zaman Usman ibn Affan.

Begitulah seterusnya proses encode dan decode berlangsung hingga pesan Tuhan sampai kepada kita para pengikut Muhammad SAW di abad 21 melalui jalur informasi yang sangat panjang menggunakan teknologi informatika yang beragam mulai dari yang paling simpel manual-tradisional sampai perangkat multimedia terkini yang paling canggih dan kompleks. Kini pesan Allah itu sudah menyebar luas ke berbagai wilayah di seluruh penjuru dunia dan disebarkan dalam berbagai bahasa asing, dan melalui berbagai media baik teks, audio, video oleh percetakan Mushaf Al-Qur’an secara besar-besaran di kota Madinah al-Munawwarah dan percetakan lokal di berbagai negara.

Sistim Informasi dalam bentuk teks, grafis, audio, visual dan animasi yang dialami Rasulullah SAW, ketika (i) menerima wahyu pertama, (ii) saat menjalani perjalanan Isra’, dan (iii) ketika baru saja kembali dari Isra’, akhirnya menjadi trend kehidupan manusia abad ini dengan mendapat sentuhan teknologi kreatif. Meskipun teknologi kreatif ini bukan hasil kajian yang intensif terhadap sinyal-sinyal teknologi informatika dari kehidupan dan pengalaman Rasulullah SAW tersebut. Bahkan penggagas, penemu, serta pemain di sektor ini mayoritas bukan dari kalangan Muslim sendiri. Walaubagaimanapun, sistem informasi ini mampu direkonstruksi, diaktualisasikan dan digunakan untuk kemudahan hidup modern di berbagai sektor, termasuk sektor pendidikan.

Sesuai perjalanan waktu dan perkembangan kemajuan teknologi kreatif yang semakin canggih, dengan bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diilhamkan Allah kepada manusia, belakangan ini, ditemukan berbagai konsep yang tertuang dalam teknik informatika untuk membantu mempermudah manusia berkomunikasi dan mengirim informasi dengan lebih akurat, efektif dan efisien.

Dari paparan di atas, dapat dipahami bahwa ICT sudah digambarkan sejak masa-masa awal kemunculan agama Islam dan diikuti pada proses perjalanan kehidupan Rasulullah SAW terutama ketika menjalani proses pembelajaran konsep-konsep agama Islam saat menerima wahyu. Beberapa sinyal teknologi kreatif tentang pelahiran ICT di kemudian hari merupakan tonggak kekuatan agama ini yang perlu dikaji dan dikembangkan oleh umatnya. Dengan demikian kaum Muslim hari ini tidak hanya sebagai pengguna ICT, tapi sebagai penemu dan pencipta teknologi kreatif untuk pemajuan Islam dan Kaum Muslim dalam tataran global. Umat Islam diharapkan menjadi umat yang maju karena memanfaatkan ajaran Islam, dan tidak lagi sebagai umat yang tertinggal karena meninggalkan ajaran agamanya.

Pesan-pesan Religius dan Isyarat Teknologi Multimedia Interaktif

Allah, yang eksistensinya dalam perspektif kaum sufi jauh dan dekat secara terintegral, merupakan sosok virtual yang dapat didekati bila diadakan upaya kontak komunikasi zikir antara manusia denganNya. Sebaliknya, betapa Dia akan terasa sangat jauh bila ketiadaan komunikasi, meskipun Dia ada di sekitar kita. Konsep Ihsān, yang menganjurkan agar seorang Muslim beribadah sambil membayangkan bahwa seolah-olah dia melihat Allah dan jika dia tidak mampu melihatNya, cukup meyakini bahwa saat itu Allah melihatnya , juga merupakan isyarat sains informatika tentang betapa “dekat” dan mudahnya berkomunikasi dengan Allah. Tugas manusialah berupaya memilih dan menentukan teknik bagaimana berkomunikasi denganNya yang tidak jauh itu. Allah juga mensosialisasikan konsep “Ud’uni astajib lakum” untuk menunjukkan betapa Dia tidak “jauh” dari ummat. Dengan pemberitahuan bahwa Dia akan merespon setiap pemintaan atau do’a hambaNya, menunjukkan bahwa Dia begitu mudah dihubungi melalui jalur komunikasi religius.

Beberapa ayat Al-Qur’an memberikan isyarat sains dan teknologi informatika yang kemudian dapat diterapkan dalam dunia pendidikan. Sebagai contoh, ayat Wa nahnu aqrabu ilaihi min hubl al-warid yang menggambarkan betapa dekatnya Allah dengan manusia, bahkan lebih dekat daripada urat leher mereka sendiri, adalah isyarat sains informatika untuk mengatasi jarak lewat media komunikasi. Dengan adanya komunikasi, dua pribadi yang “berjauhan” dan tidak dapat melakukan kotak fisik secara face to face, justru merasa dekat dengan terjadinya komunikasi. Disinilah peran komunikasi jarak jauh (distant communication) dan komunikasi maya (virtual communication) menunjukkan andilnya dalam mendekatkan dua pihak yang berada tidak pada waktu, lokasi, dan situasi yang sama. Persoalannya adalah bagaimana mendekati dan berkomunikasi dengan Allah? Adakah Allah memberikan isyarat tentang teknologi komunikasi dan informasi terutama bila mengadakan komunikasi interaktif denganNya? Apa alat bantu komunikasi virtual denganNya?

Isyarat dari Al-Qur’an tentang peran bantuan media informasi dan komunikasi, sekarang lebih populer ICT, dalam kaitannya dengan pendidikan sudah tersirat dalam QS. Al-Alaq: 4-5 sbb: Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam, Dia mengajari manusia apa yang tidak diketahuinya.

Dalam ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia mengajar manusia, atau menyampaikan informasi yang berisi pesan-pesan pendidikan, dengan perantaraan media tulis baca atau media teks.

Isyarat lain dalam Islam tentang Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah sebuah hadits, dimana Rasulullah SAW memberikan instruksi untuk menyampaikan pesan-pesan Islam kepada sesama meskipun dalam kuantitas yang sangat minim, satu kalimat . Sangat disayangkan apabila satu kalimat ini disampaikan hanya terbatas kepada satu individu, padahal Hadis ini hanya membatasi batas minimal pesan dan bukan audien. Oleh karenanya, sangat memungkinkan pesan yang terbatas ini disampaikan kepada audien yang tidak terbatas, baik pada tataran geografis, waktu, situasi dan kondisi, serta media baik media komunikasi sinkroni maupun asinkroni. Untuk mencapai kuantitas yang memuaskan, seorang Muslim harus berupaya sedemikian rupa menyampaikan ke sesama Muslim sebanyak-banyaknya tanpa adanya limitasi. Hadis ini juga tidak membatasi secara spesifik teknik yang digunakan dalam penyampaian, mulai dari teknologi manual-tradisional sampai ke teknologi canggih-multimedia. Ketiadaan penentuan bentuk komunikasi dalam penyebaran informasi ini, memberikan peluang kepada umat untuk menciptakan teknologi kreatif sistim informatika. Akan tetapi satu rambu-rambu perlu diperhatikan agar penyampaian informasi disesuaikan dengan calon penerimam pesan. Bahkan Rasulullah SAW memberikan petunjuk psikologis agar pesan yang disampaikan efektif. Ungkapan Rasulullah SAW “Khatibu al-nas calā qadri ‘uqūlihim”, adalah bimbingan Rasulullah agar penyampaian informasi berlangsung efektif dengan mempertimbangkan karakteristik audien, dari berbagai latar belakang sosial terutama aspek kognisi.

Secara keseluruhan, bentuk ICT grafis, audio, visual, dan multimedia yang digunakan Jibril dalam proses presentasi ajaran Islam kepada Rasulullah SAW dapat dikembangkan dengan menggunakan integrasi Teknologi Informasi dan Komunikasi terkini untuk proses pembelajaran dalam upaya pencapaian tujuan pendidikan Islam yang lebih efektif, efisien dan menarik.