<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>REFLEKSI KEHIDUPAN</title>
	<atom:link href="http://refleksi.alfisatria.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://refleksi.alfisatria.com</link>
	<description>Berusaha Memahami Arti Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Wed, 24 Nov 2010 02:15:38 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0.1</generator>
		<item>
		<title>Penelitian Ilmiah Reinkarnasi Kehidupan</title>
		<link>http://refleksi.alfisatria.com/penelitian-ilmiah-reinkarnasi-kehidupan</link>
		<comments>http://refleksi.alfisatria.com/penelitian-ilmiah-reinkarnasi-kehidupan#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 10 Nov 2010 02:08:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reinkarnasi]]></category>
		<category><![CDATA[cenayang]]></category>
		<category><![CDATA[Edgar Cayce]]></category>
		<category><![CDATA[Gina Cerminara]]></category>
		<category><![CDATA[karma]]></category>
		<category><![CDATA[masa lalu]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[reinkarnasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://refleksi.alfisatria.com/?p=44</guid>
		<description><![CDATA[Memahami Edgar Cayce Menembus Masa Lalu Erabaru News Gejala reinkarnasi kehidupan merupakan dunia penelitian yang sedang populer saat ini pada banyak kalangan ilmuwan Barat. Banyak sekali manusia di dunia, khususnya anak-anak, tanpa sengaja ataupun secara kebetulan mendapati dirinya bisa mengingat kembali kehidupan mereka sebelumnya, dan mengenai gambaran perinciannya sangat nyata dan dapat dipercaya. Dalam artikel [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Memahami Edgar Cayce Menembus Masa Lalu </strong></p>
<p><a href="http://erabaru.net" target="_blank">Erabaru News</a></p>
<p>Gejala reinkarnasi kehidupan merupakan dunia penelitian yang sedang populer saat ini pada banyak kalangan ilmuwan Barat. Banyak sekali manusia di dunia, khususnya anak-anak, tanpa sengaja ataupun secara kebetulan mendapati dirinya bisa mengingat kembali kehidupan mereka sebelumnya, dan mengenai gambaran perinciannya sangat nyata dan dapat dipercaya. Dalam artikel ini akan diperkenalkan monograf reinkarnasi kehidupan yang ditulis oleh Doktor <a href="http://en.wikipedia.org/wiki/Gina_Cerminara" target="_blank">Gina Cerminara </a>setelah melalui penelitian yang panjang.</p>
<p><span id="more-44"></span>Bangsa China sering mengatakan bahwa seseorang yang memiliki keberuntungan atau nasib baik adalah diperoleh dari kebajikan atau amalnya pada kehidupan sebelumnya, sedangkan yang nasibnya malang adalah akibat karma yang ditimbulkan pada kehidupan sebelumnya. Di dalam sebuah buku &#8220;Many Mansions&#8221;, Doktor Gina Cerminara melalui contoh peristiwa reinkarnasi membeberkan karma kehidupan sebelumnya dengan kesehatan kehidupan sekarang dan hubungannya dengan kehidupan manusia, telah membuktikan hubungan yang erat pada pandangan tentang reinkarnasi dan karma yang beredar di masyarakat dari generasi ke generasi.</p>
<p>Pandangan yang terdapat dalam buku dengan pengalaman kuno Bangsa China secara kebetulan memiliki pandangan yang sama bahwa karma pada kehidupan sebelumnya adalah sumber penderitaan kehidupan sekarang dan nasib malang, semua penuturan ini bukan hanya mendidik orang untuk belajar disiplin berbuat baik, namun memiliki hubungan sebab akibat nyata di dalamnya.</p>
<p>Edisi pertama buku &#8220;<strong>Many Mansions</strong>&#8221; Gina Cerminara diterbitakan pada tahun 1995. Menurut pernyataan Morey Bernstein, bahwa buku ini pernah mendorongnya memasuki penelitian terhadap reinkarnasi. Karya terkenal Bernstein, The Search for Bridey Murphy, pada tahun 1956 dapat dikategorikan sebagai jalan masuk sesudahnya hingga sekarang untuk membangkitkan penelitian reinkarnasi.</p>
<p>&#8220;Many Mansions&#8221; berhasil disusun oleh Geenha Sheminnala dari basis dokumen Edgar Cayce dalam wacana reinkarnasinya. Adalah merupakan sebuah buku referensi berharga yang telah dikumpulkan untuk penelitian reikarnasi. Edgar Cayce adalah seorang cenayang yang mana dalam kondisi terhipnotis, dia bisa melakukan diagnosis penyembuhan penyakit pada penderita di luar jarak ribuan Li (satuan ukuran panjang Tiongkok, 1 Li = 500 M). Doktor Gina Cerminara mengisahkan tentang bagaimana Cayce menembus lorong waktunya, menguraikan sumber sebab akibat pada kehidupan sebelumnya, melakukan penentuan diagnosa yang sulit dipercaya.</p>
<p>Pengobatan terhadap gadis kecil bernama Shalma Alabama adalah sebuah contoh kasus menonjol Cayce engan menggunakan fungsi mata seribu Li-nya yang gaib (kemampuan clairvoyance). Shalma sama sekali telah kehilangan fungsi kesadaran dan pemikirannya, dimasukkan ke rumah sakit jiwa, dan dokter tidak bisa menemukan sebab musababnya. Kakaknya kemudian minta pertolongan Cayce. Cayce berbaring diatas kursi tidur, masuk dalam kondisi terhipnotis dan melakukan diagnosa terhadap gadis kecil. Dia bagaikan sebuah mesin Sinar-X, melihat dengan jelas daerah penyakit yang diderita oleh gadis kecil itu. Sebuah geraham sumsumnya dan diantara sebuah giginya yang lain, menghimpit sebuah saraf, jika saja gigi itu dicabut, dan setelah tekanannya hilang, maka akan normal kembali dengan cepat. Dokter melakukan operasi rongga mulut pada posisi menurut apa yang dilukiskan olehnya, dan Si gadis kecil kemudian sehat kembali. Namun yang paling ajaib adalah pada keseluruhan proses tersebut, Cayce tidak perlu menemui penderita tersebut secara individu, dalam keadaan terhipnotis, di luar jangkauan ribuan Li, Cayce bisa melakukan diagnosa dan pengobatan terhadap penderita.</p>
<p>Sebuah contoh kasus lain yang menonjol adalah seorang bayi premature di Kentucky, AS, saat 4 bulan setelah lahir menderita suatu penyakit kejang klonus parah, semua Dokter mengatakan bahwa dia tidak akan lama bertahan hidup. Dalam keputusasaan, Ibunya mohon pertolongan Cayce. Dalam keadaan terhipnotis, Cayce mendiagnosis kejang klonus bayi tersebut adalah akibat penggunaan yang over dosis pada semacam obat, dan bisa melalui penggunaan semacam penawar racun untuk menguranginya. Dengan tidak menghiraukan pertentangan para dokter, Ibu dari bayi tersebut bersikeras menuruti anjurannya. Cayce memberikan penawar racun dengan dosis maksimum pada bayi, hasilnya penyakit kejang klonus nyaris terhenti, panasnya juga telah menurun, dan bayi tersebut juga tertolong.</p>
<p>Meskipun Cayce sama sekali buta akan ilmu kedokteran, dan juga tidak pernah membaca buku anatomi, namun dalam keadaan terhipnotis dia bisa menggunakan istilah anatomi dan medis untuk melakukan diagnosa, dan hasil diagnosanya sangat tepat. Hasil pengobatan menunjukkan dia juga telah menyembuhkan epilepsy (ayan) seorang uskup Kanada, radang sendi parah yang diderita oleh seorang siswa SMU, dan menyembuhkan sakit kepala migran dokter gigi di New Yor khingga dua tahun lamanya. Juga telah menyembuhkan seorang musisi dari Kentucky yang diagnosis oleh pakar kedokteran terserang suatu jenis penyakit aneh yang tak terobati, dan malah telah membantu menyembuhkan penglihatan seorang lelaki penderita Glaukoma. Semua contoh peristiwa hidup dalam jumlah banyak dan gaib ini membuat Cayce dinobatkan sebagai cenayang Amerika yang paling hebat.</p>
<p>Fungsi kemampuan pandangan jauh Cayce tidak hanya bisa menjangkau diluar ribuan Li, malah kemampuannya bisa secara langsung memeriksa banyak materi di luar tubuh manusia, bisa melihat hubungan antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam semesta dan perjalanan nasib manusia, bahkan hubungan manusia pada kehidupan sebelumnya dengan kehidupan sekarang. Cayce menganggap bahwa nasib malang dan penderitaan manusia pada kehidupan sekarang mempunyai hubungan sebab-akibat yang terjalin dengan karma pada kehidupan sebelumnya, dengan demikian bisa mencari sumbernya dari kehidupan terdahulu.</p>
<p>Karma jasmani manusia dalam buku ini digolongkan dalam 3 jenis; Pertama adalah <strong>Boomerang Karma</strong>. Seorang professor yang buta matanya, melalui penguraian pengingatan kembali menjelaskan bahwa dia memiliki pengalaman sebanyak 4 kali reinkarnasi. Satu kali diantaranya adalah pada suatu masa, dia adalah seorang anggota suku tak beradab, pekerjaannya adalah menyepuh mata musuh hingga buta dengan menggunakan solder besi panas. Dan oleh karena itu, dalam kehidupannya sekarang, dia harus menerima penderitaan kebutaan pada matanya sejak lahir.</p>
<p>Sedangkan yang kedua adalah <strong>Organismic Karma</strong>. Ini adalah dikarenakan penggunaan suatu organ tertentu secara sewenang-wenang pada suatu kehidupan sebelumnya dan mengakibatkan balasan pathogen dari organismic tersebut. Seorang lelaki yang berusia 35 tahun, sejak kanak-kanak daya pencernaannya sangat lemah, perlu beberapa jam lamanya hanya untuk mencernakan sepotong daging saja. Mengakibatkan kehidupan sehari-harinya terasa sangat mengganggu. Cayce menemukan bahwa orang tersebut pada masa Perancis di bawah kekuasaan Louis ke 13 adalah seorang pengawal istana kaisar, sangat setia dan penuh tanggung jawab dalam tugasnya, namun hobinya makan. Kemudian saat pada suatu kehidupan menjabat sebagai dokter kerajaan di sebuah istana juga seorang ahli masak. Dikarenakan terlalu tak berdisiplin dalam hal makanan pada kedua kehidupan ini, mengakibatkan kesulitan pencernaan makanan pada kehidupannya sekarang, diperlukan pembatasan timbal balik untuk menutupinya.</p>
<p>Ketiga adalah <strong>Symbolic Karma</strong>. Salah satu tipe contoh kasusnya adalah tentang seorang remaja yang kekurangan darah sejak kanak-kanak, semua terapi pengobatan tidak menghasilkan efek yang berguna. Ternyata sebelum di lima kehidupan sebelumnya dimana saat Dia pernah menjadi penguasa di Peru, sikapnya sangat sadis dan kejam, meyakini kepercayaannya dengan melakukan pertumpahan darah di mana-mana, yang dengan demikian mengakibatkan dirinya kekurangan darah pada kehidupan sekarang. Contoh kasus pengobatan Cayce, telah memperlihatkan karma seumur hidup terhadap efek penentuan pada nasib kehidupan sekarang.</p>
<p>Doktor Cerminara menggunakan waktu 20 tahun untuk melakukan analisa dan penelitian yang seksama terhadap penemuan Cayce, dan salah satu kesimpulan yang diperolehnya adalah bahwa setiap roh tidak hanya hidup sekali, namun bisa hidup secara berulang kali.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://refleksi.alfisatria.com/penelitian-ilmiah-reinkarnasi-kehidupan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>INTEGRASI ICT DALAM PENDIDIKAN ISLAM: Suatu Alternatif Pendekatan Pembelajaran Masa Depan</title>
		<link>http://refleksi.alfisatria.com/integrasi-ict-dalam-pendidikan-islam-suatu-alternatif-pendekatan-pembelajaran-masa-depan</link>
		<comments>http://refleksi.alfisatria.com/integrasi-ict-dalam-pendidikan-islam-suatu-alternatif-pendekatan-pembelajaran-masa-depan#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 08 Nov 2010 15:57:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Ketuhanan]]></category>
		<category><![CDATA[Teknologi Informasi]]></category>
		<category><![CDATA[ICT]]></category>
		<category><![CDATA[paradoks]]></category>
		<category><![CDATA[teknologi informasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://refleksi.alfisatria.com/?p=41</guid>
		<description><![CDATA[oleh Drs. Promadi, M.A., Ph.D, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sultan Syarif Kasim Riau &#8230; ICT dalam Pendidikan Menurut Perspektif Islam Pesan pertama agama Islam yang diajarkan Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW melalui malaikat Jibril merupakan model awal komunikasi pembelajaran dalam konteks Pendidikan Islam. Komunikasi pembelajaran pada tahap ini berlangsung secara manual-tradisional tanpa sentuhan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh <strong>Drs. Promadi, M.A., Ph.D</strong>, Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sultan Syarif Kasim Riau</p>
<p>&#8230;</p>
<p><span style="font-weight: bold;">ICT dalam Pendidikan Menurut Perspektif Islam</span></p>
<p>Pesan  pertama agama Islam yang diajarkan Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW   melalui malaikat Jibril merupakan model awal komunikasi pembelajaran  dalam konteks Pendidikan Islam. Komunikasi pembelajaran pada tahap ini  berlangsung secara manual-tradisional tanpa sentuhan teknologi kreatif,  terutama teknologi komunikasi. Nabi, sebagai seorang yang dinobatkan  Tuhan sebagai juru bicaraNya, dan melalui mereka Tuhan berkomunikasi  dengan manusia menggunakan bentuk morfologis, sintaksis, dan semantik  bahasa manusia , membawa tugas untuk menyampaikan risalah Tuhan berupa  wahyu.</p>
<p><span id="more-41"></span>Dengan kata lain, Nabi berperan sebagai jembatan penghubung  antara Tuhan dan manusia; menyampaikan ajaran-ajaran Tuhan kepada umat  dengan memforward bahasa yang digunakan Tuhan kepada manusia. Artinya,  Nabi memiliki kemampuan berkomunikasi dalam dua bentuk morfologis dan  sintaksis bahasa: bahasa primordialnya sebagai seorang manusia biasa,  dan juga bahasa Tuhan. Rasulullah Muhammad SAW berupaya menyimpan  informasi yang diterimanya dengan cara menghafalnya sehingga informasi  itu dapat diberikan kembali saat diminta persis sebagaimana ia diterima.  Melalui kemampuan daya hafal Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya  terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis sehingga tak satupun ayat  al-Qur’an yang mengalami distorsi sebagai bukti jaminan Allah tetap  melelihara kemurnianya . dapat menjadi sinyal betapa perlunya bantuan  teknologi untuk menyamai kemampuan mereka khusus bagi umat yang tidak  memiliki daya kognitif seperti mereka.</p>
<p>Dengan adanya bantuan  teknologi, maka proses  penghafalan Al-Qur’an bisa dipercepat, mudah dan  sebagainya. Dalam kajian Psikologi Kognitif, kemampuan ingatan  seseorang terbagi kepada tiga jenis yaitu kemampuan menerima, menyimpan  dan memunculkan kembali informasi. Ingatan mempunyai pengaruh yang cukup  besar terhadap keberhasilan pembelajaran. Semakin baik kemampuan  ingatan seseorang, maka semakin banyak informasi yang dapat dia terima,  simpan, dan munculkan kembali (Promadi, 2009 :113). Dengan bantuan  Teknologi Informasi dan Komunikasi atau ICT, kemampuan menerima,  menyimpan, dan memunculkan kembali ini dapat diakselerasi, sehingga  lebih efektif dan efisien. Penyimpangan informasi dan pengrusakan selama  dalam perjalanan dapat dihindari. Dengan demikian keberhasilan  pembelajaran dapat ditingkatkan.</p>
<p>Ketika wahyu Tuhan, terutama  yang hanya berbentuk semantik, ditransliterasikan kedalam bahasa manusia  menggunakan bentuk morfologis dan sintaksis, terjadilah sesuatu yang  tak terhindarkan, yaitu reduksi atas semantik pesan-pesan Tuhan. Sebab,  menerjemahkan semantik “bahasa” Tuhan ke dalam bentuk morfologis dan  sintaksis bahasa manusia sama halnya dengan: pertama, membatasi semantik  yang sebelumnya sebenarnya tidak terbatas; kedua, menyederhanakan  semantik yang sebelumnya “melampaui” kesederhanaan; ketiga,  mensistematisasikan semantik yang sebelumnya tidak terikat oleh kaidah  atau struktur apapun. Jadi, jika terjadi reduksi atas semantik wahyu  Tuhan, maka hal itu dapat diterima sebagai suatu hal yang wajar terjadi  karena Nabi memang diutus bukan sebagai manusia super yang mampu  mengatasi paradoks-paradoks eksistensial (http://islamlib.com/id).</p>
<p>Terdapatnya  perbedaan semantik pemahaman ayat-ayat Tuhan oleh kalangan yang  berbeda, ketika pesan agama yang diterima Rasulullah  diteruskan  (forward) kepada manusia lain, dan terjadi pengkodean ulang beberapa  kali ke dalam bentuk morfologis dan sintaksis yang berbeda-beda  merupakan wujud dari kemungkinan kondisi yang dapat membawa terjadinya  reduksi pesan Tuhan yang tak terhindarkan. Perbedaan eksistensial ini  memaksa kita menerima konsekuensi bahwa ketika bahasa Yang Transenden  (wahyu) ditransformasikan kedalam bahasa yang imanen, maka ketika itu  juga ia masuk dalam sebuah “wilayah” yang memandang diferensiasi sebagai  sebuah keniscayaan. Dengan kata lain, wahyu akan dipahami dalam cara  yang berbeda, sesuai dengan karakteristik “bahasa” masing-masing  manusia. Pada tataran yang lebih radikal, semantik wahyu Tuhan akan  diinterpretasikan se-plural “bahasa” manusia. “Bahasa” dalam hal ini,  bukan hanya dalam pengertian leksikal semata, juga mencakup di dalamnya  persolan konteks. Konteks yang kemudian mempengaruhi cara pandang  seseorang. Karena itu, konteks yang berbeda akan menghasilkan penafsiran  semantis yang berbeda pula atas satu wahyu. Pada titik ini, bahasa  Tuhan yang sebelumnya monolitik, kemudian tampil dalam keanekaragaman  bentuk dan pemahamannya. Bahkan, tidak menutup kemungkinan akan  terjadinya kontradiksi pemahaman.</p>
<p>Disinilah terlihat betapa  Teknologi Informasi dan Komunikasi memainkan peranan yang sangat penting  dalam membantu manusia mengolah pesan, menyimpan dan memunculkannya  kembali saat diminta guna menghindari distorsi dan reduksi semantik.  Salah satu bentuk sinyal Teknologi Informasi dan Komunikasi terawal  dalam Islam adalah proses saving data dengan cara menghafal ayat-ayat  yang diturunkan secara periodik kepada Muhammad SAW dengan metode  manual.  Proses ini sebenarnya merupakan sinyal akan kebutuhan TIK yang  lebih canggih di kemudian hari, sebagai pengembangan teknik menghafal  menggunakan multimedia.</p>
<p>Dalam kaitannya dengan wahyu yang  diterima para Nabi inilah, problem bahasa muncul. Bagaimana tidak, Tuhan  dan Nabi secara eksistensial berada dalam sebuah ranah yang berbeda:  Tuhan terlingkupi oleh transendensinya, sedangkan manusia dibatasi oleh  imanensinya. Konsekuensinya, jika yang satu mencoba berkomunikasi dengan  yang lainnya untuk menyampaikan informasi, maka problem bahasa menjadi  hambatan terbesar karena perbedaan simbol dan kode yang berbeda antara  dua bahasa yang berbeda. Sehingga bahasa yang satu tidak dapat dicerna  oleh yang lainnya. Selain itu, problem ini hanya dapat diatasi, terutama  dalam pandangan Sufi dan umat Kristiani, jika entitas yang satu mencoba  untuk berfusi atau meleburkan diri dalam cara “ber-ada” entitas yang  lainnya. Dengan kata lain, yang transenden menjelma menjadi yang imanen,  atau sebaliknya. Ketika al-Hallaj mengatakan “Ana al-Haq” tidak dapat  diterima kalangan Muslim saat itu karena perbedaan antara semantik yang  mereka pahami dari simbol bahasa yang digunakan Al-Hallaj ketika proses  decode dan semantik yang ingin disampaikan Al-Hallaj dan simbol bahasa  yang digunakan mereka saat proses encode semanti dari Al-Hallaj. Oleh  karena komunikasi merupakan pertukaran makna di antara beberapa orang  dengan menggunakan sistem tanda yang umum (“the exchange of meanings  between individuals through a common system of symbol”) (Seiler,  2002:5), maka paling tidak, kedua belah pihak harus saling mengerti kode  yang digunakan, karena komunikasi tidak akan wujud kalau kedua belah  pihak saling tidak memahami kode bahasa yang digunakan. Dalam kasus  Al-Hallaj, perbedaan semantik “Ana al-Haq” antara Al-Hallaj dan Maum  Muslimin kemungkinan tidak menemukan titik temu, dan differensiasi telah  mencatat sejarah duka dalam perkembangan mistik Islam.</p>
<p>Melalui  Malaikat Jibril, proses peleburan bahasa dapat terjadi sehingga antara  Jibril dan Rasulullah SAW terjadi komunikasi, karena Jibril menggunakan  simbol-simbol dan kode bahasa yang digunakan Rasul. Kemudian Rasulullah  SAW mempresentasikan dan mensosialisasikan ajaran-ajaran Allah melalui  bahasanya yang sekaligus bahasa yang dipahami umatnya . Ini membuktikan  bahwa Allah memang tidak pernah mengutus utusanNya kecuali yang  menguasai bahasa kaum yang bersangkutan, agar informasi yang diberikan  jelas dan komunikatif . Dalam komunikasi, kedua belah pihak harus saling  mengerti kode, tiada komunikasi kalau saling tidak memahami kode.  Komunikasi yang efektif terjadi apabila kedua belah pihak mengerti tanda  dan sistem masing-masing, komunikasi akan sukar terjadi apabila kedua  belah pihak  menggunakan sistem atau kode (morfologis, sintaksis dan  semantik) yang berbeda.</p>
<p>Ketika Jibril meminta Muhammad SAW  membaca pesan pertama Allah yang beliau bawa berbentuk teks, Muhammad  SAW selaku seorang yang tidak pernah mempelajari dan tidak memiliki  pengetahuan tentang representasi sinyal-sinyal grafis terhadap fonologis  walaupun terhadap Bahasa Arab yang merupakan bahasa ibu bagi beliau,  menolak untuk membaca dan dengan jujur mengakui keterbatasan pengetahuan  kognitifnya dengan mengatakan “Ma Ana bi Qori’ .  Bahkan sampai tiga  kali diminta membaca, beliau tetap saja tidak melakukannya. Penolakan  Rasulullah SAW untuk membaca ternyata membuahkan hasil terhindarnya  distorsi komunikasi. Selain itu terciptalah  efektifitas komunikasi,  karena keefektifan komunikasi ditentukan oleh kemampuan seseorang  mengenal  tanda-tanda daripada seseorang, mengetahui bagaimana  tanda-tanda itu digunakan dan memahami maksudnya (DeVITO, 1993:13).  Meskipun Al-Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab, akan tetapi apabila  seseorang tidak mengerti simbol-simbol grafis yang merepresentasikan  fonologisnya, maka tidak akan terjadi komunikasi.</p>
<p>Setelah gagal  melakukan transaksi komunikasi melalui media teks, Jibril mengubah pesan  teks menjadi pesan audio yang dibacakannya langsung kepada Muhammad  SAW. Kata pertama ‘Iqro’ diterima Rasulullah SAW, melalui ketrampilan  mendengar terhadap informasi yang disampaikan oleh Jibril dalam Bahasa  Arab. Sistim informasi yang berlangsung kala itu adalah dalam bentuk  face to face antara Jibril dan Muhammad SAW.</p>
<p>Berbicara tentang  sinyal visual yang diterima Rasulullah SAW  beberapa saat setelah beliau  kembali dari Isra’, satu perjalanan malam yang jauh yang dari dan  kembali ke Masjid al-Haram melalui Masjidil Aqsa dan Sidrat al-Muntaha,  adalah berupa video Masjid al-Aqsa. Dengan sistem informasi berupa  penayangan bentuk fisik Masjid al-Aqsa kepada Muhammad SAW, telah  membantu beliau menjelaskan setiap karakteristik masjid tersebut yang  ditanyakan kaum Qurays sebagai respon atas ketidakpercayaan mereka akan  peristiwa Isra’.</p>
<p>Bentuk pesan lain yang menarik ketika Isra’  adalah gambar animasi tentang peristiwa yang bakal dialami umat manusia  di akhirat kelak, sebagai gambaran balasan atau ganjaran atas aktifitas  yang dilakukannya selama di dunia. Peristiwa yang diperlihatkan dalam  bentuk gambar bergerak, seperti orang yang sedang memukul-mukul  kepalanya sendiri, merupakan gambaran balasan atau hukuman yang bakal  diterima. Gambar animasi itu adalah proyeksi futuristis tentang akibat  pelanggaran hukum Allah dan sebagai sinyal diperlukannya teknologi  kreatif dalam menyampaikan informasi agar akurat dan tidak mengalami  perubahan bahkan penyimpangan.</p>
<p>Peta perjalanan komunikasi  religius, kalau boleh dikatakan teknologi informasi dan komunikasi  kewahyuan, berawal dari (1) Allah  melalui pengkodean (encode) atau  pemberian simbol terhadap bahasa Tuhan menjadi bahasa manusia kepada  Jibril sebagai penyampai pesan. Kemudian (2) Jibril melakukan pengkodean  kembali (decode) terhadap pesan yang diterimanya sehingga dia memahami  dengan benar dan tepat isi pesan sebelum dia sampaikan ke Muhammad SAW.  Ketika (3) Jibril hendak menyampaikan pesan Tuhan kepada Muhammad SAW,  dia melakukan pengkodean kembali (encode) pesan yang akan  disampaikannya.  Ketika (4) Muhammad SAW menerima wahyu, beliaupun  melakukan pengkodean (decode) sehingga dia bisa menerima isi pesan  persis sebagaimana yang dikehendaki Tuhan tanpa adanya distorsi  informasi. Tidak hanya sampai disitu, ketika (5) Muhammad SAW  mensosialisasikan pesan-pesan agama kepada pengikutnya, beliau  mengadakan pengkodean kembali (encode) secara audio terhadap apa yang  beliau terima sebelumnya dari Jibril kedalam bahasa para pengikutnya  yaitu Bahasa Arab. Para (6) pengikut beliau kemudian melakukan  pengkodean ulang (decode) sehingga apa yang mereka pahami dari  Rasulullah SAW, juga persis sama dengan informasi awal yang diterima  Jibril dari Allah. Hasil tangkapan mereka, (7) dikodekan kembali  (encode) dalam bentuk sinyal teks di berbagai media tradisional yang  tersedia saat itu, termasuk tulang-belulang, pelepah kurma dan  sebagainya. Kemudian (8) dikodekan (decode) belakangan oleh  sahabat-sahabat beliau yang kemudian (9) dikodekan lagi (encode) untuk  dibukukan di zaman Usman ibn Affan.</p>
<p>Begitulah seterusnya proses  encode dan decode berlangsung hingga pesan Tuhan sampai kepada kita para  pengikut Muhammad SAW di abad 21 melalui jalur informasi yang sangat  panjang menggunakan teknologi informatika yang beragam mulai dari yang  paling simpel manual-tradisional sampai perangkat multimedia terkini  yang paling canggih dan kompleks. Kini pesan Allah itu sudah menyebar  luas ke berbagai wilayah di seluruh penjuru dunia dan disebarkan dalam  berbagai bahasa asing, dan melalui berbagai media baik teks, audio,  video oleh percetakan Mushaf Al-Qur’an secara besar-besaran di kota  Madinah al-Munawwarah dan percetakan lokal di berbagai negara.</p>
<p>Sistim  Informasi dalam bentuk teks, grafis, audio, visual dan animasi yang  dialami Rasulullah SAW, ketika (i) menerima wahyu pertama, (ii) saat  menjalani perjalanan Isra’,  dan (iii) ketika baru saja kembali dari  Isra’, akhirnya menjadi trend kehidupan manusia abad ini dengan mendapat  sentuhan teknologi kreatif. Meskipun teknologi kreatif ini bukan hasil  kajian yang intensif terhadap sinyal-sinyal teknologi informatika dari  kehidupan dan pengalaman Rasulullah SAW  tersebut. Bahkan penggagas,  penemu, serta pemain di sektor ini mayoritas bukan dari kalangan Muslim  sendiri.  Walaubagaimanapun, sistem informasi ini mampu direkonstruksi,  diaktualisasikan dan digunakan untuk kemudahan hidup modern di berbagai  sektor, termasuk sektor pendidikan.</p>
<p>Sesuai perjalanan waktu dan  perkembangan kemajuan teknologi kreatif yang semakin canggih, dengan  bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diilhamkan Allah kepada  manusia,  belakangan ini, ditemukan berbagai konsep yang tertuang dalam  teknik informatika untuk membantu mempermudah manusia berkomunikasi dan  mengirim informasi dengan lebih akurat, efektif dan efisien.</p>
<p>Dari  paparan di atas, dapat dipahami bahwa ICT sudah digambarkan sejak  masa-masa awal kemunculan agama Islam dan diikuti pada proses perjalanan  kehidupan Rasulullah SAW terutama ketika menjalani proses pembelajaran  konsep-konsep agama Islam saat menerima wahyu.  Beberapa sinyal  teknologi kreatif tentang pelahiran ICT di kemudian hari merupakan  tonggak kekuatan agama ini yang perlu dikaji dan dikembangkan oleh  umatnya. Dengan demikian kaum Muslim hari ini tidak hanya sebagai  pengguna ICT, tapi sebagai penemu dan pencipta teknologi kreatif untuk  pemajuan Islam dan Kaum Muslim dalam tataran global. Umat Islam  diharapkan menjadi umat yang  maju karena memanfaatkan ajaran Islam, dan  tidak lagi sebagai umat yang tertinggal karena meninggalkan ajaran  agamanya.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Pesan-pesan Religius dan Isyarat Teknologi Multimedia Interaktif </span></p>
<p>Allah,  yang eksistensinya dalam perspektif kaum sufi jauh dan dekat secara  terintegral, merupakan sosok virtual yang dapat didekati bila diadakan  upaya  kontak komunikasi zikir antara manusia denganNya. Sebaliknya,  betapa Dia akan terasa sangat jauh bila ketiadaan komunikasi, meskipun  Dia ada di sekitar kita. Konsep Ihsān, yang menganjurkan agar seorang  Muslim beribadah sambil membayangkan bahwa seolah-olah dia melihat Allah  dan jika dia tidak mampu melihatNya, cukup meyakini bahwa saat itu  Allah melihatnya , juga merupakan isyarat sains informatika tentang  betapa “dekat” dan mudahnya berkomunikasi dengan Allah. Tugas manusialah  berupaya memilih dan menentukan teknik bagaimana berkomunikasi  denganNya yang tidak jauh itu. Allah juga mensosialisasikan konsep  “Ud’uni astajib lakum” untuk menunjukkan betapa Dia tidak “jauh” dari  ummat. Dengan pemberitahuan bahwa Dia akan merespon setiap pemintaan  atau do’a hambaNya, menunjukkan bahwa Dia begitu mudah dihubungi melalui  jalur komunikasi religius.</p>
<p>Beberapa ayat Al-Qur’an memberikan  isyarat sains dan teknologi informatika yang kemudian dapat diterapkan  dalam dunia pendidikan. Sebagai contoh, ayat Wa nahnu aqrabu ilaihi min  hubl al-warid   yang menggambarkan betapa dekatnya Allah dengan manusia,  bahkan lebih dekat daripada urat leher mereka sendiri, adalah  isyarat  sains informatika untuk mengatasi jarak lewat media komunikasi. Dengan  adanya komunikasi, dua pribadi yang “berjauhan” dan tidak dapat  melakukan kotak fisik secara face to face, justru merasa dekat dengan  terjadinya komunikasi. Disinilah peran komunikasi jarak jauh (distant  communication) dan komunikasi maya (virtual communication) menunjukkan  andilnya dalam mendekatkan dua pihak yang berada tidak pada waktu,  lokasi, dan situasi yang sama. Persoalannya adalah bagaimana mendekati  dan berkomunikasi dengan Allah? Adakah Allah memberikan isyarat tentang  teknologi komunikasi dan informasi terutama bila mengadakan komunikasi  interaktif denganNya? Apa alat bantu komunikasi virtual denganNya?</p>
<p>Isyarat  dari Al-Qur’an tentang peran bantuan media informasi dan komunikasi,  sekarang lebih populer ICT, dalam kaitannya dengan pendidikan sudah  tersirat dalam QS. Al-Alaq: 4-5 sbb: Yang mengajar (manusia) dengan  perantaran kalam, Dia mengajari manusia apa yang tidak diketahuinya.</p>
<p>Dalam  ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia mengajar manusia, atau  menyampaikan informasi yang berisi pesan-pesan pendidikan, dengan  perantaraan media tulis baca atau media teks.</p>
<p>Isyarat lain  dalam Islam tentang Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah sebuah  hadits, dimana Rasulullah SAW memberikan instruksi untuk menyampaikan  pesan-pesan Islam kepada sesama meskipun dalam kuantitas yang sangat  minim, satu kalimat . Sangat disayangkan apabila satu kalimat ini  disampaikan hanya terbatas kepada satu individu, padahal Hadis ini hanya  membatasi batas minimal pesan dan bukan audien. Oleh karenanya, sangat  memungkinkan pesan yang terbatas ini disampaikan kepada audien yang  tidak terbatas, baik pada tataran geografis, waktu, situasi dan kondisi,  serta media baik media komunikasi sinkroni maupun asinkroni. Untuk  mencapai kuantitas yang memuaskan, seorang Muslim harus berupaya  sedemikian rupa menyampaikan ke sesama Muslim sebanyak-banyaknya tanpa  adanya limitasi. Hadis ini juga tidak membatasi secara spesifik teknik  yang digunakan dalam penyampaian, mulai dari teknologi  manual-tradisional sampai ke teknologi canggih-multimedia. Ketiadaan  penentuan bentuk komunikasi dalam penyebaran informasi ini, memberikan  peluang kepada umat untuk menciptakan teknologi kreatif sistim  informatika. Akan tetapi satu rambu-rambu perlu diperhatikan agar  penyampaian informasi disesuaikan dengan calon penerimam pesan. Bahkan  Rasulullah SAW  memberikan petunjuk psikologis agar pesan yang  disampaikan efektif. Ungkapan Rasulullah SAW “Khatibu al-nas calā qadri  ‘uqūlihim”, adalah bimbingan Rasulullah agar penyampaian informasi  berlangsung efektif dengan mempertimbangkan karakteristik audien, dari  berbagai latar belakang sosial terutama aspek kognisi.</p>
<p>Secara  keseluruhan, bentuk ICT grafis, audio, visual, dan multimedia yang  digunakan Jibril dalam proses presentasi ajaran Islam kepada Rasulullah  SAW  dapat dikembangkan dengan menggunakan integrasi Teknologi Informasi  dan Komunikasi terkini untuk proses pembelajaran dalam upaya pencapaian  tujuan pendidikan Islam  yang lebih efektif, efisien dan menarik.</p>
<p>&#8230;.</p>
<p>(Makalah disampaikan pada Kuliah Umum mengawali Semester Ganjil TA  2009/2010 pada Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sultan Syarif Kasim  Riau.  Rabu, 2  September 2009, di Gedung PKM UIN SUSKA RIAU)</p>
<div id="_mcePaste" style="position: absolute; left: -10000px; top: 0px; width: 1px; height: 1px; overflow: hidden;"><span style="font-weight: bold;">ICT dalam Pendidikan Menurut Perspektif Islam</span></p>
<p>Pesan  pertama agama Islam yang diajarkan Allah kepada Rasulullah Muhammad SAW   melalui malaikat Jibril merupakan model awal komunikasi pembelajaran  dalam konteks Pendidikan Islam. Komunikasi pembelajaran pada tahap ini  berlangsung secara manual-tradisional tanpa sentuhan teknologi kreatif,  terutama teknologi komunikasi. Nabi, sebagai seorang yang dinobatkan  Tuhan sebagai juru bicaraNya, dan melalui mereka Tuhan berkomunikasi  dengan manusia menggunakan bentuk morfologis, sintaksis, dan semantik  bahasa manusia , membawa tugas untuk menyampaikan risalah Tuhan berupa  wahyu. Dengan kata lain, Nabi berperan sebagai jembatan penghubung  antara Tuhan dan manusia; menyampaikan ajaran-ajaran Tuhan kepada umat  dengan memforward bahasa yang digunakan Tuhan kepada manusia. Artinya,  Nabi memiliki kemampuan berkomunikasi dalam dua bentuk morfologis dan  sintaksis bahasa: bahasa primordialnya sebagai seorang manusia biasa,  dan juga bahasa Tuhan. Rasulullah Muhammad SAW berupaya menyimpan  informasi yang diterimanya dengan cara menghafalnya sehingga informasi  itu dapat diberikan kembali saat diminta persis sebagaimana ia diterima.  Melalui kemampuan daya hafal Muhammad SAW dan sahabat-sahabatnya  terhadap ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadis sehingga tak satupun ayat  al-Qur’an yang mengalami distorsi sebagai bukti jaminan Allah tetap  melelihara kemurnianya . dapat menjadi sinyal betapa perlunya bantuan  teknologi untuk menyamai kemampuan mereka khusus bagi umat yang tidak  memiliki daya kognitif seperti mereka.</p>
<p>Dengan adanya bantuan  teknologi, maka proses  penghafalan Al-Qur’an bisa dipercepat, mudah dan  sebagainya. Dalam kajian Psikologi Kognitif, kemampuan ingatan  seseorang terbagi kepada tiga jenis yaitu kemampuan menerima, menyimpan  dan memunculkan kembali informasi. Ingatan mempunyai pengaruh yang cukup  besar terhadap keberhasilan pembelajaran. Semakin baik kemampuan  ingatan seseorang, maka semakin banyak informasi yang dapat dia terima,  simpan, dan munculkan kembali (Promadi, 2009 :113). Dengan bantuan  Teknologi Informasi dan Komunikasi atau ICT, kemampuan menerima,  menyimpan, dan memunculkan kembali ini dapat diakselerasi, sehingga  lebih efektif dan efisien. Penyimpangan informasi dan pengrusakan selama  dalam perjalanan dapat dihindari. Dengan demikian keberhasilan  pembelajaran dapat ditingkatkan.</p>
<p>Ketika wahyu Tuhan, terutama  yang hanya berbentuk semantik, ditransliterasikan kedalam bahasa manusia  menggunakan bentuk morfologis dan sintaksis, terjadilah sesuatu yang  tak terhindarkan, yaitu reduksi atas semantik pesan-pesan Tuhan. Sebab,  menerjemahkan semantik “bahasa” Tuhan ke dalam bentuk morfologis dan  sintaksis bahasa manusia sama halnya dengan: pertama, membatasi semantik  yang sebelumnya sebenarnya tidak terbatas; kedua, menyederhanakan  semantik yang sebelumnya “melampaui” kesederhanaan; ketiga,  mensistematisasikan semantik yang sebelumnya tidak terikat oleh kaidah  atau struktur apapun. Jadi, jika terjadi reduksi atas semantik wahyu  Tuhan, maka hal itu dapat diterima sebagai suatu hal yang wajar terjadi  karena Nabi memang diutus bukan sebagai manusia super yang mampu  mengatasi paradoks-paradoks eksistensial (http://islamlib.com/id).</p>
<p>Terdapatnya  perbedaan semantik pemahaman ayat-ayat Tuhan oleh kalangan yang  berbeda, ketika pesan agama yang diterima Rasulullah  diteruskan  (forward) kepada manusia lain, dan terjadi pengkodean ulang beberapa  kali ke dalam bentuk morfologis dan sintaksis yang berbeda-beda  merupakan wujud dari kemungkinan kondisi yang dapat membawa terjadinya  reduksi pesan Tuhan yang tak terhindarkan. Perbedaan eksistensial ini  memaksa kita menerima konsekuensi bahwa ketika bahasa Yang Transenden  (wahyu) ditransformasikan kedalam bahasa yang imanen, maka ketika itu  juga ia masuk dalam sebuah “wilayah” yang memandang diferensiasi sebagai  sebuah keniscayaan. Dengan kata lain, wahyu akan dipahami dalam cara  yang berbeda, sesuai dengan karakteristik “bahasa” masing-masing  manusia. Pada tataran yang lebih radikal, semantik wahyu Tuhan akan  diinterpretasikan se-plural “bahasa” manusia. “Bahasa” dalam hal ini,  bukan hanya dalam pengertian leksikal semata, juga mencakup di dalamnya  persolan konteks. Konteks yang kemudian mempengaruhi cara pandang  seseorang. Karena itu, konteks yang berbeda akan menghasilkan penafsiran  semantis yang berbeda pula atas satu wahyu. Pada titik ini, bahasa  Tuhan yang sebelumnya monolitik, kemudian tampil dalam keanekaragaman  bentuk dan pemahamannya. Bahkan, tidak menutup kemungkinan akan  terjadinya kontradiksi pemahaman.</p>
<p>Disinilah terlihat betapa  Teknologi Informasi dan Komunikasi memainkan peranan yang sangat penting  dalam membantu manusia mengolah pesan, menyimpan dan memunculkannya  kembali saat diminta guna menghindari distorsi dan reduksi semantik.  Salah satu bentuk sinyal Teknologi Informasi dan Komunikasi terawal  dalam Islam adalah proses saving data dengan cara menghafal ayat-ayat  yang diturunkan secara periodik kepada Muhammad SAW dengan metode  manual.  Proses ini sebenarnya merupakan sinyal akan kebutuhan TIK yang  lebih canggih di kemudian hari, sebagai pengembangan teknik menghafal  menggunakan multimedia.</p>
<p>Dalam kaitannya dengan wahyu yang  diterima para Nabi inilah, problem bahasa muncul. Bagaimana tidak, Tuhan  dan Nabi secara eksistensial berada dalam sebuah ranah yang berbeda:  Tuhan terlingkupi oleh transendensinya, sedangkan manusia dibatasi oleh  imanensinya. Konsekuensinya, jika yang satu mencoba berkomunikasi dengan  yang lainnya untuk menyampaikan informasi, maka problem bahasa menjadi  hambatan terbesar karena perbedaan simbol dan kode yang berbeda antara  dua bahasa yang berbeda. Sehingga bahasa yang satu tidak dapat dicerna  oleh yang lainnya. Selain itu, problem ini hanya dapat diatasi, terutama  dalam pandangan Sufi dan umat Kristiani, jika entitas yang satu mencoba  untuk berfusi atau meleburkan diri dalam cara “ber-ada” entitas yang  lainnya. Dengan kata lain, yang transenden menjelma menjadi yang imanen,  atau sebaliknya. Ketika al-Hallaj mengatakan “Ana al-Haq” tidak dapat  diterima kalangan Muslim saat itu karena perbedaan antara semantik yang  mereka pahami dari simbol bahasa yang digunakan Al-Hallaj ketika proses  decode dan semantik yang ingin disampaikan Al-Hallaj dan simbol bahasa  yang digunakan mereka saat proses encode semanti dari Al-Hallaj. Oleh  karena komunikasi merupakan pertukaran makna di antara beberapa orang  dengan menggunakan sistem tanda yang umum (“the exchange of meanings  between individuals through a common system of symbol”) (Seiler,  2002:5), maka paling tidak, kedua belah pihak harus saling mengerti kode  yang digunakan, karena komunikasi tidak akan wujud kalau kedua belah  pihak saling tidak memahami kode bahasa yang digunakan. Dalam kasus  Al-Hallaj, perbedaan semantik “Ana al-Haq” antara Al-Hallaj dan Maum  Muslimin kemungkinan tidak menemukan titik temu, dan differensiasi telah  mencatat sejarah duka dalam perkembangan mistik Islam.</p>
<p>Melalui  Malaikat Jibril, proses peleburan bahasa dapat terjadi sehingga antara  Jibril dan Rasulullah SAW terjadi komunikasi, karena Jibril menggunakan  simbol-simbol dan kode bahasa yang digunakan Rasul. Kemudian Rasulullah  SAW mempresentasikan dan mensosialisasikan ajaran-ajaran Allah melalui  bahasanya yang sekaligus bahasa yang dipahami umatnya . Ini membuktikan  bahwa Allah memang tidak pernah mengutus utusanNya kecuali yang  menguasai bahasa kaum yang bersangkutan, agar informasi yang diberikan  jelas dan komunikatif . Dalam komunikasi, kedua belah pihak harus saling  mengerti kode, tiada komunikasi kalau saling tidak memahami kode.  Komunikasi yang efektif terjadi apabila kedua belah pihak mengerti tanda  dan sistem masing-masing, komunikasi akan sukar terjadi apabila kedua  belah pihak  menggunakan sistem atau kode (morfologis, sintaksis dan  semantik) yang berbeda.</p>
<p>Ketika Jibril meminta Muhammad SAW  membaca pesan pertama Allah yang beliau bawa berbentuk teks, Muhammad  SAW selaku seorang yang tidak pernah mempelajari dan tidak memiliki  pengetahuan tentang representasi sinyal-sinyal grafis terhadap fonologis  walaupun terhadap Bahasa Arab yang merupakan bahasa ibu bagi beliau,  menolak untuk membaca dan dengan jujur mengakui keterbatasan pengetahuan  kognitifnya dengan mengatakan “Ma Ana bi Qori’ .  Bahkan sampai tiga  kali diminta membaca, beliau tetap saja tidak melakukannya. Penolakan  Rasulullah SAW untuk membaca ternyata membuahkan hasil terhindarnya  distorsi komunikasi. Selain itu terciptalah  efektifitas komunikasi,  karena keefektifan komunikasi ditentukan oleh kemampuan seseorang  mengenal  tanda-tanda daripada seseorang, mengetahui bagaimana  tanda-tanda itu digunakan dan memahami maksudnya (DeVITO, 1993:13).  Meskipun Al-Qur’an diturunkan dalam Bahasa Arab, akan tetapi apabila  seseorang tidak mengerti simbol-simbol grafis yang merepresentasikan  fonologisnya, maka tidak akan terjadi komunikasi.</p>
<p>Setelah gagal  melakukan transaksi komunikasi melalui media teks, Jibril mengubah pesan  teks menjadi pesan audio yang dibacakannya langsung kepada Muhammad  SAW. Kata pertama ‘Iqro’ diterima Rasulullah SAW, melalui ketrampilan  mendengar terhadap informasi yang disampaikan oleh Jibril dalam Bahasa  Arab. Sistim informasi yang berlangsung kala itu adalah dalam bentuk  face to face antara Jibril dan Muhammad SAW.</p>
<p>Berbicara tentang  sinyal visual yang diterima Rasulullah SAW  beberapa saat setelah beliau  kembali dari Isra’, satu perjalanan malam yang jauh yang dari dan  kembali ke Masjid al-Haram melalui Masjidil Aqsa dan Sidrat al-Muntaha,  adalah berupa video Masjid al-Aqsa. Dengan sistem informasi berupa  penayangan bentuk fisik Masjid al-Aqsa kepada Muhammad SAW, telah  membantu beliau menjelaskan setiap karakteristik masjid tersebut yang  ditanyakan kaum Qurays sebagai respon atas ketidakpercayaan mereka akan  peristiwa Isra’.</p>
<p>Bentuk pesan lain yang menarik ketika Isra’  adalah gambar animasi tentang peristiwa yang bakal dialami umat manusia  di akhirat kelak, sebagai gambaran balasan atau ganjaran atas aktifitas  yang dilakukannya selama di dunia. Peristiwa yang diperlihatkan dalam  bentuk gambar bergerak, seperti orang yang sedang memukul-mukul  kepalanya sendiri, merupakan gambaran balasan atau hukuman yang bakal  diterima. Gambar animasi itu adalah proyeksi futuristis tentang akibat  pelanggaran hukum Allah dan sebagai sinyal diperlukannya teknologi  kreatif dalam menyampaikan informasi agar akurat dan tidak mengalami  perubahan bahkan penyimpangan.</p>
<p>Peta perjalanan komunikasi  religius, kalau boleh dikatakan teknologi informasi dan komunikasi  kewahyuan, berawal dari (1) Allah  melalui pengkodean (encode) atau  pemberian simbol terhadap bahasa Tuhan menjadi bahasa manusia kepada  Jibril sebagai penyampai pesan. Kemudian (2) Jibril melakukan pengkodean  kembali (decode) terhadap pesan yang diterimanya sehingga dia memahami  dengan benar dan tepat isi pesan sebelum dia sampaikan ke Muhammad SAW.  Ketika (3) Jibril hendak menyampaikan pesan Tuhan kepada Muhammad SAW,  dia melakukan pengkodean kembali (encode) pesan yang akan  disampaikannya.  Ketika (4) Muhammad SAW menerima wahyu, beliaupun  melakukan pengkodean (decode) sehingga dia bisa menerima isi pesan  persis sebagaimana yang dikehendaki Tuhan tanpa adanya distorsi  informasi. Tidak hanya sampai disitu, ketika (5) Muhammad SAW  mensosialisasikan pesan-pesan agama kepada pengikutnya, beliau  mengadakan pengkodean kembali (encode) secara audio terhadap apa yang  beliau terima sebelumnya dari Jibril kedalam bahasa para pengikutnya  yaitu Bahasa Arab. Para (6) pengikut beliau kemudian melakukan  pengkodean ulang (decode) sehingga apa yang mereka pahami dari  Rasulullah SAW, juga persis sama dengan informasi awal yang diterima  Jibril dari Allah. Hasil tangkapan mereka, (7) dikodekan kembali  (encode) dalam bentuk sinyal teks di berbagai media tradisional yang  tersedia saat itu, termasuk tulang-belulang, pelepah kurma dan  sebagainya. Kemudian (8) dikodekan (decode) belakangan oleh  sahabat-sahabat beliau yang kemudian (9) dikodekan lagi (encode) untuk  dibukukan di zaman Usman ibn Affan.</p>
<p>Begitulah seterusnya proses  encode dan decode berlangsung hingga pesan Tuhan sampai kepada kita para  pengikut Muhammad SAW di abad 21 melalui jalur informasi yang sangat  panjang menggunakan teknologi informatika yang beragam mulai dari yang  paling simpel manual-tradisional sampai perangkat multimedia terkini  yang paling canggih dan kompleks. Kini pesan Allah itu sudah menyebar  luas ke berbagai wilayah di seluruh penjuru dunia dan disebarkan dalam  berbagai bahasa asing, dan melalui berbagai media baik teks, audio,  video oleh percetakan Mushaf Al-Qur’an secara besar-besaran di kota  Madinah al-Munawwarah dan percetakan lokal di berbagai negara.</p>
<p>Sistim  Informasi dalam bentuk teks, grafis, audio, visual dan animasi yang  dialami Rasulullah SAW, ketika (i) menerima wahyu pertama, (ii) saat  menjalani perjalanan Isra’,  dan (iii) ketika baru saja kembali dari  Isra’, akhirnya menjadi trend kehidupan manusia abad ini dengan mendapat  sentuhan teknologi kreatif. Meskipun teknologi kreatif ini bukan hasil  kajian yang intensif terhadap sinyal-sinyal teknologi informatika dari  kehidupan dan pengalaman Rasulullah SAW  tersebut. Bahkan penggagas,  penemu, serta pemain di sektor ini mayoritas bukan dari kalangan Muslim  sendiri.  Walaubagaimanapun, sistem informasi ini mampu direkonstruksi,  diaktualisasikan dan digunakan untuk kemudahan hidup modern di berbagai  sektor, termasuk sektor pendidikan.</p>
<p>Sesuai perjalanan waktu dan  perkembangan kemajuan teknologi kreatif yang semakin canggih, dengan  bantuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang diilhamkan Allah kepada  manusia,  belakangan ini, ditemukan berbagai konsep yang tertuang dalam  teknik informatika untuk membantu mempermudah manusia berkomunikasi dan  mengirim informasi dengan lebih akurat, efektif dan efisien.</p>
<p>Dari  paparan di atas, dapat dipahami bahwa ICT sudah digambarkan sejak  masa-masa awal kemunculan agama Islam dan diikuti pada proses perjalanan  kehidupan Rasulullah SAW terutama ketika menjalani proses pembelajaran  konsep-konsep agama Islam saat menerima wahyu.  Beberapa sinyal  teknologi kreatif tentang pelahiran ICT di kemudian hari merupakan  tonggak kekuatan agama ini yang perlu dikaji dan dikembangkan oleh  umatnya. Dengan demikian kaum Muslim hari ini tidak hanya sebagai  pengguna ICT, tapi sebagai penemu dan pencipta teknologi kreatif untuk  pemajuan Islam dan Kaum Muslim dalam tataran global. Umat Islam  diharapkan menjadi umat yang  maju karena memanfaatkan ajaran Islam, dan  tidak lagi sebagai umat yang tertinggal karena meninggalkan ajaran  agamanya.</p>
<p><span style="font-weight: bold;">Pesan-pesan Religius dan Isyarat Teknologi Multimedia Interaktif </span></p>
<p>Allah,  yang eksistensinya dalam perspektif kaum sufi jauh dan dekat secara  terintegral, merupakan sosok virtual yang dapat didekati bila diadakan  upaya  kontak komunikasi zikir antara manusia denganNya. Sebaliknya,  betapa Dia akan terasa sangat jauh bila ketiadaan komunikasi, meskipun  Dia ada di sekitar kita. Konsep Ihsān, yang menganjurkan agar seorang  Muslim beribadah sambil membayangkan bahwa seolah-olah dia melihat Allah  dan jika dia tidak mampu melihatNya, cukup meyakini bahwa saat itu  Allah melihatnya , juga merupakan isyarat sains informatika tentang  betapa “dekat” dan mudahnya berkomunikasi dengan Allah. Tugas manusialah  berupaya memilih dan menentukan teknik bagaimana berkomunikasi  denganNya yang tidak jauh itu. Allah juga mensosialisasikan konsep  “Ud’uni astajib lakum” untuk menunjukkan betapa Dia tidak “jauh” dari  ummat. Dengan pemberitahuan bahwa Dia akan merespon setiap pemintaan  atau do’a hambaNya, menunjukkan bahwa Dia begitu mudah dihubungi melalui  jalur komunikasi religius.</p>
<p>Beberapa ayat Al-Qur’an memberikan  isyarat sains dan teknologi informatika yang kemudian dapat diterapkan  dalam dunia pendidikan. Sebagai contoh, ayat Wa nahnu aqrabu ilaihi min  hubl al-warid   yang menggambarkan betapa dekatnya Allah dengan manusia,  bahkan lebih dekat daripada urat leher mereka sendiri, adalah  isyarat  sains informatika untuk mengatasi jarak lewat media komunikasi. Dengan  adanya komunikasi, dua pribadi yang “berjauhan” dan tidak dapat  melakukan kotak fisik secara face to face, justru merasa dekat dengan  terjadinya komunikasi. Disinilah peran komunikasi jarak jauh (distant  communication) dan komunikasi maya (virtual communication) menunjukkan  andilnya dalam mendekatkan dua pihak yang berada tidak pada waktu,  lokasi, dan situasi yang sama. Persoalannya adalah bagaimana mendekati  dan berkomunikasi dengan Allah? Adakah Allah memberikan isyarat tentang  teknologi komunikasi dan informasi terutama bila mengadakan komunikasi  interaktif denganNya? Apa alat bantu komunikasi virtual denganNya?</p>
<p>Isyarat  dari Al-Qur’an tentang peran bantuan media informasi dan komunikasi,  sekarang lebih populer ICT, dalam kaitannya dengan pendidikan sudah  tersirat dalam QS. Al-Alaq: 4-5 sbb: Yang mengajar (manusia) dengan  perantaran kalam, Dia mengajari manusia apa yang tidak diketahuinya.</p>
<p>Dalam  ayat ini Allah menjelaskan bahwa Dia mengajar manusia, atau  menyampaikan informasi yang berisi pesan-pesan pendidikan, dengan  perantaraan media tulis baca atau media teks.</p>
<p>Isyarat lain  dalam Islam tentang Teknologi Informasi dan Komunikasi adalah sebuah  hadits, dimana Rasulullah SAW memberikan instruksi untuk menyampaikan  pesan-pesan Islam kepada sesama meskipun dalam kuantitas yang sangat  minim, satu kalimat . Sangat disayangkan apabila satu kalimat ini  disampaikan hanya terbatas kepada satu individu, padahal Hadis ini hanya  membatasi batas minimal pesan dan bukan audien. Oleh karenanya, sangat  memungkinkan pesan yang terbatas ini disampaikan kepada audien yang  tidak terbatas, baik pada tataran geografis, waktu, situasi dan kondisi,  serta media baik media komunikasi sinkroni maupun asinkroni. Untuk  mencapai kuantitas yang memuaskan, seorang Muslim harus berupaya  sedemikian rupa menyampaikan ke sesama Muslim sebanyak-banyaknya tanpa  adanya limitasi. Hadis ini juga tidak membatasi secara spesifik teknik  yang digunakan dalam penyampaian, mulai dari teknologi  manual-tradisional sampai ke teknologi canggih-multimedia. Ketiadaan  penentuan bentuk komunikasi dalam penyebaran informasi ini, memberikan  peluang kepada umat untuk menciptakan teknologi kreatif sistim  informatika. Akan tetapi satu rambu-rambu perlu diperhatikan agar  penyampaian informasi disesuaikan dengan calon penerimam pesan. Bahkan  Rasulullah SAW  memberikan petunjuk psikologis agar pesan yang  disampaikan efektif. Ungkapan Rasulullah SAW “Khatibu al-nas calā qadri  ‘uqūlihim”, adalah bimbingan Rasulullah agar penyampaian informasi  berlangsung efektif dengan mempertimbangkan karakteristik audien, dari  berbagai latar belakang sosial terutama aspek kognisi.</p>
<p>Secara  keseluruhan, bentuk ICT grafis, audio, visual, dan multimedia yang  digunakan Jibril dalam proses presentasi ajaran Islam kepada Rasulullah  SAW  dapat dikembangkan dengan menggunakan integrasi Teknologi Informasi  dan Komunikasi terkini untuk proses pembelajaran dalam upaya pencapaian  tujuan pendidikan Islam  yang lebih efektif, efisien dan menarik.</p></div>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://refleksi.alfisatria.com/integrasi-ict-dalam-pendidikan-islam-suatu-alternatif-pendekatan-pembelajaran-masa-depan/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Fisika Modern Bersua Sufisme</title>
		<link>http://refleksi.alfisatria.com/fisika-modern-bersua-sufisme</link>
		<comments>http://refleksi.alfisatria.com/fisika-modern-bersua-sufisme#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 07 Nov 2010 15:09:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Fisika Kuantum]]></category>
		<category><![CDATA[Muhammad Hikam]]></category>
		<category><![CDATA[Sufisme]]></category>
		<category><![CDATA[fisika]]></category>
		<category><![CDATA[fisika kuantum]]></category>
		<category><![CDATA[sufi]]></category>
		<category><![CDATA[sufisme]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://refleksi.alfisatria.com/?p=35</guid>
		<description><![CDATA[oleh Muhammad Hikam Judul ini bisa langsung digugat: apa mungkin mengkaitkan Sufisme dan Fisika Modern? Sufisme atau tasawuf biasanya dikaitkan dengan tazkiyat al nafs (mensucikan diri), ishlah al qalb (pembersihkan hati) dari akhlak-akhlak tercela, pendekatan diri kepada Tuhan serta kehidupan spiritual lainnya. Sementara Fisika merupakan ilmu modern untuk menerangkan interaksi antara energi dan materi mulai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh <strong>Muhammad Hikam</strong></p>
<p>Judul ini bisa langsung digugat: apa mungkin mengkaitkan Sufisme dan Fisika Modern? Sufisme atau tasawuf biasanya dikaitkan dengan <em>tazkiyat al nafs</em> (mensucikan diri), <em>ishlah al qalb</em> (pembersihkan hati) dari akhlak-akhlak tercela, pendekatan diri kepada Tuhan serta kehidupan spiritual lainnya. Sementara Fisika merupakan ilmu modern untuk menerangkan interaksi antara energi dan materi mulai dari partikel-partikel elementer seperti quark, elektron, dan proton sampai benda-benda makroskopis seperti bintang dan galaksi. Fisika berkaitan dengan materi yang <em>tangible</em> (dapat dipegang) atau hal-hal yang dapat diterangkan secara rasional.<br />
<span id="more-35"></span>Titik kontras yang lain adalah pandangan awam bahwa belajar tasawuf atau menjadi sufi sering disalahartikan sebagai suatu bentuk kehidupan yang egoistik. Untuk mencapai tujuan, seorang sufi dipersepsikan musti meninggalkan kehidupan material keduniaan, meninggalkan keramaian, mengasingkan diri dari pergaulan manusia, bahkan sampai ekstrimnya berhubungan dengan manusia hanya akan menganggu dirinya untuk bercengkerama dengan Tuhan. Sementara untuk belajar Fisika, yang pertama kali dihadapi adalah benda yang ditemui sehari-hari, dan kemudian dilihat sifat dan perilaku material, serta kemudian dilakukan percobaan atau pengamatan di laboratorium atau di lapangan sehingga ditemukan hukum-hukum Fisika yang obyektif, dapat diulang dan konsisten. Hal-hal yang bersifat spiritual atau yang tidak rasional harus ditinggalkan di Fisika. Belajar Fisika dapat dilakukan oleh semua orang pada semua jenjang, namun untuk belajar menjadi sufi seseorang harus melewati suatu maqam-maqam tertentu yang tidak mudah.</p>
<p>Sekilas tampak sekali susah mencari titik temu antara keduanya, perbedaan-perbedaan tersebut terjadi makin jelas antara Fisika klasik (Newtonian) dengan praktek-praktek yang tampak dari luar dari Sufisme. Namun dalam tatanan Fisika modern dan filosofi Sufisme ternyata terjadi banyak kemiripan. Sebagai contoh: bahasa yang digunakan Fisika modern dan Sufisme merupakan bahasa metafora. Hal ini merujuk kepada suatu realitas yang lebih dalam, pada hal-hal yang tidak dapat diterangkan, paradoks dan yang tidak masuk akal. Penjelasan metafora untuk menyatakan misteri yang tersembunyi dari realitas metafisik dan energi-energi di luar pemahaman manusia.</p>
<p>Sebelum masuk lebih jauh pada kaitan sufisme dan Fisika modern, ada baiknya gambaran tentang Fisika klasik kita lihat kembali. Konsep filosofis Fisika klasik adalah analitik, mekanistik dan deterministik. Bahkan cenderung reduksionis untuk mengambarkan alam semesta mengikuti filosofi Descartes dan Bacon. Dalam Fisika Newtonian ini semua fenomena yang ada di semesta dapat diurai secara analitik berdasarkan hukum-hukum Fisika yang pasti. Pada dasarnya apabila kondisi awal suatu keadaan diketahui dan semua medan gaya yang berpengaruh diperhitungankan maka perilaku suatu benda (posisi dan momentum) untuk waktu berikutnya dapat ditentukan. Hukum Fisika ini dapat diterapkan mulai dari hal sederhana seperti benda jatuh bebas sampai perhitungan posisi planet-planet dalam tatasurya. Salah satu contoh yang menakjubkan dari hasil perhitungan Fisika Newtonian ini adalah ramalan tentang waktu gerhana bulan atau matahari sampai dalam orde detik dan ternyata cocok dengan hasil pengamatan.</p>
<p>Tidak dapat disangkal bahwa cara berpikir Fisika klasik ini telah memicu kemajuan teknologi yang dimulai dengan revolusi industri di Eropa. Mesin-mesin dirancang dengan disain yang berdasarkan perhitungan analitik-mekanistik yang pasti. Dan dalam tatanan filosofi, alam semesta merupakan mesin raksasa yang berputar secara terus-menerus dan dapat diprediksi. Disini hal-hal yang berbau mistik seperti peran dewa-dewa, roh nenek moyang, kekuatan supranatural, dan mahluk halus tidak ada lagi dalam hidup manusia. Bahkan Tuhan pun cenderung untuk dinihilkan. Kalaupun Tuhan dianggap ada, maka peran Tuhan sudah sangat direduksi sebagai sekedar pencipta awal, dan kemudian alam &#8220;ditinggalkan&#8221; untuk berputar sendiri setelah dilengkapi dengan hukum-hukum Fisika.</p>
<p>Kesuksesan Fisika Newtonian ternyata hanya berlaku pada dunia makroskopis, dunia kasat mata dan pada benda yang bergerak dengan kecepatan jauh di bawah kecepatan cahaya. Di awal abad ke dua puluh, Fisika klasik terbukti gagal untuk menjelaskan fenomena mikroskopik pada skala atom. Seolah-olah ada revisi edisi ulang ilmu Fisika, muncullah dua cabang ilmu Fisika Modern yaitu Fisika Kuantum yang dibidani oleh Bohr, Heisenberg, Schrödinger dan lain-lain, dan Teori Relativitas yang diungkapkan Einstein.</p>
<p>Fisika Kuantum mempunyai implikasi yang sangat luas pada perubahan peradaban manusia. Penjelasan tentang atom, molekul dan zat padat telah melahirkan material semikonduktor, laser dan chips mikroskopis yang pada gilirannya menghasilkan akselerasi kemajuan di bidang teknologi dan informasi. Sementara Teori relativitas Einstein dapat ditarik untuk menerangkan kosmologi tentang asal usul semesta, disini diperoleh gambaran bahwa alam semesta berasal dari suatu titik big bang (dentuman besar) dan berkembang serta berekspansi secara terus menerus.</p>
<p>Implikasi filosofis Fisika Kuantum lebih dahsyat, diantaranya tentang prinsip ketidakpastian Heisenberg dan participating observer (hasil eksperimen selalu tergantung pada pengamat dan suatu realitas tidak akan terjadi sebelum kita benar-benar mengamatinya). Dalam dunia sub-atomik, hukum Fisika tidak lagi merupakan suatu kepastian, tetapi gerak partikel diatur oleh konsep probabilitas. Pandangan terakhir ini yang menyangkut indeterminisme menimbulkan kontroversi yang cukup ramai.</p>
<p>Dalam teori Kuantum setiap keadaan partikel (posisi, momentum, energi dst.) dihubungkan berdasarkan suatu eksperimen. Ketika formulasi telah dirumuskan maka perilaku partikel dapat diprediksi. Schrödinger menunjukkan bahwa perilaku partikel dapat ditunjukkan oleh sebuah persamaan matematis gelombang. Namun persamaan ini tidak memberi informasi apa-pun tentang keadaan partikel sebelum suatu eksperimen benar-benar dilakukan, dengan perkataan lain persamaan tersebut meramalkan dua hasil kemungkinan secara sepadan. Dalam percobaan celah ganda, tampak bahwa hasil pengamatan tergantung kepada cara eksperimen dilakukan. Partikel tersebut tidak punya sifat &#8220;asli&#8221;.</p>
<p>Oleh para Fisikawan konsekuensi indeterminisme ini biasanya dilukiskan secara dramatis dalam sebuah &#8220;eksperimen&#8221; yang dikenal dengan kucing Schrodinger (Dewitt, 1970). Kucing ini bisa dalam dua keadaan skizofrenik sekaligus yaitu hidup dan mati. Tentu saja semua ini merupakan bahasa metafora dari ketidakmampuan fisikawan untuk menerangkan keadaan &#8220;yang sesungguhnya&#8221; terjadi. Namun hal tersebut seperti keadaan partikel yang bisa sekaligus gelombang merupakan konsekuensi pengembangan teori Kuantum.</p>
<p>Albert Einstein sendiri sangat tidak nyaman dengan konsekuensi terakhir ini. Meskipun pada masa mudanya Einstein turut serta dalam membangun teori Kuantum (pada kasus efek fotolistrik) namun Einstein tua justru merupakan seorang penentang konsekuensi filosofis teori Kuantum, sampai-sampai dia berucap &#8220;Tuhan tidak bermain dadu&#8221;. Dalam debat melawan Bohr dan kawan-kawan, argumentasi Einstein tentang determinisme selalu dapat dipatahkan. Sehingga sampai saat ini teori Kuantum yang meskipun &#8220;agak edan&#8221; tetapi terbukti merupakan teori yang dapat menerangkan dunia mikroskopis dan mempunyai manfaat dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Lebih jauh tentang konsep <em>participating observer</em>, pola hasil yang akan diperoleh dalam suatu eksperimen sangat ditentukan oleh pengamat atau dengan perkataan pengamat menentukan hasil. Ini bukan penelitian sosial tetapi penelitian tentang materi sub-atomik. Lebih jauh lagi sesuatu benda mikro tidak punya makna apa-apa sebelum benar-benar diamati. Oleh karena itu diperlukan suatu mahluk yang memiliki kesadaran (<em>consciousness</em>) untuk menjadikan sesuatu benda menjadi &#8220;real&#8221;. Tanpa pengamat, maka semesta ini tidak akan ada.</p>
<p>Disini mulai jelas titik singgung antara Fisika modern dengan sufisme atau mistisisme Timur lainnya. Kita dapat lihat dari salah satu potongan syair Rumi:</p>
<p>&#8220;<em>Aku adalah kehidupan dari yang kucintai </em><br />
<em>Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak, </em><br />
<em>Bukan raga atau jiwa; semua adalah kehidupan dari yang kucintai</em>&#8220;.</p>
<p>Juga kita dapat lihat pendapat Ibnu Arabi dalam Fushush al-Hikam:</p>
<p>&#8220;<em>Kosmos berdiri diantara alam dan al Haqq, dan antara wujud dan non eksisteni. Ia bukan murni wujud dan bukan murni non-eksistensi. Maka dari itu kosmos sepenuhnya tipuan, dan kalian membayangkan bahwa ini al Haqq, namun sebetulnya bukan al Haqq. Dan kalian membayangkan bahwa ini makhluk, namun ini bukan makhluk</em>&#8220;.</p>
<p>Bahasa Rumi &#8220;Tempatku tanpa tempat, jejakku tanpa jejak&#8221; atau ungkapan Ibnu Arabi tersebut sangat memiliki kemiripan dengan Mekanika Kuantum yang juga mengungkapkan tentang &#8220;hidup yang juga mati, mati yang juga hidup&#8221;. Jelas sekali bahasa metafora yang digunakan disini.</p>
<p>Selanjutnya dalam kerangka teori relativitas juga dimungkinkan dibuat suatu kerucut ruang-waktu: masa lalu, masa sekarang dan masa mendatang. Dalam hal ini –secara matematikEada bagian yang berada di luar kerucut ruang waktu ini, sehingga dapat dikatakan di luar dunia fisik ini yang kita tempati ini masih ada kemungkinan &#8220;dunia lain&#8221;. Hal ini juga didukung oleh teori Kuantum yang menawarkan many worlds interpretation atau interpretasi banyak dunia yang diungkapkan oleh Everett pada tahun 1957. Artinya alam semesta yang kita tempati ini bukan satu-satunya. Hal ini serupa dengan yang dikatakan oleh Rumi tentang hati yang bisa menuju ke &#8220;Pintu-pintu ke dunia lain.&#8221;</p>
<p>Rumi menulis dalam puisi yang lain &#8220;Sang Sufi bermi&#8217;raj ke &#8216;Arsy dalam sekejap, sang zahid membutuhkan waktu sebulan untuk sehari perjalanan.&#8221; Meskipun puisi ini sedikit menunjukkan nada yang agak sombong dari Sang Sufi, namun jelas menunjukkan adanya keserupaan dengan konsep relativitas pada Fisika modern.</p>
<p>Para ahli astrofisika modern telah menghitung bahwa setidaknya ada 15 trilyun galaksi sejak permulaan penciptaan —big bangEdan galaksi-galaksi tersebut dalam kosmos mengikuti suatu siklus seperti yang dijelaskan oleh sufi yaitu kelahiran, pertumbuhan, kematian dan pembangkitan kembali. Bintang-bintang, seperti manusia, tidak pernah sebenarnya mati, namun beberapa bahan dasar seperti besi, karbon, oksigen dan nitrogen secara terus-menerus didaur-ulang dalam ruang sebagai debu kosmis, bintang baru, tanaman dan kehidupan. Semua dalam alam semesta yang berekspansi terdiri dari energi, dan energi secara sederhana berubah dari suatu keadaan ke keadaan lain untuk selanjutnya naik menuju (cosmic ascent) kepada Allah.</p>
<p>Pencarian padanan antara sufisme dan Fisika modern dapat terus dilakukan terutama dalam masalah yang berkaitan dengan semesta lain, dunia ghoib, pengkerutan waktu, ketidakpastian, &#8220;hidup tetapi mati&#8221;, kesadaran dapat mempengaruhi materi, &#8220;ada tetapi tidak ada&#8221;, siklus kehidupan dan asal usul semesta.</p>
<p>Beberapa hal dapat dengan mudah dapat dicerna, namun lebih banyak lagi yang merupakan bahasa metafora karena susahnya menuliskan realitas yang sesungguhnya. Mungkinkah kesulitan ini karena keterbatasan bahasa manusia atau keterbatasan kemampuan logis manusia? Atau semua ini merupakan harta tersembunyi sebagaimana yang diungkapkan oleh sebuah hadist qudsi: Allah telah berkata &#8220;Aku adalah harta tersembunyi yang perlu disingkap, Aku ciptakan semesta sehingga Aku dapat diketahui&#8221;</p>
<p>Kita biarkan pertanyaan ini menjadi pertanyaan yang tidak terjawab, namun mengikuti &#8220;semangat teori Kuantum&#8221; yang maju terus memberikan kontribusi penting pada peradaban manusia meskipun telah meninggalkan Einstein dalam kegelisahan interpretasi. Adakah sekarang manfaat praktis yang dapat ditarik dari mengkaitkan sufisme dan Fisika modern?</p>
<p>Sudah saatnya para fisikawan mempelajari istilah yang sudah biasa di Fisika namun merujuk pada entitas yang berbeda dalam sufisme, yaitu energi. Di Fisika, istilah energi menunjukkan suatu besaran yang sangat real, sementara di sufisme istilah ini lebih abstrak. Para ahli sufi sebenarnya meminjam istilah ini karena ada keserupaan, meskipun pada dasarnya berbeda. Sudah beratus-ratus tahun terbukti secara empiris bahwa para ahli sufi mampu menggunakan suatu jenis energi metafisik yang berasal dari Yang Maha Kuasa untuk berbagai keperluan seperti penyembuhan sakit fisik dan non fisik. Para ahli sufi sendiri sebenarnya tidak mengerti bagaimana proses penyembuhan ini terjadi kecuali dengan sepenuhnya melakukan kepasrahan kepada Allah SWT. Disini fisikawan dapat melakukan penjelasan hal ini karena memang dimungkinkan dalam teori Kuantum bahwa kesadaran dapat mempengaruhi materi (<em>mind over matter</em>).</p>
<p>Hal ini hanya merupakan salah satu contoh manfaat real untuk kemanusiaan. Akan muncul sekali banyak manfaat bila dilakukan eksplorasi secara seksama hubungan antara sufisme dan Fisika modern.</p>
<p><em>Wallahu a&#8217;lam bishawab.</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://refleksi.alfisatria.com/fisika-modern-bersua-sufisme/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Masih Relevankan Ajaran Syekh Siti Jenar Dewasa Ini?</title>
		<link>http://refleksi.alfisatria.com/masih-relevankan-ajaran-syekh-siti-jenar-dewasa-ini</link>
		<comments>http://refleksi.alfisatria.com/masih-relevankan-ajaran-syekh-siti-jenar-dewasa-ini#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 06 Nov 2010 13:41:25 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Achmad Chodjim]]></category>
		<category><![CDATA[Syekh Siti Jenar]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://refleksi.alfisatria.com/?p=26</guid>
		<description><![CDATA[Tema seminar/sarasehan budaya hari ini adalah agama ageming aji, yaitu agama sebagai nilai-nilai luhur yang menjadi landasan hidup bangsa Indonesia, sesuai dengan sila pertama pada Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Agama dalam bingkai ageming aji bukanlah agama dalam arti golongan atau agama sebagai organisasi (organized religion), tetapi agama sebagai basis moralitas dan perilaku manusia. Agama [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Tema seminar/sarasehan budaya hari ini adalah agama ageming aji, yaitu  agama sebagai nilai-nilai luhur yang menjadi landasan hidup bangsa  Indonesia, sesuai dengan sila pertama pada Pancasila, Ketuhanan Yang  Maha Esa. Agama dalam bingkai ageming aji bukanlah agama dalam arti  golongan atau agama sebagai organisasi (organized religion), tetapi  agama sebagai basis moralitas dan perilaku manusia. Agama dalam arti ini  pernah menjadi polemik dan perang wacana di Kepulauan Nusantara –karena  Indonesia belum lahir– dan tepatnya di P. Jawa pada pertengahan abad  ke-15 hingga pertengahan abad ke-16.</p>
<p>Tokoh sentral dalam polemik dan  perang wacana pada masa itu adalah Syekh Siti Jenar atau dikenal dengan  nama Syekh Lemah Abang.</p>
<p><span id="more-26"></span>Dia seorang guru dan pelaku spiritual yang  mengajarkan agama sebagai jalan hidup dan bukan sebagai kepercayaan.  Meskipun Syekh seorang muslim, tetapi ajarannya menarik berbagai pemeluk  agama dan kepercayaan yang ada waktu itu. Mereka yang belajar dan  menjadi murid Syekh berasal dari berbagai kalangan, baik kalangan elite  –yaitu para adipati– maupun rakyat biasa. Mereka berasal dari pemeluk  Hindu, Biddha, Syiwa-Buddha, Islam, dan pemeluk kepercayaan yang  berkembang di Jawa waktu itu.</p>
<p>Apa yang diajarkan oleh Syekh Siti  Jenar sehingga daya tarik ajarannya luar biasa dan menyebabkan penguasa  Kesultanan Demak Bintara kegerahan waktu itu? Yang diajarkan sebenarnya  bukanlah hal yang asing bagi mereka yang hidup di Kep. Nusantara waktu  itu. Yang diajarkan adalah paham MKG (Manunggaling Kawula Gusti), yaitu  satunya hamba dengan Tuhan. Paham ini sudah ada di agama Hindu dan  Buddha yang sebelum berdirinya Kesultanan Demak, dipeluk oleh mayoritas  penduduk Nusantara. Paham ini diikuti oleh kalangan sufi dalam agama  Islam. Bahkan, mereka yang dikenal sebagai anggota Walisanga juga  berpaham MKG. Padahal, berdasarkan sejarah Walisanga yang bergelar sunan  itu adalah pendukung dan penasehat Sultan Demak di zaman itu.</p>
<p>Meskipun  Walisanga dan Syekh Siti Jenar sepaham, tetapi pada tataran  implementasinya dalam kehidupan berbeda. Bagi Siti Jenar, MKG merupakan  landasan, jalan dan alat untuk menjadikan manusia merdeka sejati. MKG  menggerakkan manusia untuk menjadi dirinya sendiri, menjadikan manusia  yang memiliki kepribadian. Inilah inti dari MKG yang diajarkan oleh  Syekh Siti Jenar. Tentu pikiran semacam ini melompat terlalu jauh ke  depan pada zamannya. Jangankan pada masa 500 tahun yang lalu, dewasa ini  saja sebagian besar orang tidak hidup sebagai pribadi, tetapi hidup  berdasarkan pikiran orang lain.i Sedangkan MKG yang diajarkan oleh  Walisanga lebih bersifat teoritis, dan tidak memberikan implikasi nyata  dalam kehidupan masyarakat.</p>
<p>Ajaran MKG Siti Jenar mendobrak  feodalisme yang tumbuh subur pada masa itu, sedangkan Walisanga justru  melanggengkan sistem feodalisme. Syekh membangkitkan kesetaraan antara  kawula (rakyat) dengan rajanya (Gusti). Walisanga melestarkan sistem  rakyat menyembah raja. Syekh membebaskan orang dari belenggu  ketakhayulan dan pikiran picik, sedangkan Walisanga malah menjadikan  agama dan kepercayaan sebagai alat kekuasaan.</p>
<p>Puncak pertarungan  paham berakhir ketika Sultan Patah memerintahkan Walisanga untuk  menghentikan kegiatan mengajar Syekh dan pengikutnya dihancurkan. Untung  tak dapat diraih malang tak dapat ditolak, kata peribahasa. Ajaran  Syekh Siti Jenar dipadamkan –meski demikian, ajaran SSJ tetap berjalan  dan disampaikan secara sembunyi-sembunyi. Rakyat patuh kepada raja  secara pasif, sedangkan kalangan elite berebut kekuasaan. Akibatnya,  umur kerajaan tak ada yang panjang, Demak jatuh disusul dengan  berdirinya Pajang, dan dalam satu generasi saja Pajang hilang dan muncul  Mataram.</p>
<p>Karena rakyat bodoh dan elite kerajaan berebut kekuasaan,  maka Mataram hanya dalam kurun waktu 50 tahun berdiri sudah goyah karena  adanya infiltrasi VOC, yang akhirnya Mataram menjadi negara taklukan  VOC. Hal ini saya sampaikan dalam seminar/sarasehan ini agar dapat  menjadi pelajaran bagi bangsa Indonesia. Dengan memperhatikan kembali  ajaran Syekh Siti Jenar kita akan dididik untuk menjadi manusia merdeka,  sehingga siap untuk menahan gangguan dan ancaman asing agar bangsa  Indonesia tidak terus-menerus terjajah oleh negara lain dalam segala  bentuknya.</p>
<p><strong>Ajaran Pokok Syekh Siti Jenar</strong></p>
<p>Sebagaimana  dituturkan di atas, manusia hidup di atas bangunan opini atau pendapat  orang lain. Pada umumnya manusia tidak mengetahui hakikat hidupnya  sendiri, dan tidak mengetahui dengan pasti apa yang akan terjadi pada  dirinya. Pikiran sebagian besar orang merupakan pendapat orang lain,  sehingga kita berbicara menggunakan bahasa orang lain. Mereka yang  berpengaruhlah yang telah menanamkan pengaruhnya yang berupa bahasa,  perilaku, pendapat, dan sebagainya untuk membangun identitas tunggal.</p>
<p>Adalah  Kierkegaard –seorang filosof Barat– yang menyatakan bahwa sekelompok  besar orang selalu menghilangkan identitas pribadi. Oleh karena itu,  sebagian besar orang yang beragama (memeluk agama resmi) biasa melakukan  ritual dan menjalankan apa yang biasa dilakukan atau diharapkan oleh  orang lain, tanpa penghayatan pribadi apa yang dilakukankannya.  Kebanyakan orang hidup dalam kedangkalan dan formalisme kosong, dan  demikianlah yang terjadi sehingga seluruh generasi terjebak dipinggiran  akal budi yang berlumpur. Inilah yang menyebabkan roda kemajuan berhenti  berputar.ii</p>
<p>Pendapat sebagai hasil olah pikir manusia berkembang  terus, dan bila pemikiran seseorang, suatu golongan atau bangsa mandek,  maka ia akan terlindas oleh perubahan yang terjadi di dunia ini. Bangsa  yang pemikirannya terlindas atau tertinggal akan menemui banyak masalah  dalam hidupnya, dan kenyataan itu bisa kita saksikan dewasa ini.  Perhatikanlah apa yang terjadi pada negara-negara tidak maju atau sedang  berkembang! Kemiskinan, kebodohan, mutu kesehatan yang rendah, serta  rusaknya lingkungan hidup merupakan bukti mandeknya pemikiran.</p>
<p>Tanpa  berpikir manusia tidaklah sama dengan hewan, tetapi malah lebih buruk  daripada kehidupan hewan. Bila hewan lapar, maka secara naluri akan  tertuntun menuju sumber makanan, tetapi tanpa berpikir untuk mencari  makan manusia akan mengalami kematian. Oleh karena itu, manusia  berandai-andai, dan perlu berasumsi. Manusia berusaha menggunakan  akal-pikirannya untuk menciptakan nilai tambah pada segala sesuatu yang  ada di sekitarnya. Berbagai benda diberi nilai atau “aji” sesuai dengan  tingkat kelangkaannya.</p>
<p>Pendapat apabila sudah diterima oleh suatu  kelompok orang maka akan menjadi kebenaran bagi kelompok itu. Meskipun  kitab-kitab suci dalam berbagai agama dikategorikan sebagai wahyu dan  bukan pendapat, tetapi dalam implementasinya tetap menggunakan olah  pikir alias pendapat. Dan, pendapat tentunya dimaksudkan untuk  menyamankan, memudahkan, dan menimbulkan kesejahteraan umat. Itulah  pendapat yang diperlukan!</p>
<p>Jadi, bukan kebenaran hakiki atau kebenaran  harfiah suatu pendapat yang perlu diperhatikan. Yang perlu diperhatikan  adalah apakah pendapat itu bisa digunakan untuk menimbulkan  kesejahteraan dan kebahagiaan bagi umat manusia, minimal bagi mereka  yang meyakini pendapat itu. Dan, yang perlu kita tolak adalah pendapat  yang menimbulkan kezaliman, kesengsaraan dan kriminalitas bagi manusia.</p>
<p>Nah, <strong> ajaran pokok yang pertama </strong>dari Syekh Siti Jenar adalah tidak  mengabsolutkan pendapat. Pendapat boleh diperdebatkan, akan tetapi  pendapat tidak untuk melindas pendapat orang lain. Munculnya berbagai  mazhab dalam berbagai agama di dunia membuktikan bahwa ajaran agama  pasca pendirinya sebenarnya merupakan pendapat yang dikembangkan dari  ajaran asal agama itu. Jadi, kebenaran pendapat adalah kebenaran yang  dibangun atas akseptabilitas masyarakat atau komunitas tempat pendapat  itu berkembang.</p>
<p><strong>Ajaran pokok yang kedua </strong>adalah menjadi manusia  hakiki, yaitu manusia yang merupakan perwujudan dari hak, kemandirian,  dan kodrat.</p>
<p><em>Hak</em>.  Kebanyakan kita berpendapat bahwa kita harus  mendahulukan kewajiban daripada hak. Perhatikanlah para pejabat kita  selalu menuntut rakyat untuk menjalankan kewajibannya dulu sebelum  mendapatkan haknya. Warga dituntut membayar pajak, mematuhi  undang-undang dan peraturan yang ditentukan oleh para elite politik, dan  melaksanakan berbagai macam kepatuhan. Menurut Syekh Siti Jenar, harus  ada hak hidup lebih dulu. Inilah kebenaran! Tak ada kewajiban apa pun  yang bisa diberikan kepada seorang bayi yang baru dilahirkan. Oleh  karena itu, begitu seorang bayi manusia dilahirkan semua hak-haknya  sebagai manusia harus dipenuhi terlebih dahulu.</p>
<p>Tidak peduli ia  dilahirkan di keluarga kaya atau miskin, hak memperoleh pengasuhan,  perawatan, penjagaan, perlindungan, dan mendapatkan pendidikan harus  dipenuhi. Hak-hak tersebut dipenuhi agar ia menjadi manusia yang dapat  menjalankan kewajibannya sebagai anggota keluarga, masyarakat, dan  negara. Dengan cara itu akhirnya ia menjadi manusia hakiki, manusia  sebenarnya yang dapat berkiprah dalam kehidupan nyata, baik sebagai  pribadi maupun warga sebuah negara. Salah satu unsur untuk menjadi  manusia yang hidup merdeka terpenuhi.</p>
<p><em>Kemandirian</em>.  Pemenuhan hak dan  kewajiban barulah tahap awal untuk menjadi manusia hakiki. Tahap  berikutnya adalah mendidik, mengajar, dan melatihnya agar bisa menjadi  manusia yang hidup mandiri. Ia harus diarahkan agar mampu hidup yang  tidak tergantung pada orang lain. Dengan demikian, kehidupan mandiri  akan tercapai bila terjadi kesalingtergantungan antar anggota masyarakat  dan sekaligus kemerdekaan (interdependence and independence).</p>
<p>Perhatikanlah  keadaan ekonomi masyarakat Indonesia sekarang ini. Kita amat sangat  tergantung pada bantuan atau hutang luar negeri. Negara yang dilimpahi  kekayaan alam yang luar biasa ini justru dihisap oleh negara-negara maju  di dunia ini. Setiap bayi yang dilahirkan yang seharusnya merupakan  aset negara, ternyata tumbuh menjadi manusia-manusia pencari kerja dan  bahkan menjadi beban negara. Hal ini disebabkan terjadinya  manusia-manusia yang tergantung pada orang lain. Hubungan yang terjadi  adalah hubungan orang-orang lemah dengan orang-orang kuat. Yang lemah  merasa sangat memerlukan yang kuat, sedangkan yang kuat berbuat tidak  semena-mena terhadap mereka yang lemah.</p>
<p>Akibat dari keadaan tersebut  tambah tahun pengangguran akan semakin bertambah besar. Yang menjadi  gantungan relatif tetap, sedangkan yang menggatungkan diri bertambah  banyak. Terjadi relasi yang tidak seimbang, sehingga kehidupan  masyarakat menjadi rawan.</p>
<p><em>Kodrat</em>.  Inilah unsur berikutnya yang  menopang asas hak dan kemandirian dalam kehidupan masyarakat. Kodrat  pada manusia merupakan kuasa pribadi. Kodrat tidak didapat dari luar  diri. Dengan demikian kodrat tidak berasal dari pelatihan dan  pendididikan. Tetapi kodrat harus diberikan ruang yang kondusif agar  suatu bentuk kemampuan khusus yang dianugerahkan pada setiap orang bisa  terwujud. Dalam hal ini, pelatihan akan meningkatkan kualitas kodrat  yang dimiliki seseorang.</p>
<p>Dalam psikologi kodrat dapat dikatakan  hampir sama dengan talenta. Bila seseorang tidak diberikan kesempatan  untuk dapat mengaktualisasikan dirinya, maka kodratnya kemungkinan besar  tak akan terwujud. Padahal, kodrat yang ada pada diri seseorang itulah  yang bisa menjadi sarana untuk memperoleh keuntungan bagi dirinya. Bila  setiap orang bisa mewujudkan kodratnya, maka akan terwujud hubungan yang  saling memberikan dan sekaligus saling membutuhkan. Setiap orang akan  memiliki nilai tawar bagi orang lain.</p>
<p>Harmonisasi dan ikatan antar  warga negara akan menguat bila sebagian besar penduduknya bisa  mewujudkan ketiga unsur manusia hakiki tersebut. Keragaman masyarakat  pun kecil dan kesenjangan ekonomi dapat dinihilkan. Akhirnya jati diri  manusia akan muncul dengan sendirinya, dan kita akan menjadi bangsa yang  kokoh dan tidak mudah diprovokasi.</p>
<p><strong>Ajaran pokok Syekh yang  ketiga</strong> adalah hubungan antara satu orang dengan orang lain merupakan  hubungan kodrat dan iradat. Hubungan satu orang dengan orang lain  bagaikan hubungan kerja dalam satu tim, sehinga tidak terjadi hubungan  posisi yang memerintah dan yang diperintah. Tak ada hubungan kekuasaan.  Antara manusia yang satu dengan yang lain terikat oleh kodrat dan  iradatnya, sehingga seperti hubungan sel yang yang satu dengan sel  lainnya dalam satu tubuh, dan hubungan organ yang satu dengan organ  lainnya dalam satu tubuh.</p>
<p>Kalau kita amati cara kerja organ-organ  dalam tubuh manusia, maka kita akan ketahui bahwa masing-masing organ  –seperti otak, penglihatan, penciuman, pendengaran, paru-paru, jantung,  hati, ginjal, usus, dan lain-lain– akan bekerja sama, dan masing-masing  menjalankan peranannya. Seharusnya kehidupan masyarakat manusia juga  demikian. Dengan mewujudkan masyarakat yang berupa kumpulan  manusia-manusia hakiki, masing-masing orang atau kelompok menjalankan  fungsinya dengan benar, maka akan terbentuk kehidupan yang sehat dan  tidak terjadi penghisapan antara orang yang satu terhadap orang lainnya.  Inilah kehidupan dunia yang didambakan oleh Syekh Siti Jenar, yang  justru sekarang tumbuh dan berkembang di negara maju.</p>
<p><strong>Ajaran  pokok yang keempat </strong>: segala sesuatu di alam semesta ini adalah satu dan  hidup. Dalam salah satu pupuhnya disebutkan bahwa bumi, angkasa,  samudra, gunung dan seisinya, semua yang tumbuh di dunia, angin yang  tersebar di mana-mana, matahari dan rembulan, semuanya merupakan keadaan  hidup. Jadi, semua yang ada merupakan wujud kehidupan.</p>
<p>Menurut Syekh  Siti Jenar yang dinamakan makhluk hidup adalah kehidupan yang  terperangkap dalam alam kematian. Zat mati tak akan dapat menimbulkan  kehidupan, sedangkan zat hidup tak akan tersentuh kematian. Tuhan  disebut zat yang mahahidup karena Dia eksis karena Diri-Nya sendiri.  Kekuatan hidup-Nya mengalir dalam alam kematian sehingga muncul sebagai  makhluk hidup. Sekarang bandingkan dengan tulisan-tulisan dari Barat  dewasa ini, akan kita temukan pernyataan mereka bahwa semuanya satu,  semuanya hidup. Dengan demikian, pandangan Syekh Siti Jenar luar biasa.  Banyak pandangannya yang justru bersesuaian dengan pandangan kaum  teosofi maupun para spiritualis dari Barat.</p>
<p>Bila kita menyadari bahwa  lingkungan kita adalah keadaan yang hidup, maka tentu kita akan  memperlakukan lingkungan kita dengan sebaik-baiknya karena kita dan  lingkungan kita sebenarnya satu dan sama-sama sebagai keadaan yang  hidup. Bila kita menyadari tentu kita akan berhati-hati dalam  memperlakukan lingkungan kita.</p>
<p><strong>Ajaran pokok yang kelima</strong>:  pemahaman tentang ilmu sejati. Dikisahkan dalam Serat Siti Jenar yang  ditulis oleh Aryawijaya: Sejati jatining ngèlmu, lungguhé cipta pribadi,  pustining pangèstinira, gineleng dadya sawiji, wijanging ngèlmu  dyatmika, nèng kahanan eneng ening. Hakikat ilmu sejati itu terletak  pada cipta pribadi, maksud dan tujuannya disatukan adanya, lahirnya ilmu  unggul dalam keadaan sunyi dan jernih.</p>
<p>Menurut Syekh Siti Jenar  manusia haruslah kreatif karena manusia telah diberi anugerah oleh Yang  Mahakuasa untuk dapat mengaktualisasikan ilmunya yang berasal dari dalam  dirinya sendiri. Jadi, ilmu sejati bukanlah ilmu yang kita terima dari  orang lain. Yang kita dapatkan melalui indra, pengajaran dari orang  lain, itu hanyalah refleksi ilmu. Dan, ternyata sejak abad ke-20  pemahaman bahwa ilmu lahir dari kedalaman batin telah menjadi pemahaman  yang universal. Itulah sebabnya orang-orang Barat tekun dalam melakukan  perenungan dan pengkajian terhadap tanda-tanda di alam semesta.</p>
<p>Jadi,  harus ada suasana kondusif bagi orang-orang yang mendalami ilmu  pengetahuan. Suasana kondusif bagi ilmuwan adalah iklim kerja yang  membuat ilmuwan tersebut dapat bekerja dengan tenang, nyaman, dan bebas  dari berbagai penyebab kekalutan dan kesulitan. Dan, tentunya hak-hak  untuk dapat menjadi ilmuwan sejati haruslah dipenuhi. Ingat, setiap  orang telah diberi potensi dan talenta yang disebut kodrat. Dan, bagi  mereka yang memiliki kodrat untuk menjadi ilmuwan harus disediakan iklim  kerja yang kondusif sehingga bisa menghasilkan hal-hal yang dibutuhkan  manusia.</p>
<p><strong>Ajaran pokok yang keenam</strong>: umumnya orang hidup saling  membohongi. Banyak hal yang sebenarnya kita sendiri tidak tahu, tapi  kita menyampaikannya juga kepada teman-teman kita. Hal ini banyak sekali  terjadi dalam ajaran agama. Banyak orang yang sekadar hafal dalil,  tetapi sebenarnya dia tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh dalil itu.  Akhirnya pemahaman yang keliru itu menyebar dan terbentuklah opini yang  salah.</p>
<p>Masyarakat yang dipenuhi dengan pemahaman dan opini yang  salah sama dengan masyarakat yang dipenuhi sampah. Masyarakat demikian  pasti rawan terhadap serangan penyakit. Oleh karena itu, masyarakat  harus dibebaskan dari berbagai macam kebohongan. Masyarakat harus diajar  dan dididik untuk memahami segala sesuatu seperti apa adanya.</p>
<p>Agar  tidak hidup saling membohongi manusia harus kembali mengenal dirinya.  Setiap orang harus dididik untuk menyadari perannya dalam hidup ini.  Para cerdik cendekia harus mengerti fungsinya di dunia. Orang harus  diajar untuk bisa mengerti dunia ini sebagaimana adanya. Agama harus  diajarkan sebagai jalan hidup dan bukan alat untuk meraih kekuasaan.  Oleh karena itu, keimanan harus diajarkan dengan benar dan bukan sekadar  diajarkan sebagai kepercayaan. Iman harus diajarkan sebagai  penghayatan, pengalaman, dan pengamalan kebenaran.</p>
<p>Ayat-ayat kitab  suci harus dipahami berdasarkan kenyataan, dan tidak diindoktrinasikan  serta diajarkan secara harfiah sesuai dengan asal kitab suci tersebut.  Agama harus diajarkan secara arif dan bisa dibumikan, tidak terus  menggantung di langit. Agama harus diterjemahkan dalam bentuk yang dapat  dipahami dan dipraktikkan oleh masyarakat penerimanya.</p>
<p><strong>Ajaran  pokok yang ketujuh</strong>: nama Tuhan diberikan oleh manusia. Lima ratus tahun  yang lalu Syekh telah menyatakan dengan tegas bahwa manusialah yang  memberikan nama pada Tuhan. Oleh karena itu, nama bagi Tuhan  bermacam-macam sesuai dengan bahasa dan bangsa yang menamai-Nya. Dan,  perlu diketahui bahwa Tuhan sendiri sebenarnya tidak perlu nama, karena  Dia hanya satu adanya. Sesuatu diberi nama karena untuk membedakan  dengan sesuatu lainnya. Nama diberikan agar kita tidak keliru tunjuk  atau salah sebut.<br />
Bagi Syekh Siti Jenar, apapun sebutan yang  diberikan kepada-Nya haruslah sebutan yang terpuji, yang baik, yang  pantas. Bahkan dalam Alquran dinyatakan dengan tegas pada Q. 7:180 bahwa  manusia diperintah untuk memohon kepada-Nya dengan nama-nama baik-Nya,  atau al-asmâ-u l-husnâ. Dan, pada Q.17:110 dinyatakan bahwa Dia dapat  diseru dengan nama Allah, Ar Rahman, atau dengan nama-nama baik-Nya yang  lain.</p>
<p>Sungguh, sangat mengherankan bila di zaman sekarang ini kita  berebut nama Tuhan. Secara teoritis umat Islam dididik untuk meyakini  bahwa Tuhan itu Yang Maha Esa. Tetapi, dalam kenyataannya sebagian orang  Islam –seperti yang terjadi di Malaysia– malah meminta orang yang  beragama lain untuk tidak menggunakan lafal Allah bagi sebutan Tuhan  pada agama lain tersebut. Inilah pemahaman yang salah! Kalau kita –yang  Muslim— menolak pemeluk agama lain menyebut Allah bagi Tuhannya, maka  secara tak sadar kita mengakui bahwa Tuhan itu lebih dari satu.</p>
<p>Sudah  waktunya kita ajarkan ketuhanan dengan benar sehingga kita tidak  berebut tulang tanpa isi. Kita harus menyadari sepenuhnya bahwa  mengamalkan nilai-nilai ketuhanan dengan benar itulah yang amat penting  dalam hidup ini. Bagi orang Indonesia, menghayati dan mengamalkan  nilai-nilai ketuhanan dengan benar merupakan penegakan Sila yang  pertama.</p>
<p><strong>Ajaran pokok yang kedelapan</strong>: raja agama sesungguhnya  raja penipu. Sebagaimana telah diterangkan bahwa agama adalah jalan  hidup. Oleh karena itu, agama harus diajarkan untuk menjadi jalan hidup,  sehingga pemeluk agama bisa hidup tenang, bahagia dan bersemangat dalam  menjalani hidup. Agama harus diajarkan untuk menjadi landasan moral dan  perilaku, sehingga agama benar-benar sebagai nilai luhur dan menjadi  rahmat bagi semesta alam.</p>
<p>Syekh tidak ingin membohongi masyarakat  Jawa, oleh karena itu agama islam diajarkan dengan cara yang pas bagi  bumi dan manusia Jawa. Untuk hal itu diperlukan penafsiran, dan tidak  disebarkan dalam bentuk budaya asalnya. Agama tidak disebarkan dengan  kekuasaan raja, sebab menurut Syekh raja yang memanfaatkan agama adalah  raja penipu. Sering terjadi bahwa untuk memenuhi kepentingan penguasa,  agama dijadikan alat menguasai rakyat. Agama yang seharusnya dikuasai  oleh rakyat, yang terjadi justru sebaliknya yaitu rakyat yang dikuasai  oleh agama.</p>
<p>Jika di Eropa pada abad ke-19 orang-orang mulai  mempertanyakan peranan agama, dan bahkan ada yang memandang bahwa agama  sebagai candu bagi masyarakat dan harus disingkirkan dari gelanggang  kehidupan bernegara, maka empat ratus tahun sebelumnya Syekh Siti Jenar  justru ingin menerapkan agama sebagai penyegar dan pencerah bagi  pemeluknya. Oleh karena itu, agama diajarkan tanpa melibatkan kekuasaan  negara. Di sinilah Syekh bertabrakan dengan kepentingan Walisanga.</p>
<p>Syekh  amat sadar bahwa di dunia ini penuh dengan tipu daya. Hampir di semua  negara pada waktu itu terjadi relasi keuasaan antara raja/penguasa  dengan para tokoh agama. Dengan kata lain, raja dan tokoh agama berbagi  kekuasaan. Yang dikuasai dan yang dijadikan pijakan hidup oleh raja dan  tokoh agama adalah rakyat. Inilah yang oleh Syekh disebut sebagai  penipuan. Oleh karena itu, sudah waktunya agar agama benar-benar menjadi  milik masyarakat, dan negara tidak mengurusi agama. Yang diurusi oleh  negara adalah tegaknya hukum positif, perlindungan bagi setiap orang  tanpa memandang agama dan kepercayaannya. Yang diurusi oleh negara  adalah kemakmuran, kesejahteraan, dan keadilan sosial bagi seluruh  rakyat.</p>
<p><strong>Ajaran pokok yang kesembilan</strong>: segala sesuatu di alam  semesta adalah Wajah-Nya. Inilah ajaran puncak dari Syekh Siti Jenar.  Dunia adalah manifestasi wujud yang satu, dan hakikat keberadaan  bukanlah dualitas. Sehingga, kemana pun kita hadapkan diri kita, maka  sesungguhnya kita senantiasa menghadap Wajah-Nya. Semua adalah  penampakan Wajah-Nya. Sekarang marilah kita cicipi dua bait puisi dari  Syekh Siti Jenar.<br />
<em><br />
Bersanggama dalam keberadaan<br />
diliputi yang ilahi<br />
hilanglah kehambaannya<br />
lebur lenyap sirna lelap<br />
digantikan keberadaan Ilahi<br />
kehidupannya<br />
adalah hidup Ilahi</em></p>
<p><em>Lahir batin keberadaan sukma<br />
yang disembah Gusti<br />
Gusti yang menyembah<br />
sendiri menyembah-disembah<br />
memuji-dipuji sendiri<br />
timbal balik<br />
dalam hidup ini<br />
</em><br />
Jadi,  pada puncak perenungan dan keheningan diri terjadilah penegasian  eksistensi diri yang terkurung raga. Ditegaskan bahwa kehambaan telah  lenyap, sudah hilang. Bila kehambaan masih tetap eksis maka di alam  semesta ini masih berada dalam keadaan dualitas. Keadaan inilah yang  menyebabkan orang terpisah dengan Tuhannya, meskipun secara konseptual  diketahui bahwa Sang Pencipta lebih dekat daripada urat lehernya. Akan  tetapi, selama keadaan dualitas belum sirna maka secara faktual Tuhan  masih jauh daripada urat lehernya, karena Tuhan dianggap berada di luar  dirinya.</p>
<p>Ada dualitas artinya kita mengakui ada dua keberadaan, yaitu  ada yang inferior (keberadaan yang kualitasnya lebih rendah) dan ada  yang superior (keberadaan yang kualitasnya lebih tinggi). Jika demikian,  kedua jenis keberadaan itu tumbuh melalui proses. Semua yang tumbuh  melaui suatu proses, bukanlah keberadaan yang kekal. Dan, bilamana tiada  keberadaan yang kekal, maka tak mungkin ada fenomena atau penampakan di  alam semesta.</p>
<p>Kita hidup di dunia ini karena kita kanggonan  (didiami) urip (hidup) yang diberikan oleh Tuhan. Namun, badan jasmani  ini hanyalah fenomena yang terikat oleh ruang, waktu, situasi  psikologis. Hakikatnya badan jasmani ini tidak ada karena badan jasmani  ini seperti gambar yang menumpang di layar perak atau layar kaca. Kalau  layar digulung atau dimatikan ya lenyaplah fenomena tersebut. Jadi,  memang benar bahwa dunia ini panggung sandiwara, dan kita adalah  pemain-pemain sandiwara. Oleh karena itu, kita harus dapat memainkan  peran kita masing dengan baik.</p>
<p>Lalu, apa sasaran utama pelenyapan  dualitas? Sasaran pokoknya adalah menumbuhkan kesadaran akan ke-Satu-an,  Oneness, dalam kehidupan ini, baik kehidupan kita sebagai individu  maupun secara kolektif. Dengan lenyapnya perasaan dualitas dalam hidup  ini, maka jarak antara kawula dan Gusti akan hilang. Akan lahir  individu-individu yang menjadi dirinya sendiri, dan dalam kehidupan  sosial akan tercipta interaksi antar warganya secara tim, sehingga semua  akan memenuhi fungsinya masing-masing dalam kehidupan. Sekat antara  pemimpin dan yang dipimpin akan hilang, dinding penyekat antara raja dan  rakyatnya akan runtuh. Bila ini sudah terjadi, maka tak akan ada lagi  eksploitasi terhadap sesama manusia.</p>
<p>Pelenyapan sekat antara kawula  (hamba, rakyat, atau bawahan) dan Gusti (raja, pemimpin, atau atasan)  akan melahirkan satu keberadaan yang disebut Manunggaling Kawula Gusti.  Keberadaan MKG ini akan menggugurkan kehidupan yang berkasta dan  merontokkan feodalisme. Relasi sesama manusia berupa simbiose  mutualisme, yaitu hubungan yang saling menguntungkan. Sesama manusia  hidup dalam suasana liberte, egalite dan fraternite, yaitu hidup dalam  kemerdekaan, persamaan dan persaudaraan antara sesama manusia di dunia  ini. Dari sinilah Syekh membangun hubungan warga dengan wadah yang  disebut masyarakat, yang tidak dijumpai di Timur Tengah pada waktu itu.</p>
<p>Memang  masyarakat merupakan kosa kata yang dibentuk dari unsur-unsur kata  Arab, yaitu dari syarika yang artinya menjadi sekutu; dan masyarakat  adalah kumpulan orang-orang yang bersekutu. Jadi, setiap anggota  masyarakat itu seperti sel-sel tubuh yang independen, namun selalu  berinteraksi sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing. Setiap  anggota masyarakat mengetahui tugasnya.</p>
<p>Terciptalah jalinan kasih.  Inilah surga yang sesungguhnya yang harus diwujudkan di dunia ini.  Dengan demikian, konsep MKG sebenarnya untuk menciptakan kehidupan  bersama dalam mencapai kejayaan!</p>
<p>Jakarta (Hotel Indonesia Kempinski-Grand Indonesia), 19 Mei 2009</p>
<p><strong>Achmad Chodjim</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://refleksi.alfisatria.com/masih-relevankan-ajaran-syekh-siti-jenar-dewasa-ini/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Isra Mikraj Menuntun Peningkatan Kecerdasan dan Spiritualitas</title>
		<link>http://refleksi.alfisatria.com/isra-mikraj-menuntun-peningkatan-kecerdasan-dan-spiritualitas</link>
		<comments>http://refleksi.alfisatria.com/isra-mikraj-menuntun-peningkatan-kecerdasan-dan-spiritualitas#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Nov 2010 13:14:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Achmad Chodjim]]></category>
		<category><![CDATA[Isra' Mi'raj]]></category>
		<category><![CDATA[isra' mi'raj]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://refleksi.alfisatria.com/?p=23</guid>
		<description><![CDATA[oleh Achmad Chodjim Isra mikraj merupakan fase yang cukup menentukan dalam sejarah kerasulan Nabi Muhammad. Apa makna isra dan mikraj bagi perjuangan Nabi Muhammad dalam membangun masyarakat yang beliau idamkan? Berikut perbincangan Novriantoni dan Abd Moqsith Ghazali dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Achmad Chodjim, penulis beberapa buku tentang spiritualitas dan mistisisme Islam, Kamis (8/9) [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh <strong>Achmad Chodjim</strong></p>
<p>Isra mikraj merupakan fase yang cukup menentukan dalam sejarah kerasulan Nabi Muhammad. Apa makna isra dan mikraj bagi perjuangan Nabi Muhammad dalam membangun masyarakat yang beliau idamkan? Berikut perbincangan Novriantoni dan Abd Moqsith Ghazali dari Jaringan Islam Liberal (JIL) dengan Achmad Chodjim, penulis beberapa buku tentang spiritualitas dan mistisisme Islam, Kamis (8/9) lalu.</p>
<p><span id="more-23"></span><strong>ABD. MOQSITH GHAZALI (JIL): Mas Chodjim, bisa digambarkan suasana psikologis Nabi Muhammad sebelum isra mikraj?</strong></p>
<p>ACHMAD CHODJIM: Kalau kembali ke Sirah Nabi, sebelum isra mikraj itu telah terjadi berbagai peristiwa yang sangat menegangkan atau memberatkan secara psikologis bagi kehidupan Nabi. Sebelum tahun ke-10 kenabian, Nabi baru saja terbebas dari boikot orang-orang kafir Quraisy. Dari pelbagai peristiwa itu, Nabi terinspirasi untuk mencari lahan baru guna mengembangkan nilai-nilai Islam.</p>
<p><strong>JIL: Seperti apa boikot masa itu?</strong></p>
<p>Boikot ekonomi. Dalam bahasa sekarang: embargo ekonomi. Memang, sejak dulu sektor ekonomi merupakan sarana yang penting bagi keberlangsungan suatu umat. Nah dari situ kita tahu, pada masa itu Nabi telah coba mendatangi orang-orang Thaif, tapi sambutan mereka tidak menguntungkan. Di tengah berbagai tekanan itulah Allah membuka jalan bagi Nabi supaya perjuangannya berhasil. Karena itu di dalam Alqur’an dikatakan, <em>“Maha suci Tuhan yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam, dari masjidil haram menuju masjidil aqsha yang telah telah diberkati sekelilingnya.”</em> Itulah ayat yang berkenaan dengan isra.</p>
<p>Sementara soal mikraj tercantum di dalam surah an-Najm. Dari ayat 13 sudah dijelaskan bahwa Nabi semakin dekat dan bertambah dekat dengan Tuhan, bahkan jarak kedekatannya ibarat dua busur panah atau kurang. Ketika Nabi begitu dekat, maka Allah sendiri yang mengajarinya cara hidup. Hanya saja, tafsiran yang ada selama ini secara umum menegaskan bahwa yang datang untuk mengajarkan Nabi itu adalah malaikat Jibril. Kalimat <em>`allamahu</em> <em>syadîdul quwâ </em>di situ diidentifikasi sebagai Jibril. Padahal artinya lebih umum, yaitu “Ia dituntun oleh Yang Mahakuat”. Kata “Yang Mahakuat” itu bisa bermakna Allah sendiri.</p>
<p>Jadi yang mengajari Nabi Muhammad di situ adalah sosok Yang Makakuat atau Allah. Dan keterangan itu selaras dengan ayat lain di surah ar-Rahman, yang menerangkan bahwa sosok yang mengajarkan Alqur’an itu adalah Allah sendiri. Dengan tafsir begini, yang disebut mikraj dapat diartikan sebagai “posisi yang dicapai seorang hamba dalam proses mendekatkan dirinya kepada Tuhan, sehingga tersingkap baginya semua rahasia kehidupan”.</p>
<p><strong>JIL: Apakah tekanan-tekanan psikologis dalam hidup itu sendiri yang membuat spiritualitas atau kedekatan Nabi dengan Tuhan begitu tak berjarak?</strong></p>
<p>Tidak harus begitu. Karena begitu seseorang berada dalam himpitan hidup, dia akan menghadapi dua kemungkinan. Pertama, orang itu akan bangkit, dan kedua ia malah akan berputus asa. Nah, pada kasus Nabi yang sedari awal sudah punya visi, telah menyiapkan diri, serta sudah pula mengamalkan <em>iqra’ </em>(merenungkan hidup, Red)<em> </em>ketika menerima wahyu pertama kali, himpitan hidup justru mendorongnya untuk semakin <em>taqarrub </em>atau mendekatkan diri pada Allah. Kasus ini berbeda dengan orang yang tidak memiliki misi dan visi dalam hidup. Jadi hidup memang harus dituntun oleh sebuah misi.</p>
<p>Jadi dalam konteks ini, isra mikraj bukan sekadar rekreasi. Selama ini, kata <em>isrâ</em> secara harfiah selalu diterjemahkan dengan “perjalanan di malam hari”<em>.</em> Padahal, kata <em>isrâ’ </em>itu sendiri, kalau dirujuk ke kata dasar Arabnya bisa bermakna “sebuah pencarian”. Kata <em>sâriyah</em> yang satu dasar kata dengan <em>isrâ’</em> berarti pencarian. Jadi <em>isrâ’</em> di sini bisa berarti “proses pencarian yang akan melepaskan diri seseorang dari kegelapan hidup”.</p>
<p><strong>JIL: Tapi mengapa proses pencarian itu harus melewati Yerussalem? Apa artinya?</strong></p>
<p>Sebenarnya tidak ada petunjuk harfiah dalam Alquran yang menerangkan bahwa masjidil haram yang dimaksud adalah yang ada di Mekah, dan masjidil aqsha di situ adalah yang berada di Yerussalem. Kata <em>masjid</em> ketika ayat itu turun, belum lagi terwujud secara fisik. Jadi pengertian masjidil haram di situ sebenarnya lebih bisa dipahami secara makrifat, bukan harfiah. Yang sudah ada dalam fakta sejarah waktu itu adalah Kakbah, bukan masjidil haram. Dan secara urutan sejarah, masjid yang pertama dibangun Nabi adalah Masjid Quba’ setelah beliau hijrah ke Madinah.</p>
<p><strong>JIL: Jadi apa makna masjidil haram dan masjidil aqsha di situ?</strong></p>
<p>Karena masjidil haram dan masjidil aqsha secara fisikal belum ada, kita perlu selidiki lebih lanjut apa yang dimaksud dengan keberangkatan nabi dari masjidil haram ke masjidil aqsha di dalam ayat itu. Konon, sebelum itu Nabi pernah didatangi Jibril, lalu dadanya dibelah dan hatinya dibersihkan. Artinya, sebuah perjalanan untuk keluar dari kegelapan haruslah lebih dahulu terbebas dari segala macam perilaku haram lewat pensucian diri. Makanya di redaksi ayat itu disebut masjidil haram.</p>
<p>Lalu kenapa dibawa ke masjidil aqsha? Supaya beliau dapat memahami berkat Tuhan yang ada di sekelilingnya. Makna masjidil aqsha di situ secara umum bermakna masjid yang amat jauh. Kita tahu, secara bahasa, kata masjid itu bisa berarti “setiap lahan dan setiap jengkal tanah yang bisa digunakan untuk bersujud”. Makanya ada istilah <em>kullu ardlin masjidun, </em>atau setiap jengkal tanah dapat dijadikan tempat bersujud.</p>
<p>Ini artinya, di mana saja kita berada, kita harus bisa tetap bersujud pada Tuhan. Namun supaya orang bisa bersujud sedalam-dalamnya—sebagai makna simbolik masjidil aqsha—seseorang harus berangkat dari masjidil haram, atau proses pensucian diri, perilaku, dan alam pikirannya. Kalau pikiran kita hanya dipenuhi kekeruhan, sentimen dan kedengkian, kita tidak akan bisa <em>isrâ’.</em></p>
<p>Nah, selama ini isra’ mikraj itu hanya kita kenang sebagai kisah yang hanya dialami secara pribadi oleh Nabi Muhammad. Padahal, sebagaimana dikatakan Alquran: “<em>Laqad kâna lakum fî rasûlilLâh uswatun <span style="text-decoration: underline;">h</span>asanah.”</em> Jadi, apa-apa yang dialami Nabi itu adalah teladan mulia. Jadi makna isrâ&#8217; mikraj itu bagian dari teladan, bukan hanya kisah.</p>
<p><strong>JIL: Apa yang bisa diteladani dari kisah itu, Mas Chodjim?</strong></p>
<p>Pertama-tama, kita harus bisa isra<em>.</em> Artinya, kita harus bisa ber-<em>takhallî, </em>atau menyingkirkan hal-hal negatif yang ada dalam diri kita. Tahapan ini dilambangkan lewat proses dibersihkannya hati Nabi. Lalu dari situ kita berangkat menuju tempat persujudan yang lebih jauh, karena di situ kita akan naik. Sebab istilah <em>mi`râj</em> berasal dari kata `<em>araja</em> yang berarti naik atau meninggi. Artinya, kita dituntut untuk naik peringkat dalam soal kecerdasan dan spiritualitas.<strong> </strong></p>
<p><strong>JIL: Berarti Anda tidak terlalu tertarik dengan polemik apakah isra mikraj itu terjadi dengan jasad atau jiwa saja, atau dengan keduanya <em>(jasadan wa rû<span style="text-decoration: underline;">h</span>an)</em>?</strong></p>
<p>Bagi saya tidak terlalu penting apakah isra mikraj itu berkaitan dengan jasad, dengan ruh saja, atau dengan keduanya. Yang penting bagi saya adalah makna apa yang bisa kita terapkan di dalam hidup ini dari teladan kisah itu. Misalnya dalam kisah itu digambarkan bahwa setelah mikraj, Nabi sempat bertatap muka dengan Tuhan di <em>sidratul muntahâ,</em> tempat di mana Jibril sendiri tidak bisa menempuhnya. Dari situ saya menangkap bahwa hakikat spiritualitas kemanusiaan itu melampaui spiritualitas malaikat yang selama kita anggap paling tinggi sekalipun.</p>
<p>Jadi dari spiritualitas itu, kita bisa sampai dan menjejekkan kaki di alam yang sudah tidak terlampaui lagi oleh makhluk-makhluk Tuhan lainnya. Dari situ kita bisa bertatap muka dan berdialog langsung dengan Yang Mahamutlak. Makanya, di dalam Alquran surah an-Nûr dikatakan bahwa Allah itu <em>al-<span style="text-decoration: underline;">H</span>aqqul Mubîn</em>. Jadi, Tuhan itu sebenarnya kebenaran <em>(al-<span style="text-decoration: underline;">H</span>aq) </em>yang nyata atau <em>al-mubîn. </em>Jadi Dia tidak sekadar ghaib. Tuhan itu Kebenaran yang Nyata; bukan semata-mata dalam keyakinan Ia ada, tapi juga dalam bentuk Eksistensi yang bisa kita tatap, kita pandang.</p>
<p><strong>JIL: Anda menyebut Tuhan sebagai Kebenaran yang Nyata. Namun, tentu tak gampang mengenali Kebenaran yang Nyata itu. Bagaimana proses utuk sampai pada Kebenaran itu kalau berteladan dari kisah isra mikraj?</strong></p>
<p>Kalau kita berteladan dari perjalanan Nabi untuk meraih kebenaran, pertama-tama kita harus prihatin terhadap segenap keburukan, keresahan, dan kerusuhan yang ada dalam masyarakat. Kita harus prihatin, bukan bangga. Kalau di masyarakat banyak kemiskinan, kriminalitas, dan lain sebagainya, kita harus prihatin. Berangkat dari kondisi itulah kita bisa membersihkan diri. Makanya, jauh sebelum isra mikraj, Nabi sudah membiasakan diri ber-<em>ta<span style="text-decoration: underline;">h</span>annuts </em>atau merenung di Gua Hira’. Perenungan itu bertujuan untuk melakukan peninjauan ulang atas kenyataan hidup.</p>
<p>Jadi, pertama-tama kita harus melakukan cek dan ricek atas kenyataan hidup. Dari situlah keprihatinan timbul, upaya untuk menyantuni orang-orang lemah bersemi. Ayat-ayat Alquran yang awal-awal banyak sekali yang berbicara soal itu. Jadi kita disuruh memperhatikan orang-orang lemah, anak yatim yang kurang mendapat kasih sayang, dan sebagainya. Setelah mampu memperjuangkan itu, itulah pertanda bahwa hati kita akan semakin mantap menatap kebenaran. Kalau hanya prihatin, belum mengamalkan apa yang perlu, kita belum merealisasikan kebenaran.</p>
<p><strong>JIL: Mas Codjim, apa komentar Anda tentang kisah populer soal perundingan alot Nabi menyangkut jumlah salat?</strong></p>
<p>Sebenarnya kita tidak boleh telalu terpancing soal detail dialog itu. Kita seharusnya melihat fungsi salatnya saja. Mungkin yang perlu ditanya: mengapa perundingan itu begitu alotnya? Kita tahu, tujuan pokok salat sebagaimana disebutkan Alquran adalah untuk mencegah kehidupan yang penuh kekejian dan kemungkaran. Untuk mencapai tujuan itu, perlu upaya tersendiri. Dengan semata-mata menjalankan salat, orang tidak otomatis terhindar dari perbuatan keji dan munkar. Tujuan lain salat kalau merujuk Alquran adalah untuk berzikir kepada Allah; <em>wa aqîmus shalât lidzikrî.</em> Tapi zikir di situ tidak boleh juga dimaknai sekadar mengingat. Kalau hanya mengingat kata-kata (lafaz Allah) saja, anak kecil pun bisa melakukannya. Jadi kata “mengingat” di sini bisa bermakna “mengingat kebenaran yang sudah dirasakan, ditatap, atau yang telah dihayati”.</p>
<p><strong>JIL: Artinya, salat itu medium umat Islam untuk mikraj, atau meningkatkan spiritualitas?</strong></p>
<p>Betul. Makanya ada hadis yang berbunyi <em>”as-shalâtu mi`râjul mu’minîn” (salat itu adalah mikrajnya kaum beriman, Red).</em> Jadi, selain ada mikraj besar atau akbar, ada juga mikraj kecil atau ashghar, yaitu salat kita sehari-hari. Jadi, kita tidak hanya diminta menjalankan salat, tapi juga menegakkannya. Di dalam Alquran soal itu sudah disebutkan panjang lebar. Konsekuensi “menegakkan salat” itu termasuk menyantuni fakir miskin, anak yatim, menjaga kemaluan, dan lain sebagainya. Dalam bahasa ringkasnya, semua itu disebut <em>tanhâ `anil fahsyâ’i wal munkar,</em> mencegah yang keji lagi munkar.</p>
<p>Jadi isi menghindar dari yang keji dan mungkar itu<strong> </strong>banyak sekali. Kesalahan kita selama ini, salat hanya dimaknai mengerjakan salat itu sendiri lengkap dengan rukun-rukunnya. Kalau hanya mengerjakan, jangan heran kalau Allah juga pernah menyebut orang-orang yang salat bisa celaka. <em>Fa wailun lil mushallîn </em>atau celakalah orang-orang yang mengerjakan salat, kata Allah. Kalau sekadar mengerjakan salat, pasti tidak ada aspek jelas yang dituju. Makanya dalam hadis dikatakan: <em>“Orang yang rajin salat tetapi tidak mampu menjauhkan diri dari perbuatan keji dan munkar, akan menjauhkan dirinya dari Tuhan.”</em></p>
<p><strong>JIL: Mas Chodjim, setelah Nabi menerima perintah salat sebagai upaya mencapai ketinggian spiritualitas, ia kembali turun ke bumi. Apa maknanya?</strong></p>
<p>Itu artinya, ketika kita sudah sampai di <em>sidratul muntahâ</em>, kita sudah sampai pada posisi yang sangat enak. Posisi itu tidak akan dicapai segenap makhluk lain kecuali manusia. Namun, <em>sidratul muntahâ</em> itu bukan tempat di mana manusia bisa menjalankan misi hidup. Makanya ada proses <em>nuzûl</em> atau turun ke bumi dalam kisah Nabi. Setelah datang lagi ke bumi, Nabi langsung melaksanakan tindak sosial, mengupayakan perdamaian, kemudian merancang proses hijrah (transformasi sosial, Red).</p>
<p>Jadi, hijrah itu adalah buah dari mikraj. Kalau seseorang tidak pernah mikraj, maka tidak akan ada tahapan hijrah. Jadi kedua hal itu berurutan. Dan setelah peristiwa mikraj, Nabi terus diminta hijrah. Setelah hijrah, ia diminta berjihad. Jadi isra, mikraj, hijrah, dan jihad itu bergandengan. Selama ini kita salah memaknai hijrah, salah pula memaknai jihad.</p>
<p><strong>JIL: Anda menyebut rangkai peristiwa yang beruntun; tahun-tahun kesedihan, isra mikraj, hijrah dari satu keadaan ke keadaan lain, lalu jihad. Tampaknya, fase-fase itu berlangsung lewat tuntunan spiritual dari Tuhan langsung. Apa memang seperti itu proses pembangunan masyarakat?</strong></p>
<p>Ya. Suatu masyarakat tidak akan bisa melakukan suatu perjalanan tanpa rambu atau marka jalan yang hendak dituju. Kalau semua itu tidak dibeberkan lebih dahulu, tidak akan terjadi kemajuan transformasi sosial. Jadi itu merupakan suatu struktur yang telah berurut. Kalau kita mau jadi seorang profesor, kita harus betul-betul sekolah, berupaya mencapai tahapan-tahapannya. Kalau ingin kaya, modal finansial saja tidak akan memadai, tapi juga perlu kerja keras, keahlian, dan punya strategi. Nah, semua itu sebenarnya baru bisa dibeber setelah manusia itu pernah mikraj<em>.</em> Sebab setelah mikraj, seseorang akan mengalami ketenangan batin yang luar biasa. Di saat batin telah tenang itulah kita baru bisa melihat persoalan dengan jernih.</p>
<p><strong>JIL: Tapi kenyataannya, ada saja orang sukses tanpa menapaki proses-proses spiritual. Bagaimana menjelaskan perkecualian itu?</strong></p>
<p>Itu sangat terkait dengan persepsi kita tentang sukses. Apa <em>sih</em> yang disebut sukses? Kita tidak bisa menilai sukses hanya ketika seseorang telah mendapat segebok materi. Kalau itu yang jadi ukuran, tidak akan ada orang kaya yang ingin bunuh diri. Kenyataannya, banyak orang kaya yang malah putus asa. Kita tahu bagaimana kondisi Elvis Presley ketika dia berada di puncak ketenarannya. Dia malah putus asa dan banyak minum obat tidur. Jadi kalau hanya melihat ukuran materi, kita tidak bisa menyebutnya sukses. Sebab, orang sukses tentu tak perlu putus asa. Jadi, spiritualitas bukan hanya selalu perlu, tapi<strong> </strong>merupakan bagian pokok dari kehidupan.</p>
<p><strong>JIL: Jadi ringkasnya apa makna isra’ mikraj untuk kita saat ini?</strong></p>
<p>Di dalam kisah isra mikraj ada satu pesan yang maha tinggi nilainya, yaitu perjumpaan para nabi lain dengan Nabi Muhammad. Konon Nabi Muhammad menjadi imam salat mereka. Apa arti kisah simbolik itu? Sebagai umat Nabi terakhir yang sudah mempelajari persoalan umat nabi-nabi sebelumnya, kita tentu akan menghadapi persoalan sebanyak yang pernah dihadapi nabi-nabi sebelumnya. Karena itu kita diperintahkan untuk beriman bukan hanya pada seorang Rasul (Nabi Muhamad saja), tapi <em>‘âmantu bilLâhi wa malâikatihi wa kutubihi wa rusulihi </em>(beriman kepada Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan para rasul-Nya, Red). Dengan mengimani semua rasul, kita bisa mengambil hikmah. Salah satu pesan penting isra&#8217; mikraj juga adalah agar kita bisa mengambil hikmah dari ajaran berbagai rasul sebelum Nabi Muhammad. Dengan begitu, kita bisa bertindak lebih arif. []</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://refleksi.alfisatria.com/isra-mikraj-menuntun-peningkatan-kecerdasan-dan-spiritualitas/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Peradaban TUHAN, Peradaban MANUSIA: Tak Usai-usainya</title>
		<link>http://refleksi.alfisatria.com/peradaban-tuhan-peradaban-manusia-tak-usai-usainya</link>
		<comments>http://refleksi.alfisatria.com/peradaban-tuhan-peradaban-manusia-tak-usai-usainya#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Nov 2010 13:08:48 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reinkarnasi]]></category>
		<category><![CDATA[Salahuddien Gz]]></category>
		<category><![CDATA[reinkarnasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://refleksi.alfisatria.com/?p=21</guid>
		<description><![CDATA[oleh Salahuddien Gz. Sebagai tahapan yang harus dilalui wujud lahir, tingkatan wujud berikutnya akan berproses sesuai dengan rancangan wujud sebelumnya. Dengan jalan seperti ini muncullah ribuan perubahan. Dan tiap perubahan selalu lebih baik dari sebelumnya. Sadarilah selalu  wujudmu saat ini karena jika kau berpikir tentang wujudmu di masa lalu, maka kau akan memisahkan dirimu dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh <strong>Salahuddien Gz.</strong></p>
<p>Sebagai tahapan yang harus dilalui wujud lahir, tingkatan wujud berikutnya akan berproses sesuai dengan rancangan wujud sebelumnya. Dengan jalan seperti ini muncullah ribuan perubahan. Dan tiap perubahan selalu lebih baik dari sebelumnya. Sadarilah selalu  wujudmu saat ini karena jika kau berpikir tentang wujudmu di masa lalu, maka kau akan memisahkan dirimu dari Diri sejatimu. Inilah semua keadaan yang tetap yang kau saksikan dalam kematian. Lalu mengapa harus kaupalingkan mukamu dari kematian? Ketika tahapan kedua lebih baik dari tahapan pertama, maka matilah dengan senyum suka cita. Dan arahkan pandanganmu ke depan untuk menempati wujud baru yang lebih baik dari wujud sebelumnya. Sadarilah, dan jangan tergesa-gesa. Kau harus mati terlebih dulu sebelum memperbaiki diri. Laksana sang surya, hanya jika kau tenggelam di Barat, maka di Timur, kau akan menyaksikan wajahmu yang cerlang gemilang. <strong>(<em>Masnawi,</em> Jalaluddin Rumi, dari buku <em>Reincarnation and Islam</em>)</strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><span id="more-21"></span></p>
<p><strong>Pengantar</strong></p>
<p>Setiap benda, wujud, atau materi yang tercipta, tentunya memiliki masa eksis keberadaannya, yaitu masa kelahiran dan kematian, kemunculan dan kemusnahan, terbit dan tenggelam. Seperti gelombang samudera yang mengalami pasang dan surut, tidak terhitung banyaknya berapa peradaban yang muncul kemudian mengalami masa kejayaan lalu sirna ditelan waktu. Bumi, alam semesta yang kita tempati saat ini, sebagai sesuatu yang tercipta tentunya memiliki masa awal penciptaan dan masa berakhirnya suatu ketika. Dalam buku <em>Naradha bhakti Sutra</em>, Bapak Anand Krishna menggunakan istilah <em>kalpa</em> untuk merujuk pada “satu masa penciptaan”. Awal dari kalpa disebut <em>shristi,</em> sedang akhir dari kalpa disebut <em>pralaya</em> (kiamat, armagedon)<em>.</em> Bumi yang kita tempati ini tercakup dalam kalpa yang bermula pada suatu momentum dan suatu saat akan mengalami pralaya atau kiamat jika semesta ini sudah tidak bisa mempertahankan keberadaannya. Sesungguhnya kalpa kita kali ini adalah kelanjutan dari kalpa sebelumnya. Meskipun kiamat adalah akhir dari penciptaan keberadaan pada satu siklus penciptaan tertentu, namun kiamat bukanlah akhir dari segalanya. Sebab jika satu siklus penciptaan berakhir, maka akan segera diikuti dengan siklus penciptaan berikutnya.</p>
<p>Jadi saya yakin, sesungguhnya telah ada ribuan kali bumi seperti yang kita tempati atau justru tak terbatas  jumlahnya. Jika bumi dan semesta ini mengalami kehancuran alias kiamat, maka penciptaan baru akan dimulai lagi. Karena Tuhan tidak berawal dan berakhir, maka sifat <em>maha mencipta</em> yang inherent dalam wujudNya pun tidak  berawal juga tidak berakhir. Ia tak punya awal sehingga energi kreatifnya abadi di masa lalu. Ia  tak punya akhir sehingga energi kreatifnya pun abadi di masa depan. Dan <em>berkehendak</em> atau <em>mencipta</em> adalah sifat Tuhan yang maha utama. Mencipta adalah hobiNya yang tak bisa diganggu gugat, bahkan oleh diriNya sendiri. Tuhan tak pernah menganggur di masa lalu. Dan ia tak akan mengalami masa pensiun. Sebelum dunia yang kita tempati saat ini tercipta, Dia telah menciptakan dunia yang tak terbatas jumlahnya di masa lalu sebelum masa kita hari ini. Dan manusia yang hidup di bumi sekarang adalah kelanjutan dari manusia yang hidup di bumi masa lalu pada kalpa terdahulu. Jika manusia belum mengalami penyatuan dan penyucian energi murni dalam dirinya, maka ia akan terus melintasi kalpa demi kalpa sampai ia mengalami penyatuannya dengan semesta. Manusia yang tercerahkan dan <em>moksha</em> pada kalpa saat ini akan menjadi bahan bakar bagi penciptaan pada kalpa berikutnya.</p>
<p>Imajinasikanlah, bahwa Anda hidup dalam bumi di masa lalu sebelum terciptanya bumi yang Anda tempati hari ini. Dan di dalam bumi yang telah lalu, Anda naik kereta api dengan kekasih Anda sambil merokok dan minum teh dari bumi masa lalu. Bayangkanlah bagaimana bentuk tubuh manusia saat itu, bibir kekasih Anda, lentik jemarinya yang Anda belai saat itu. Mungkinkah itu terjadi? Mengapa tidak? Dalam pengetahuanNya, segalanya serba ada dan serba mungkin. Saya sering membayangkannya saat kecil, dan pikiran ini memberikan sensasi pada saya bahwa saya adalah keabadian yang tak berawal dan tak berakhir, seperti Anda semua, meskipun yang namanya tubuh ini terus mengalami kebaruan dalam proses perjalanannya. Dan pemahaman ini membuat saya bisa lagi tertawa-tawa menyaksikan kemahadahsyatan dan ketakterbatasan energi kehidupan. Dan kelahiran juga kematian adalah peristiwa kecil di dalamnya yang ditertawakan oleh keheningan yang ditingkahi berjuta-juta basa-basi keramaian.</p>
<p>Dalam setiap penciptaan, keberadaan membutuhkan proses untuk mengaktualisasikan potensialitasnya dalam dunia wujud. Sejak dari peristiwa dentuman besar, <em>big bang</em>, sebagai permulaan terbentuknya semesta (jika kita menggunakan teori itu)<em> </em>hingga terciptanya bumi dalam bentuknya yang masih awal dan panas, hingga munculnya bentuk-bentuk kehidupan yang kita sebuat sebagai mineral, tumbuhan, hewan dan pada puncak kesadarannya sebagai manusia, maka proses aktualisasi penciptaan itu tidak bisa tidak memerlukan hukum evolusi, hukum perjalanan. Seperti dalam puisi Rumi di atas, wujud kedua adalah kelanjutan yang memperbaiki wujud yang pertama. Dan evolusi itu mencakup baik evolusi tubuh, evolusi pikiran, maupun evolusi kesadaran.</p>
<p><strong>Asal Usul Manusia</strong></p>
<p>Segala sesuatu berjalan dan berproses untuk mencapai penyempurnaanya. Segala sesuatu tidak bisa tercipta secara langsung dengan sendirinya seperti permainan sulap. Kehendak, dunia Ide, ketika direalisasikan dalam dunia riil harus menapaki waktu untuk melalui tahapan-tahapan sampai akhirnya mencapai tahapan yang diinginkannya. Ketika Tuhan berkehendak <em>Kun! </em>(jadilah!) maka  kehendaknya itu <em>fayakun.. </em>yang artinya <em>tengah</em> berproses dan <em>akan</em> teraktualisaisi sesuai dengan rencana keabadian (<em>plan of logos</em>) yang terkandung dalam kehendak itu sendiri. Dan hal itu membutuhkan waktu yang sangat panjang dan mengasyikkan.</p>
<p>Manusia adalah tujuan akhir penciptaan Tuhan (saya memaknai Tuhan sebagai energi keberadaan yang abadi dan tak terbatas, Logos). Karena apa? Dalam diri manusialah, Tuhan bisa menyadari diriNya sendiri. Ia bisa bercermin dalam hati manusia. Ia bisa menyaksikan ribuan sifatNya dalam pribadi manusia. Dalam bahasa Kristiani, Tuhan menciptakan manusia sesuai dengan <em>citranya</em>. Jika diijinkan, Tuhan adalah seorang <em>narsis</em> sejati yang sangat mencintai diriNya sendiri, cemburu pada diriNya sendiri sehingga Ia menciptakan imaji tentang keindahan <em>saban malam</em>, merindukan kekasihNya yang bernama manusia yang konsepnya telah ada dalam diriNya. Dan adakah yang lebih serupa ketimbang keserupaan pencinta dan kekasihnya?</p>
<p>Sebelum memulai penciptaan, tujuan akhir telah dibayangkan terlebih dulu olehNya. Ia menciptakan konsep manusia sejati, <em>insan kamil, übermensch</em>. Pada diri manusia yang telah mencapai puncak kesadaran itulah Tuhan mampu melihat wajahNya secara total. Namun sebelum mencapai bentuk fisik, pikiran, dan kesadaran manusia, berturut-turut kehidupan mengalami fase demi fase untuk menyempurnakan evolusinya. Dan itu membutuhkan waktu berjuta-juta tahun, dalam hitungan waktu fisikal pikiran. Dalam proses evolusi ini, ilmu pengetahuan modern telah menjelaskan dengan cukup baik meski masih ada unsur spekulatif di dalamnya. Dan sebelumnya, hukum evolusi ini telah dipahami dengan baik oleh para mistikus zaman dahulu dengan penyaksian langsung, <em>knowledge by presence</em>. Cermatilah kesaksian Jalaluddin Rumi setelah menyaksikan proses evolusi spiritualnya dalam alam meditasinya berikut ini:</p>
<p>Dulunya aku adalah mineral, lalu berkembang menjadi tumbuhan. Mati dari mineral aku lalu muncul sebagai binatang. Mati dari binatang aku lalu menjadi manusia. Lalu mengapa mesti  takut kalau kematian akan merendahkanku? Kehidupan berikutnya akan menjadikanku sebagai seorang malaikat. Lalu akan berubah lagi dalam sesuatu yang tak terkatakan. Dan segala sesuatu seakan bersaksi: <em>kepadaNya kita akan kembali</em>.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Dalam kesaksiannya itu, Rumi menuturkan pada kita bahwa dalam tubuh manusia sesungguhnya tersimpan jejak-jejak perjalanan kehidupan dari tingkatan materi rendah, di mana kesadaran Tuhan masih “terlelap” di sana, hingga tingkatan tumbuhan, dan hewan. Ada unsur mineral dan tumbuhan dalam tubuh manusia. Ada tersisa instink-instink hewani dalam karakter manusia. Dan sesungguhnya malaikat adalah manusia yang telah mengalami penyucian jiwa sampai pada taraf tertentu sehingga setelah mati, manusia suci itu masuk ke dalam alam astral, alam cahaya, alam dewa-dewi atau alam malaikat. Bisa pula manusia itu dikatakan masuk ke dalam dimensi <em>shambala</em> atau sorga. Namun malaikat masih belum sepenuhnya melebur dengan Tuhan sehingga ia musti lahir kembali ke dunia satu atau beberapa kali sampai mengalami penyatuan dengan semesta.</p>
<p>Demikianlah makna yang terkandung dari kalimat <em>Innaalillahi wa innaa ilaihi raajiuun</em> (sesungguhnya kita berasal dari Allah dan akan kembali pada Allah). Kalimat itu adalah dalil reinkarnasi dan evolusi yang paling banyak diucapkan oleh orang, namun jarang yang memahaminya secara holistik. Manusia tidak kembali pada sorga atau neraka, namun mereka akan kembali lagi pada dekap hangat Tuhan betapapun lama dan melelahkannya proses itu. Untuk itu, sebelum sampai pada buaian Tuhan, manusia harus mengalami proses evolusi lewat reinkarnasi berulang-ulang sampai jiwanya menyatu dengan semesta, sampai <em> mind</em> yang membuat dia terikat dengan hukum karma terlampaui.</p>
<p>Makhluk hidup yang pertama kali mampu menyadari dirinya dan sesuatu di luar dirinya secara spiritual adalah manusia yang struktur otak dan tubuhnya memungkinkannya untuk berpikir <em>reflektif</em>. Mampu menyadari antara <em>aku, kau,</em> dan <em>dia</em>. Beberapa saintis yang menyatakan, manusia sadar pertama itu adalah <em>homo sapiens.</em> Jika al-Quran menyatakan manusia pertama itu adalah Adam, sudah barang tentu Adam itu adalah <em>homo sapiens</em> seperti yang dimaksudkan oleh ilmuwan. Karena penyebaran hidup ini begitu luas dan beragam di seluruh wilayah bumi, tentunya Adam, <em>homo sapiens</em> itu  tidak hanya satu. Hal itu dibuktikan dengan beberapa penemuan fosil manusia kuno di beberapa belahan dunia termasuk di Indonesia. Jadi, ada Adam di Arab, di Afrika, Cina,  Australia, juga tidak ketinggalan di Nusantara. Dan setiap suku bangsa, agama dan kepercayaan yang beragam mempunyai konsep sendiri-sendiri dalam bentuk cerita mitis tentang manusia pertama sebagai nenek moyangnya. Sebagai contoh, orang India menyebut nenek moyangnya sebagai Manu. Hal itu juga didukung dengan fakta bahwa warna kulit dan bentuk tubuh manusia di beberapa tempat berbeda-beda. Meskipun, mungkin pertumbuhan kesadaran kemanusiaan di satu tempat lebih tinggi dibandingkan dengan tempat lain, sehingga peradaban di daerah tertentu lebih tua dan menyimpan energi yang lebih besar dibandingkan dengan tempat lain. sebagai contoh adalah peradaban India dan Persia yang sudah sangat lamanya itu. Jadi menurut saya, Adam sebagai nama tokoh historis adalah manusia pertama di dunia Arab yang telah mencapai kesadaran kemanusiaan. Namun, Adam sebagai konsep banyak jumlahnya.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Pemaknaan Kembali Kejadian Adam dalam Kitab Suci</strong></p>
<p>Konsep penciptaan Adam dalam al-Quran<strong> </strong>sebenarnya adalah cerita metaforis bergaya mitis untuk menjelaskan proses kemanusiaan secara universal. Jika cerita itu diterima sebagai fakta apa adanya tentunya akan menimbulkan banyak pertanyaan dan tidak <em>reasonable.</em> Sebenarnya kita semua adalah Adam. Tinggalnya Adam di surga saya maknai sebagai sebuah momen ketika manusia belum mengalami kesadaran diri, belum mengalami alam dualitas yang tercipta oleh <em>mind</em>nya. Ia masih menyatu dengan keberadaan. Ia belum bisa membedakan: baik dan buruk, cantik dan jelek, hitam dan putih. Jadi ia belum sadar. Ia belum <em>bebas.</em> Baik bebas untuk bertindak baik maupun bebas berbuat jahat. Surga adalah kondisi ketika pikiran belum beroperasi dalam diri manusia.  Manusia masih lelap dalam <em>kedamaian purbanya. </em>Kondisi adam ketika masih berada di surga saya ibaratkan sebagai seorang anak bayi hingga masa balitanya yang belum mengenal konsep baik dan buruk. Anak kecil yang masih suka berkejar-kejaran di lapangan menikmati jiwanya yang masih belum <em>terkutuk</em> oleh kebebasan ketika ia mengalami masa <em>berpikir</em>.</p>
<p>Buah khuldi, atau dalam Bibel disebut sebagai buah pohon larangan saya maknai sebagai  munculnya kesadaran dalam diri manusia. Ia sudah bisa membedakan realitas karena pikiran beroperasi dalam dirinya. Bisa pula dikatakan Adam tergoda oleh <em>pohon pengetahuan</em>, karena pikiran, atau pengetahuanlah yang membuat orang mulai teralienasi  dari kesatuan. Ia tercampak dari surga kesatuan, surga tauhid. Dalam bahasa Albert Camus, seorang eksistensialis keturunan Aljazair yang hidup di Perancis menyatakan: manusia dikutuk untuk bebas. Namun dengan kebebasan itu pulalah manusia bisa menyusun sejarah dan peradabannya di antara tegangan kebaikan dan kejahatan.</p>
<p>Iblis, ular, atau Hawa yang menggoda Adam saya maknai sebagai ego dalam diri manusia yang tersusun atas materi api. Karena ego, manusia terhempas dalam kehinaan. Namun, karena ego juga, sejarah manusia tercipta. Jadi semuanya ada gunanya. Hawa yang oleh banyak ulama dan teolog diartikan sebagai seorang wanita manja yang menggoda Adam hingga tergoda untuk makan buah laranngan itu, sebenarnya adalah hawa nafsu manusia. Karena dalam ayat lain dalam al-Quran, Tuhan memakai kata Hawa yang bermakna sebagai hawa napsu. Seperti kalimat: <em>Wanahannafsu anil hawa </em>(dan yang mampu menahan dirinya dari hawa napsu). Sangat  tidak adil jika wanita yang dijadikan kambing hitam, sebagai makhluk penggoda yang membangkitkan napsu sang Adam. Adam bisa saja lelaki, bisa wanita atau bahkan bisa pula banci. Bisa heteroseksual, homoseksual atau lesbian. Dalam al-Quran juga disebutkan: Tuhan mengajarkan nama-nama pada Adam. Nama-nama adalah kesadaran manusia untuk mengenali dunia semesta yang beragam sehingga muncullah ilmu pengetahuan yang beragam.</p>
<p>Namun saya tidak menolak konsep Adam sebagai tokoh historis, sebagai “manusia pertama”, <em>homo sapiens</em> pertama di wilayah Arab yang memiliki kesadaran kemanusiaan. Yang darinya kemudian melahirkan banyak keturunan, termasuk bangsa Israel dan 25 nabi bagi bangsa Arab.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Evolusi Manusia, Evolusi Peradaban</strong></p>
<p><strong> </strong>Annie Besant, seorang  Teosof, seperti yang dikutip dalam buku <em>Reincarnation and Islam,</em> karya Nadeer Baig Mezra, berkomentar dalam buku <em>Introduction to Yoga</em>: “Anda adalah pria dan wanita yang teruji, Anda telah menapaki tangga yang begitu panjang, yang memisahkan wujud Ketuhanan dalam dirimu dengan wujudNya dalam tanah liat…. Tuhan yang bermanifestasi masih “terlelap” dalam kehidupan mineral dan bebatuan. Kesadaran Tuhan menjadi lebih berkembang  dalam tumbuhan dan binatang sampai pada tahap akhir sebagai manusia. Tuhan telah mencapai apa yang tampak sebagai pencapaian akhir dalam wujudnya sebagai manusia pertama&#8230; tapi setelah berproses sedemikian lama dan tak terkira, akankah Anda tidak berproses lebih baik lagi?”</p>
<p>Pernyataan Besant adalah serupa dengan komentar para mistik di seluruh dunia yang memahami dan menyadari proses evolusi dirinya dalam penyaksian langsung melalui alam meditasi. Bahwa mula-mula Tuhan memanifestasikan diriNya dalam alam mineral berupa air, gas, dan materi-materi etherik. Lalu setelah alam mineral mengalami evolusi selama berjuta-juta tahun, kehidupan Ilahi memanifestasikan diri dalam bentuk tumbuhan, kemudian hewan, kemudian mencapai puncaknya ketika kehidupan dan kesadaran Ilahi memanifesasikan diri sebagai manusia. Meskipun manusia, usianya lebih muda dari ketiga bentuk kehidupan sebelumnya, namun manusialah yang menjadi penguasanya. Itulah makna ayat dalam al-Quran bahwasanya manusia ditahbiskan Tuhan sebagai <em>khalifah,</em> pemimpin, penguasa yang harus melestarikan kehidupan di muka bumi.</p>
<p>Dengan menjadi khalifah, dengan kesadarannya, manusia bisa bermain untuk mengaktualisasikan segala obsesi dan keinginannya untuk merangkai sejarah. Dan semua manusia punya hak yang sama untuk berperan dan menjadi masyhur dalam sandiwara besar yang dirancang sejak zaman asali itu. Tuhan punya kuasa, namun kuasanya itu dititipkan olehNya dalam kesadaran manusia. Permainan manusia itu yang akan menciptakan banyak peradaban, yang timbul tenggelam seperti gelombang pikiran manusia. Namun dalam permainan ini, manusia harus sadar akan jati dirinya yang tak terpisah dengan Tuhan, yang tak terpisah dengan makhluk lain di mayapada ini.</p>
<p>Malaikat yang tinggal di <em>shambala</em> iri kepada manusia dan berhasrat untuk turun ke dunia untuk bermain dalam geliat nafsu, meregang di antara kebaikan dan kejahatan yang menjadi keniscayaan kehidupan. Itulah paradoksnya, manusia berproses untuk mencapai alam malaikat hingga alam Ilahi, namun malaikat sendiri tak sabar menanti gilirannya untuk turun ke dunia yang penuh napsu ini. Seorang manusia yang mengalami pensucian jiwa setelah kematiannya  akan tinggal di alam astral yang penuh kesenangan dan kemabokan untuk beberapa lamanya guna menikmati perbuatan-perbuatannya selama di dunia. Namun mereka tak punya tubuh sebagaimana manusia untuk menyempurnakan evolusinya guna bersatu dengan Tuhan—yang tidak tinggal di mana-mana namun meliputi semuanya. Jadi, betapa mahalnya harga sebuah tubuh yang kita gunakan ini hari. Untuk memperoleh tubuh seperti yang saya pakai hari ini, saya butuh waktu berjuta-juta tahun lamanya. Lalu, mengapa kita tidak mempergunakan ini tubuh untuk bermain sebaik-baiknya di dunia sekaligus akan menyempurnakan evolusi kita?</p>
<p><strong> </strong>Evolusi manusia  yang bergerak menuju penyempurnaannya tak bisa tidak diikuti dengan evolusi peradaban sebagai sesuatu yang tercipta oleh tangan-tangan manusia. Dan kesadaran Tuhan selalu membimbing perjalanan peradaban ini melalui para nabi, atau avatara, yang menjadi wakilNya di dunia untuk mengarahkan perjalanan sejarah ini agar selaras dengan <em>dharma </em>(kebenaran universal). Para nabi menjaga kitab kehidupan agar tak cedera oleh gairah napsu manusia yang cenderung terpancar keluar, terpisah jauh dari pusat jati dirinya yang hening dan <em>sunyata</em>: Tuhan. Para tokoh inilah yang mengarahkan proses evolusi kehidupan biar bumi selalu layak untuk dihuni oleh sekalian makhluk yang hidup di dalamnya.</p>
<p>Kadang, dalam proses perjalanan dunia, muncul ketidakseimbangan yang terjadi di atas bumi. Seperti contoh, dalam kisah Ramayana, dunia masih banyak dihuni oleh makhluk-makhluk yang evolusi fisik dan kesadarannya masih kasar, makhluk-makhluk yang bisa mengancam keberadaan ras manusia. Makhluk itu dikenal sebagai sebagai kaum <em>raksasa</em> dan <em>wanara</em>. Raksasa  adalah makhluk yang evolusi fisiknya melebihi ukuran manusia, sifat alamnya sangat liar dan berkecenderungan hanibal. Wanara adalah kera yang berada dalam proses perjalanan menuju bentuk dan kesadaran manusia. Kedua makhluk itu sangat rendah kesadarannya, yang pada saat itu jumlah keduanya menyaingi keberadaan ras manusia. Lalu oleh kehidupan, diskenariokanlah sebuah perang yang akan mengurangi jumlah  kedua makhluk itu. Antara Sri Rama dan Hanuman yang berprajuritkan wanara dan Rahwana yang berprajuritkan raksasa.  Ras manusia sengaja tidak diikutkan dalam perang besar itu, agar tidak ikut musnah habitatnya. Dan agar jiwa-jiwa para wanara dan raksasa itu dalam kelahiran berikutnya bisa memakai raga manusia. Dan dunia layak dihuni kembali.</p>
<p>Cerita tentang raksasa ini dalam beberapa peradaban bisa ditemui. Seperti cerita raksasa Dewata Cengkar yang berperang dengan Aji saka dalam cerita pembukaan tanah Jawa. Atau raksasa Raja Baka yang berperang melawan Bandung Bondowoso. Dalam al-Quran, ada yang menengarai kaum raksasa ini adalah kaum ‘Ad yang bertubuh besar dan mampu membangun rumahnya pada dinding-dinding gunung, dan bukit sebelum dimusnahkan keberadaanya oleh Allah. Di Bibel pun sempat disebutkan tentang keberadaan makhluk itu.</p>
<p>Dalam kisah Mahabharata, dunia dipenuhi oleh para saintis sakti, yang tergabung dalam polaritas kelompok Pandawa dan Kurawa. Dunia menjadi terancam dengan perlombaan bersenjata. Lalu oleh Sri Krishna, dirancanglah sebuah perang besar antara dua kekuatan besar itu di medan Kuruksetra untuk mengurangi jumlah ksatria yang melebihi batas itu. Dan tak lebih dari dua minggu, perang itu selesai, dan prosers evolusi kehidupan bisa berjalan lagi dengan tenang. Sehingga dunia kembali aman, dihuni oleh orang-orang yang mulai memperhatikan kekayaan batin yang ada dalam dirinya masing-masing.</p>
<p>Demikian pula hikmah yang terkandung dalam kisah Nuh yang membawa serta banyak hewan, masing-masing sepasang dalam bahteranya, sebelum banjir besar menenggelamkan semuanya. Nuh ingin melestarikan makhluk-makhluk lain di muka bumi agar tidak musnah keberadaannya. Agar  wajah dunia tetap indah dengan penghuni yang beraneka. Bisa dikatakan, Nuh adalah seorang ekolog, pencinta alam yang memiliki wawasan tentang proses evolusi.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Penutup</strong></p>
<p>Demikianlah proses evolusi manusia, yang mengalami berbagai perubahan, baik perubahan fisik, jiwa, maupun kesadaran. Manusia tidak bisa mengalami perubahan sebelum mengalami kematian dari bentuknya yang pertama. Kematian manusia adalah prasyarat untuk mencapai perubahan yang lebih baik dalam proses reinkarnasi berikutnya. Tumbuhan adalah kematian dari bentuk mineral. Hewan adalah kematian dari bentuk tumbuhan. Manusia adalah kematian dari bentuk hewan. Dan tak berlebihan jika dikatakan, bahwa Tuhan adalah kematian manusia dari egonya, hawa nafsunya. Hal ini senada  dengan apa yang pernah diungkapkan oleh Syamsuddin Tabriz, guru spiritual dari Jalaluddin Rumi:</p>
<p><strong> </strong></p>
<p>Kau hanya bisa menyaksikan malam tatkala mentari telah tenggelam. Apakah sekali-kali bulan pernah hilang pada saat matahari terbenam? Apa yang kau lihat sebagai tenggelam sesungguhnya terbit bersinar di tempat lain.  Sesungguhnya tanah kuburan tempat tubuhmu disemayamkan hanyalah penjara yang sempit. Tapi  itulah satu-satunya penjara yang membuatmu merdeka. Biji apakah yang tidak berkembang menjadi ribuan biji saat ia dikuburkan dalam tanah? Apa pula yang membuatmu ragu tentang biji kemanusiaan yang akan selalu berkembang di hari menjelang? <strong>(Syamsuddin Tabriz, <em>Reincarnation and Islam</em></strong>)</p>
<p>Kematian terjadi kapan saja, setiap saat. Dan kematian yang paling sulit dialami oleh manusia adalah kematian ego sempitnya, hawa nafsunya. Karena egonya ini, manusia harus mengalami reinkarnasi berulang kali. Dalam banyak ajaran tasawuf dan kebatinan, manusia dianjurkan untuk “mati” selagi hidup: <em>Muutu qabla mawtikum</em> (matilah sebelum kematianmu). Atau dalam ajaran mistik Jawa yang menyatakan: <em>Mati sajeroning urip, urip sajeroning pati</em> (mati di dalam hidup dan hidup dalam kematian). Yang dimaksud dengan kematian di atas adalah kematian ego rendah kita yang tercipta oleh pikiran liar manusia yang membeda dalam dualitas, ego yang terpisah, dan ego yang membuat kita tidak bisa menyatu dengan keberadaan yang tak terbatas. Hidup dalam kematian adalah hidup dalam ketiadaan, keheningan yang menjadi istana Tuhan yang tidak di mana-mana, namun hadir di mana-mana.</p>
<p>Matilah, karena Tuhan ada dalam kematian ego kita. Namun  setelah kita mati dari ego kita, sesungguhnya kita baru bisa dikatakan mengalami kehidupan sejati, kehidupan dalam kebebasan sejati, yang selaras dengan alam semesta. Sebuah tindakan dalam “ketiadaan” adalah tindakan yang tanpa pilihan. Karena itu, tidak mengakibatkan penyesalan dalam pikiran kita.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong><em>Nyanyian Evolusi</em></strong></p>
<p><strong><em> </em></strong></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Jangan pergi lagi Sayangku&#8230;.., seperti dulu ketika Kau melepaskan jiwaku dari dekapMu. Tinggal dan menetaplah dalam hatiku biar bisa kudekap selalu diriMu ketika angin dan dingin udara malam hari menggetarkan tulang-tulang rapuhku. Agar menetes keringatku di hamparan putih bersalju. Hingga bisa kunyalakan salju itu dengan namaMu yang Kaumantikkan dalam jiwaku.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Datanglah selalu Sayang…&#8230;, dalam hatiku, agar tak bisa lagi jiwa berpaling muka dari wajah senduMu. Agar tak terbagi lagi rasa cinta yang akan membuatMu cemburu. Agar kaki-kaki kecil ini tak lagi berlari-lari seperti kanak-kanak di atas lumpur halaman kala hujan menjelang. Agar hanya tersedia satu alasan penolakan ketika mereka mengajakku berkencan selain denganMu. Apa dan siapapun itu.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Agar bermakna pekerjaanku sebab Kaulah yang kutuju ketika harus pulang ke rumah saat senjakala memerah, dan nyayian janjiMu menyucikan jiwaku dari debu-debu kelahiran dan kematian yang menyaput pandanganku. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Aku setia padaMu sayangku….., dan akan kujaga kuncup bunga rindu yang Kautanam di ladang hatiku sepanjang perjalananku. Akan kuabadikan bunga rindu ini dengan sembahyang dan puasa penantianku. Dan dengan pengorbanan diriku sampai jiwaku merasuk dalam kuncup bunga ini. Kuncup dari pohon yang Kau tanam di padang hatiku. Hanya satu pohon, keesaanMu, yang selalu bernyanyi untukku saat jiwa sedang sendiri dan sedih: bahwa dalam cinta, semua yang sepertinya terpisah sesungguhnya menyatu.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Walau di dunia ini tanaman ini tak berbuah, walau serbuk sari tiada pernah kawin dengan putiknya, namun akan kujaga selalu tanaman ini, bunga rinduMu ini. Akan kusiraminya dengan darah yang mengalir dari urat nadiku. Supaya tumbuh dan tumbuh bunga rahasia ini, tanpa ada satu mata pun yang menyaksikannya. Sampai tunasnya terus menjulur menembus dinding-dinding daging dan bertahan dibakar terik cahaya, sebab bunga ini adalah anak cahaya, anakMu juga. Tunas bunga ini akan terus melentik sampai menembus tujuh lapis langit kesadaranku. Sampai malaikat dan iblis pun segan dan berhasrat merebutnya untuk dijadikan anak angkatnya. Hingga para bidadari pun iri melihat keindahannya. Hingga terhenti aliran sungai di surga karena takzim padanya. Hingga padam seketika api neraka dan sejuk suasananya karena menyaksikan mahkota-mahkotanya yang merah menggoda. Hanya Kaulah yang berhak memetiknya dari tangkai kecilnya, duhai Pujaku. Karena Dikaulah yang menanam di hamparan keluasan hatiku.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Aku tak akan berpaling lagi, Sayangku. Dan bimbinglah kaki dan tangan bayangan yang penuh mimpi ini dengan ratusan pesona dari satu namaMu. Hingga kaki dan tubuhku ini serasa tak menginjak tanah yang pura-pura mencintaiku itu. Melayanglah aku dengan tarikan napasMu, seperti layang-layang yang Kautarik dan Kaudekatkan pada genggamMu. Sampai tak ada benang jarak lagi antara Kau dan aku. Hingga perangkap kata pun sirna. Hingga gantian Kau yang akan mendekapku dengan mesra di buaianMu rapat-rapat. Kau ayun diriku lembut-lembut sampai aku tidur tanpa mimpi dalam jemari lembut cintaMu, lelap di atas ranjang mawar keabadianMu. </em></p>
<p><strong>Jakarta</strong><strong>, 28 Oktober 2004</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://refleksi.alfisatria.com/peradaban-tuhan-peradaban-manusia-tak-usai-usainya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Sebuah Refleksi Tentang Reinkarnasi</title>
		<link>http://refleksi.alfisatria.com/sebuah-refleksi-tentang-reinkarnasi</link>
		<comments>http://refleksi.alfisatria.com/sebuah-refleksi-tentang-reinkarnasi#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 03 Nov 2010 13:02:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Reinkarnasi]]></category>
		<category><![CDATA[Salahuddien Gz]]></category>
		<category><![CDATA[reinkarnasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://refleksi.alfisatria.com/?p=19</guid>
		<description><![CDATA[oleh Salahuddien Gz Pengantar Cukup banyak buku telah ditulis dan diterjemahkan berkenaan dengan tema reinkarnasi, baik pengkajian secara ilmiah maupun pengalaman pribadi tentangnya. Masyarakat Indonesia yang sebagian besar beragama Islam dan Nasrani sepertinya terhenyak. Tentu saja karena tema reinkarnasi tidak populer—untuk tidak mengatakan tidak ada—dalam dua agama besar di Indonesia ini. Lalu yang meyakini reinkarnasi, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh <strong>Salahuddien Gz</strong></p>
<p><strong>Pengantar </strong></p>
<p>Cukup banyak buku telah ditulis dan diterjemahkan berkenaan dengan tema reinkarnasi, baik pengkajian secara ilmiah maupun pengalaman pribadi tentangnya. Masyarakat Indonesia yang sebagian besar beragama Islam dan Nasrani sepertinya terhenyak. Tentu saja karena tema reinkarnasi tidak populer—untuk tidak mengatakan tidak ada—dalam dua agama besar di Indonesia ini. Lalu yang meyakini reinkarnasi, atau yang memang ada bibit keyakinan berupa pertanyaan-pertanyaan mendasar berkaitan dengan konsep eskatologis pun membolak-balik halaman demi halaman kitab suci guna menelisik dan menginterpretasi kembali teks-teks agama yang “sepertinya” menyembunyikan ajaran reinkarnasi di balik ayat-ayat yang menggunakan kata-kata metaforis dan bersayap. Mereka memaknai kembali apa itu alam barzakh, hari berbangkit, sorga, pahala dan dosa, hari pengadilan, dan neraka, bahkan sampai pada pemaknaan kembali hakekat Tuhan Yang Maha Adil. <span id="more-19"></span></p>
<p>Banyak yang menentang, namun tidak sedikit yang menerimanya. Yang menerima reinkarnasi menyuguhkan teks-teks yang diyakini berhubungan dengan reinkarnasi dan penafsiran yang sesuai dengan prinsip keadailan Ilahi, sedangkan yang menolak, menyuguhkan teks-teks yang menceritakan kekalnya sorga, kekalnya neraka, adanya hari pengadilan sebelum jatuhnya ketentuan, apakah manusia masuk ke dalam sorga atau neraka. Di antara dua keyakinan itu, yang manakah yang disebut dengan “keyakinan”? Tentu saja, pada hemat saya, dalam masalah hidup yang fundamental, tidak mungkin dua keyakinan—yang menerima dan yang menolak—sama-sama benar. Karena kita hidup pada bumi yang sama, dan hukum alam yang mengaturnya harus sama pula, tiada pernah berubah. Lalu keyakinan manakah yang benar?</p>
<p>Jika hal itu berkenaan dengan prinsip hidup fundamental—seperti reinkarnasi—tentunya tak ada aturan, hukum yang berbeda bagi masing-masing individu. Tidak mungkin, reinkarnasi dialami oleh penganut Hindu dan Budha sementara umat Islam dan Nashrani tidak mengalaminya, karena mereka meyakini konsep itu tidak ada dalam kitab suci mereka. Seperti halnya hukum gravitasi, di mana-mana pun berlaku sama.</p>
<p>Spiritualitas menuntut kejujuran dalam berproses menuju kebenaran sejati. Dan saya yakin, keyakinan kita pada konsep-konsep keagamaan yang biasa kita pegang sesungguhnya berasal dari warisan yang kita warisi dari orang tua dan lembaga kegamaan yang telah ada sejak kita lahir. Orang tua dan lembaga agama harus kita akui, masih sedikit yang bisa mengajarkan agama secara rasional dan berdasarkan pengalaman langsung dalam keberagamaan dan spiritual. Dan konsep-konsep itu telah tertanam dalam diri kita menjadi <em>mind set</em> sebagai hasil pengkondisian yang tidak memberikan pilihan pada kita selain agama yang dipercaya sebagai satu-satunya yang benar.</p>
<p>Bagi saya, keyakinan adalah sesuatu yang harus kita alami dan kita sadari dalam kesempurnaan kekinian. Karena kebenaran yang kita hadapi selalu saja terjadi dalam kekinian. Jika dalam al-Quran Tuhan menyatakan bahwa <em>Ia lebih dekat dari urat leher kita sendiri,</em> dan tidak ada sesuatu di luar Tuhan, tentunya sorga dan neraka pun ada di dalam Tuhan bukan? Berada dalam kekinian. Berada dalam diri kita. Tuhan bukan masa lalu, juga bukan masa depan. Dan esok belum terjadi, kalaulah esok terjadi tentulah itu dialami dalam kekinian. Dan masa lalu hanyalah memori, yang ketika tersimpan dalam memori otak manusia, maka urusannya adalah lupa dan ingat. Namun, masa lalu dan masa depan sesungguhnya tersimpan dalam kekinian yang abadi (<em>eternal now</em>). Dan yang bisa melampaui waktu, baik esok hari atau kemarin hari, adalah fakultas dalam diri kita yang saya sebut sebagai <em>kesadaran.</em> Kesadaran melampaui ruang dan waktu.</p>
<p>Dalam kesadaran, segalanya tercakup di situ. Melampaui dualitas baik buruk, kelahiran dan kematian. Dan kesadaran hanya bisa dialami dalam pengalaman yang serba baru. Tuhan yang bersemayam dalam diri kita itu adalah kesadaran. Yang terus bekerja tiada henti-hentinya. Dalam al-Quran Dia menyatakan, “<em>Setiap hari Ia selalu sibuk.”</em> Kesadaran tak pernah tidur, namun selalu terjaga dalam nurani manusia.  Kesadaran adalah saksi yang menyaksikan permainan dualitas pikiran kita.</p>
<p>Karena itu, keyakinan kita yang belum menyentuh wilayah kesadaran, belum sampai pada tahapan <em>haqqul yaqin</em>, sesungguhnya masih terbuka kemungkinan untuk berubah, meskipun kita menyebutnya itu sebagai keyakinan atau sebagai keimanan. Demikian pula dengan konsep reinkarnasi. Mungkin kita menolak reinkarnasi, karena pemahaman pada agama kita berbeda dengan ajaran reinkarnasi, berbeda dengan konsep kekalnya sorga, kekalnya neraka, tempat kembalinya semua umat manusia. Namun jika kita menolak konsep reinkarnasi, apakah kita bisa membuktikan bahwa konsep kita yang paling absah, bisa dinalar, bisa dialami, dan disadari? Bagaimana dengan kesaksian orang yang mengaku pernah lahir sebelum kehidupannya saat ini. Jadi, pada hemat saya, kebenaran itu harus disadari dan dialami sendiri, dirasakan. Pertama-tama kita perlu membuka ruang nalar untuk memahami tanpa kesinisan terlebih dulu, karena kita pun tak bisa membuktikan bahwa keyakinan kita yang benar, kita menyatakan benar karena “agama” atau pemimpin lembaga keagamaan kita menyatakan itu benar dan “sesuai” dengan “nash” agama.</p>
<p>Banyak yang menyatakan bahwa ajaran reinkarnasi berasal dari negeri Timur: India, Cina, Nusantara. Atau berasal dari agama yang lahir di Timur: Hindu, Budha, Tao, faham Kebatinan, atau bahkan Kejawen. Jika Krishna, Budha, Lao Tse menyatakan keberadaan reinkarnasi, lalu Muhammad, Yesus, Musa “tidak” menyatakan keberadaan reinkarnasi, lalu apa dengan demikian para orang suci itu berbeda pandangan atas hukum alam yang seharusnya satu dan sama adanya?</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Mengapa Manusia Perlu Mengalami Reinkarnasi?</strong></p>
<p>Reinkarnasi adalah suatu relitas yang bisa kita sadari dengan kepekaan kesadaran kita sehari-hari. Kematian adalah sesuatu yang terjadi setiap hari. Bahkan kematian adalah hakekat yang melandasi segala sesuatu. Kematian adalah kepastian yang melebihi hidup itu sendiri. Bahwa cahaya selalu lahir dalam rahim kegelapan. Anda mati dari diri Anda kemarin dan lahir kembali menjadi diri Anda saat ini.</p>
<p>Kesalahan terbesar manusia sebenarnya ketika mereka merasa terpisah dari Tuhan. Jika kita merasa Tuhan berada “di sana”, tentunya perasaan tersebut sebetulnya telah membatasi kemahaadaan dan kemahaesaan Tuhan. Karena itu, setiap konsep yang dibangun dari perasaan terpisah tentunya  akan menghasilkan sikap selalu menyesal, sikap inferior, suatu sudut pandang, bahwa ada sebuah kekuasaan di luar diri kita yang sewenang-wenang dalam menentukan nasib kita, dan kita tak punya pilihan dengan kehendak-Nya. Sementara dalam al-Quran, Tuhan menyatakan: <em>Tiada daya dan upaya selain dengan-Nya</em>? Bahwa energi Tuhan berada dalam diri kita. Bahwa sifat-sifat Tuhan terkandung dalam diri manusia. Dan dalam ayat lain di al-Quran, Tuhan menyatakan: <em>Sesungguhnya kehinaan yang menimpa manusia adalah akibat perbuatan tangan-tangan mereka sendiri.</em> Hanya manusia saja yang belum menyadarinya. Manusialah yang menentukan takdirnya sendiri. Tuhan hanya memfasilitasinya. Termasuk kondisi seseorang yang menderita hidupnya ketika lahir di dunia tentu tidak bisa terlepas dari semangat ayat di atas.</p>
<p>Demikianlah, reinkarnasi adalah realitas sehari-hari, adalah konsep perubahan yang terus berjalan untuk menuju penyempurnaannya. Reinkarnasi, perubahan dan penyempurnaan jiwa itu adalah suatu keniscayaan yang tetap ada meskipun semua orang di dunia tidak meyakininya. Bulan akan tetap ada meskipun semua orang buta meniadakannya. Nah, realitas hanya bisa menjadi keyakinan jika kita menyadari saat mengalaminya, jika kita menyaksikan sendiri diri kita di masa lalu. Dan dari situ, reinkarnasi tidak hanya sekedar konsep yang perlu diperdebatkan, namun ia adalah realitas, keberadaan yang harus dan pasti suatu saat akan disadari oleh setiap jiwa. Jika kita telah mengalami dalam kesadaran reinkarnasi maka konsep itu pun berhenti dan menjadi keyakinan yang kuat.</p>
<p>Akan tetapi, pada tahap awal, kita perlu memahami reinkarnasi secara nalar. Karena, meskipun nalar seringkali ragu dan terjebak dalam dualitas, namun pemahaman sesuatu dengan nalar yang benar tentunya akan memudahkan kita untuk mendekatkan kita pada keyakinan akan reinkarnasi. karena jika kita terbuka dengan konsep reinkarnasi, maka pikiran yang kita proyeksikan pada diri kita di masa lalu, tentang kejadian di masa lalu suatu saat mungkin akan kita tangkap kenyataannya dalam alam meditasi, berupa <em>insight</em> atau sebuah gambaran dalam pikiran kita.</p>
<p>Energi yang menyusun alam semesta ini satu adanya di tengah kebhinnekaannya yang luar biasa. Dalam perbedaan wujud yang luar biasa banyak, sesungguhnya ada energi yang sama yang membuat semuanya ini maujud. Di dalam setiap materi terdapat energi yang mewujudkannya, dan energi bisa mengambil bentuk berupa materi. Yang non wujud berada dalam yang wujud, dan yang wujud akan kembali, dan menyimpan sesuatu yang non wujud. Ada  dua nama Tuhan dalam Islam yang mungkin belum banyak kita perhatikan: <em>Al-Dzahir</em> dan <em>Al-Bathin</em>. Jadi Allah adalah yang nampak sekaligus yang tidak nampak, dzahir dan batin. Membatasi Allah hanya pada sesuatu yang tidak nampak justru akan membatasi kemahaadaan Allah, seakan-akan Allah berada di awang-awang dan tidak hadir dalam dunia wujud. Pandangan semacam itu akan mengakibatkan orang menjadi idealis. Sementara jika kita membatasi Allah sebagai sesuatu yang lahir saja, maka kita akan terjebak pada pandangan materialis. Seakan-akan hanya yang maujud saja, hanya yang positif saja yang nyata, padahal kita pun mempunyai dunia batin, kesadaran, yang tidak dzahir namun “ada”.</p>
<p>Secara sederhana, kita, dan bahkan anak kecil pun akan bertanya, dari manakah asal-usulnya? Dari manakah asal usul keberadaan itu? jika kita menjawabnya secara berurutan, tentunya jawaban terakhir itu akan sampai kepada ketiadaan. Jawaban terakhirnya akan sampai pada pikiran yang menyerah karena tidak mampu menjangkaunya. Nah, yang tak mampu diperkirakan dalam pikiran itu kita menyebutnya sebagai Tuhan. Banyak para mistikus yang menyatakan bahwa Tuhan adalah Ketiadaan yang merengkuh, yang mengandung segala macam keberadaan, dalam konsepsi mistik Jawa, Tuhan disebut <em>suwung hamengku ana</em> (ketiadaan yang mengandung keberadaan). Dalam pertanyaan-pertanyaan filsafat, seringkali dikatakan bahwa yang “ada” berasal dari yang “tiada”. Namun, bagaimana yang “tidak ada” bisa melahirkan yang “ada”? Oleh karena itu, mereka pun berkesimpulan bahwasanya anatara “ada” dan “tiada” itu sama saja. Kata para Budha, yang ada ini sesungguhnya tiada, maya belaka.</p>
<p>Namun, “ada” atau “tiada”, itulah yang sejati, yang nyata. Yang sempurna. Yang membuat semuanya tidak sempurna adalah pikiran kita yang menilai. Karena penilaian adalah kerja pikiran. Untuk sampai pada kenyataan dan hakekat sesungguhnya, para master dan para sufi menganjurkan kita untuk melampaui ego, <em>mind</em> kita, dan ketika kita berdisiplin diri untuk melampaui ego, tidak terikat pada pikiran yang membonceng keinginan, kita tentu akan sampai pada realitas yang melampaui segala macam pikiran, yang melampaui segala macam penilaian. Dan aneka macam ritul, meditasi, adalah sebuah latihan pendisiplinan diri untuk memupus ego kita yang tercipta dari pikiran liar (nafsu) kita sehari-hari. Pada tahap awal, pikiran adalah jalan untuk memahami kenyataan, namun ia juga sekaligus menjadi <em>hijab</em> yang membuat kita terhalang dalam menyatukan diri dengan kenyataan yang sejati.</p>
<p>Sebelum terciptanya alam semesta, sebelum dunia wujud maujud dalam ranah ruang dan waktu, maka yang ada hanyalah ketiadaan yang menyimpan segala macam peristiwa dalam pikiran murninya. Tuhan, yang adalah keheningan, ketiadaan abadi-Nya itu sendiri, ingin agar Dia dikenali, agar kekayaan batin-Nya diketahui dan disaksikan-Nya sendiri. Oleh karena itu, Dia lalu berkehendak untuk mewujudkan pikiran-Nya ke dalam dunia wujud. Sifat pertama dan yang utama dari Tuhan adalah kehendak. Dan kehendak ini muncul dari pikiran murni-Nya. Ia ingin melihat wujud-Nya yang abstrak memakai wadag. Dalam beberapa literatur tasawuf kita sering mendengar bahwa Tuhan menciptakan alam semesta agar dia bisa dikenali oleh diri-Nya sendiri pula. Atau, seperti yang sering diungkapkan oleh Maulana Jalaluddin Rumi, Tuhan ingin menciptakan Manusia agar ada yang bilang, ada yang memuji-Nya. Dan sesungguhnya yang memuji dan mengenali-Nya adalah diri-Nya sendiri juga. Kita bisa merasakan dan memahami konsep di atas dengan sebuah contoh tentang seorang pelukis yang ingin mengekspresikan ide lukisannya dalam pikirannya ke dalam sebuah kanvas. Ide pelukis itu bisa kita ibaratkan sebagai pikiran Tuhan, dan lukisan di atas kanvas itu kita ibaratkan sebagai ciptaan yang lahir dari kehendak sang pelukis itu sendiri. Atau seperti benih sebuah tanaman, yang menyimpan akar, dahan, ranting, dedaunan, dan buah, dalam potensialitas dirinya sendiri. Dan benih itu harus ditanam dalam tanah, harus berproses untuk mendapatkan kesempurnaan seperti yang telah dikandung dalam benih tanaman itu.</p>
<p>Sebelum menciptakan semesta, Tuhan menciptakan prototipe kesadaran sejati diri-Nya yang akan mengejawantah dalam tubuh manusia utama  (<em>insan kamil</em>). Dalam Islam tasawuf, prototipe itu disebut sebagai <em>nur muhammad</em>. Atau energi murni sebelum mengejawantah dalam perwujudannya sebagai tokoh historis bernama Muhammad bin Abdullah, nabi yang lahir di kota Makkah itu. Dan  nur Muhammad itu sebetulnya ada dalam setiap ciptaan, karena segala macam ciptaan itu sesungguhnya adalah dari napas-Nya pula. Yang membedakan hanyalah tingkat keasadaran ciptaan itu akan jati dirinya yang tak terpisah dari Tuhan. Yang sesungguhnya tak terbatas dan <em>omni present</em>, hadir di mana-mana. Nur Muhammad mengalami beberapa fase dalam dunia untuk mencapai kesadaran tertingginya sebagai <em>insan kamil</em>, sebagai Muhammad. Dalam beberapa literatur agama, kebatinan, juga ilmu pengetahuan modern menyebutkan bahwasanya alam semesta terbentuk sebelum manusia seperti yang kita lihat sekarang ini, semesta tercipta sebelum adanya manusia yang memiliki kesadaran diri dan benda-benda maujud di dunia. Bahkan ketika proses itu sudah sampai pada manusia, kesadarannya masih harus terus berproses dan mengalami peningkatan dalam beberapa kelahiran hingga sampai pada kesadaran tunggal, kesadaran semesta seperti yang dimiliki oleh nabi Muhammad. Setiap nabi sesungguhnya pun tidak serta merta menjadi seorang nabi. Mereka dulunya pun berproses sebagaimana kita, babak belur dulu sebelum mencapai kesempurnaan sejati. Seperti kata Nietzsche yang juga memahami konsep <em>insan kamil</em>, puncak kebudayaan adalah berdiam diri dari naluri-naluri liar.</p>
<p>Dalam beberapa kesempatan, Muhammad seringkali menyatakan, <em>Ana basyarum mitslukum</em> (sesungguhnya aku ini seperti kalian semuanya). Yang membedakan hanya tingkatan kesadarannya saja, bahwasanya Muhammad telah mencapai kesadaran paripurna dalam kelahirannya yang terakhir. Dalam suatu kesempatan, Muhammad pernah mengatakan bahwa dalam dirinya terkandung jiwa Ibrahim. Atau dalam doa tahiyyat akhir ketika shalat, pujian kepada Muhammad selalu dihubungkan dengan pujian kepada Ibrahim. Sementara itu, kita masih berproses untuk mencapai kesadaran Muhammad. Dan kita saat ini sedang berproses ke sana. Kita akan dan pasti akan mencapainya. Suatu saat. Dan kelahiran para nabi, para wali, dan para master adalah untuk memberikan contoh kepada manusia tentang Tuhan yang bisa dilihat, diraba, dirasakan dalam tubuh manusia. Muhammad pernah bilang, <em>Ana Ahmad bilaa mim</em>. Yang artinya sesungguhnya dialah Tuhan yang maujud. Atau seperti kata Yesus, <em>Tiada seseorang pun bisa sampai pada Bapa tanpa melalui Aku</em>. Jadi, sesungguhnya itulah pentingnya para nabi, para wali, para mursyid yang mengetahui betul apa yang harus kita lakukan dalam proses perjalanan kita menuju kesempurnaan sejati.</p>
<p>Keberadaan para master itu ditulis dalam al-Quran: <em>Dan di antara keduanya, ada batas, dan di atas tempat tertinggi, </em>A’raaf<em> itu, ada orang-orang yang mengenal masing-masing dari dua golongan itu dengan tanda-tanda mereka.</em> (7:46)</p>
<p>Ayat di atas menyiratkan pengetian bahwa, orang yang berdiri di tempat tertinggi itu adalah Para nabi yang melampaui dualitas, baik buruk, sorga neraka, kebaikan atau kejahatan. Dan para master itu sangat mengenal cici-ciri manusia yang masih terjebak pada dualitas baik dan buruk, karena sesungguhnya para master itu telah melewati, telah melampaui apa yang belum dilampaui oleh dua golongan tadi. Saat orang menjadi nabi, menjadi master, sesungguhnya dia hanyalah menjadi penyaksi, syahid, yang terus terjaga dalam keseimbangan. Yang selalu waspada layaknya Budha di antara peristiwa-peristiwa dunia yang hilir mudik terus berganti.</p>
<p><strong> </strong></p>
<p><strong>Life is Just a Game, be Joyful….</strong></p>
<p>Lalu kita mungkin bertanya, untuk apa penciptaan ini terjadi? Untuk apa kita harus lahir di dunia? Untuk apa Tuhan memendarkan, memerincikan diri-Nya, mengembangkan diri-Nya dalam alam yang bhinneka ini? Pertanyaan itu adalah pertanyaan yang harus terbetik dalam diri kita supaya kita bisa melewatkan hidup ini dengan keyakinan, dan tidak berputus asa atau pun jumawa. Seperti yang telah disebutkan dalam hadits qudsi, Tuhan adalah kekayaan yang tersembunyi, dan Ia menciptakan semesta agar diri-Nya dikenali. Jika Tuhan tanpa ciptaan, siapa yang bisa menyebutnya sebagai Tuhan? Tuhan tanpa manusia, tentu Dia tidak bisa disebut sebagai Tuhan. Jadi ada unsur <em>game </em>dalam penciptaan ini. Tuhan ingin bermain-main dengan diri-Nya sendiri agar tidak masyghul dalam kesunyian-Nya. Dalam diri-Nya, terkandung kesadaran murni yang mengandung segala macam potensialitas yang Dia kehendaki agar teraktualisasi dalam sejarah. Baik itu potensi kebaikan maupun kejahatan, baik itu potensi malaikati maupun potensi syaithani.</p>
<p>Itulah misteri Tuhan yang tiada seorang pun bisa memecahkannya. Kehendak-Nya begitu misteri. Dan karena Dia dan kehendak-Nya adalah misteri, maka ciptaannya yang mengandung energi-Nya pun misteri. Namun, ketika kita berbicara tentang Tuhan, yang harus disadari adalah, kita tak pernah terpisah dari-Nya. Kita ada di dalam-Nya. Dan Dia ada di dalam diri kita. Sehingga, ketika kita membenci atau memuji-Nya, sesungguhnya rasa benci dan pujian itu akan kembali pada kita sendiri.</p>
<p>Dalam al-Quran seringkali disebutkan bahwasanya hidup ini tak lain hanyalah permainan dan senda gurau (<em>laibun wa lahwun</em>). Jika Tuhan menciptakan dunia ini sebagai arena permainannya, maka, tak ada pilihan bagi kita untuk bermain dan menikmati permainan itu. Permainan baik dan buruk, cinta dan benci, protagonis dan antagonis yang membentuk sebuah cerita dalam sejarah. Hegel, seorang spiritualis dari Jerman menganggap bahwa, sejarah adalah otobiografi Tuhan, atau Tuhan bukan hanya yang memiliki sejarah, namun Dia adalah sejarah itu sendiri. (Hegel; <em>Reason in History</em>;1953)</p>
<p>Dan dalam permainan, <em>game</em> itu, pasti ada aturan permainannya. Aturan itu tak pernah berubah, abadi selamanya. Dalam Islam, aturan yang tak pernah berubah itu disebut sebagai <em>Sunnatullah</em>, bangsa Timur menyebutnya sebagai hukum <em>karma,</em> dan ilmu pengetahuan modern menyebutnya sebagai hukum<em> kausalitas</em>. Secara sederhana hukum itu oleh nenek moyang kita diungkapkan dalam sebuah kata-kata indah: siapa yang  menanam dia yang akan menuai, siapa yang berhutang dia harus mengembalikan. Sunntullah itu tak bisa dilanggar oleh siapa pun bahkan oleh Tuhan sendiri. Tuhan taat kepada aturan yang berada dalam diri-Nya sendiri. Hukum karma itulah yang membuat kita harus bereinkanasi terus menerus. Hukum permainan hidup itulah yang menciptakan rantai samsara, jika kita belum melampauinya dan menyatu dengan sang pemilik permainan: Tuhan. Tuhan yang ruh murni-Nya dikandung oleh para nabi dan para master selalu dalam kesadaran murninya, ketika bermain di muka bumi. Mereka sadar akan kekuatan maya hidup. Mereka telah melampaui samsara, rantai kelahiran dan kematian, dan mereka turun ke dunia untuk bermain, untuk memberikan contoh pada manusia bagaimana menikmati hidup, menunjukkan sebuah cara bagaimana manusia harus kembali ke haribaan-Nya.</p>
<p>Tuhan ingin agar ciptaan-Nya yang pada awal-awal terbentuknya semesta bermula sebagai makhluk sederhana serupa mineral dalam air dan bebatuan, mengalami penyempurnaan fisik dan kesadaran sehingga bisa mengenal diri-Nya, dalam wujud manusia melalui hukum evolusi. Dalam diri manusialah, kesadaran Tuhan mulai nampak. Manusia mampu memikul pikiran Tuhan yang mengandung dualitas baik dan buruk. Itulah maksud ayat dari al-Quran, bahwasanya amanat (kesadaran) Allah telah ditawarkan pada gunung, laut, dan makhluk lainnya, namun mereka semua menolaknya, karena kesadaran mereka belum mencukupi untuk menerimnaya, dan manusialah yang mampu mengemban amanat-Nya. Kata Tuhan selanjutnya, bahwa manusia benar-benar bodoh dan zalim. Makna sesungguhnya adalah bahwa, Dia menertawakan diri-Nya sendiri. Imajinasikanlah, betapa lucunya ketika  Tuhan mengutuk dan membodoh-bodohkan manusia yang merupakan tujuan akhir penciptaan-Nya sendiri. Dia telah memendarkan diri-Nya dari tingkatan tanah liat menuju kesadaran tertinggi dalam wujud manusia. Dia mengutuki dan menertawakan manusia untuk—suatu saat—didekap-Nya kembali karena kerinduan-Nya yang akut dalam penantiannya pada si anak hilang, yang juga adalah diri-Nya sendiri pula.</p>
<p>Jadi reinkarnasi adalah sebuah permainan yang diciptakan oleh Tuhan. Dan Tuhan tidak akan berhenti bermain, dia tak akan berhenti mencipta karena itulah sifat-Nya yang utama. Lalu mengapa kita harus terlalu serius memikirkan hidup? Hidup ini misteri dan sebuah misteri tetap akan menjadi misteri. Selamilah dan nikmatilah misteri itu. Karena Tuhan ingin melihat manusia bergembira. Tuhan ingin agar manusia memahami hakekat-Nya. Dan reinkarnasi akan terus dialami manusia sampai manusia mengenal kesejatian Tuhan.  Dan untuk itu, dia akan selalu mengutus wakil-Nya, untuk berbicara atas nama-Nya. Seperti sabda Krisna kepada arjuna di medan Kuruksetra:  <em>Jika Dharma (</em>kebenaran, aturan kehidupan<em>) terancam, maka Aku akan turun kembali ke dunia untuk menegakkannya  dari masa ke masa</em> (Bhagavadgita).</p>
<p><strong>Mengapa Islam Tidak Terlalu Jelas Berbicara tentang Reinkarnasi?</strong></p>
<p>Jika ditilik dari tingkat kesadaran umat yang dihadapi oleh nabi Muhammad masih dalam tingkatan <em>jahiliyyah</em> (kesadaran rendah), dan mempertimbangkan asas manfaat kalau seandainya ajaran reinkarnasi disampaikan pada masyarakat awam seperti itu, maka sepertinya nabi Muhammad “menunda” atau “menyamarkan” faham reinkarnasi dalam ungkapan-ungkapan metaforis dan implisit? Karena Nabi Muhammad pernah berkata pada para sahabatnya:</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Al-Quran disampaikan dalam tujuh dialek; dan dalam setiap dialek ada makna luar dan makna dalamnya</em>. (Hadits Nabi)</p>
<p>Atau dalam salah satu kesempatan, beliau menyatakan:</p>
<p><em>Aku menerima dua macam pengetahuan dari Utusan Tuhan</em> (Jibril): <em>salah satu darinya kuajarkan pada orang-orang dan jika saja pengetahuan yang satunya lagi kuajarkan pada mereka, tentu saja akan rusaklah kerongkongan mereka</em> (membingungkan mereka-pen.) (Hadits Nabi)</p>
<p>Lalu, pertanyaannya, jika ajaran-ajaran Muhammad yang rahasia dan belum waktunya disampaikan pada saat itu seperti mungkin reinkarnasi belum pernah sampai pada kita, lalu pada siapakah ajaran rahasia itu disampaikan. Ada beberapa orang yang mempercayai, bahwa ajaran sejati Nabi Muhammad itu diwarisi oleh Hazrat Ali. Karena Muhammad pernah bilang:</p>
<p><em>Jika aku adalah gudang ilmu, maka Ali adalah pintu gerbangnya.</em></p>
<p>Dan, dari Hazrat Ali, kemudian pemahaman itu terwariskan kepada para sufi. Karena dalam genealogi tarekat tasawuf, hampir semuanya dari Muahammad langsung turun kepada Hazrat Ali.</p>
<p>Salah satu sufi dari banyak sufi yang telah sampai pada pengalaman reinkarnasi adalah Jalaluddin  Rumi. Ia sempat menyatakan dalam catatannya yang rahasia:</p>
<p><em>Aku adalah satu jiwa namun memiliki tubuh ratusan ribu. Namun karena syariah, mulutku tak bisa banyak bicara. Aku telah melihat diriku dalam dua ribu tubuh, namun tak ada yang sebaik sekarang ini.</em></p>
<p>Dari sini, saya mencurigai bahwasanya nabi Muhammad masih belum menyingkap reinkarnasi dengan jelas pada umatnya saat itu, karena tingkat kesadaran masyarakat Arab pada saat itu masih belum memungkinkan jika ajaran itu diterima oleh mereka, sehingga ayat-ayat al-Quran cenderung mengungkapkan reinkarnasi dengan bahasa-bahasa simbolis. Seperti ayat berikut ini:</p>
<p><em>Engkau masukkan malam ke dalam siang dan Engkau masukkan  siang ke dalam malam. Engkau keluarkan yang hidup dari yang mati, dan Engkau keluarkan yang mati dari yang hidup </em>(Q.S. 3:27)</p>
<p>Jika Muhammad menyampaikan dengan terbuka ajaran reinkarnasi pada zaman jahiliyyah kala itu, bisa jadi masyarakat pada saat itu akan bermalas-malasan berusaha dalam meningkatkan kesadaran spiritualnya karena sangat mungkin mereka beranggapan, bahwa, hidup tidak hanya saat ini, dan bisa diperbaiki pada hari esok. Masyarakat  Arab pada saat itu harus diberikan peraturan yang sangat ketat agar mereka mau  berdisiplin. Pada hemat saya, Muhammad pun “terpaksa” berkompromi terhadap tingkat kecerdasan umatnya ketika beliau berbicara tentang hidup sesudah mati, hari kiamat, hari pengadilan, dan sorga-neraka.</p>
<p><strong>*Salahuddien Gz</strong>, mantan mahasiswa Filsafat UGM  th. 1995-2000. Bekerja <em>freelance</em> sebagai penerjemah dan editor buku-buku sastra, spiritualitas, dan filsafat. Saat ini sedang menyusun buku antologi prosa lirisnya sendiri tentang <em>cinta </em>dan <em>pendakian jiwa</em>. Tinggal di Pondok Labu Jakarta Selatan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://refleksi.alfisatria.com/sebuah-refleksi-tentang-reinkarnasi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>3</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Bentuk-bentuk Reinkarnasi dan Kesudahannya</title>
		<link>http://refleksi.alfisatria.com/bentuk-bentuk-reinkarnasi-dan-kesudahannya</link>
		<comments>http://refleksi.alfisatria.com/bentuk-bentuk-reinkarnasi-dan-kesudahannya#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Nov 2010 12:25:20 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Achmad Chodjim]]></category>
		<category><![CDATA[Reinkarnasi]]></category>
		<category><![CDATA[reinkarnasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://refleksi.alfisatria.com/?p=14</guid>
		<description><![CDATA[oleh Achmad Chodjim Sebenarnya kepercayaan tentang adanya surga, neraka, padang mahsyar, dan hari perhitungan dengan meniti jembatan setipis rambut dibelah tujuh, merupakan kepercayaan yang telah berkembang di Timur Tengah jauh sebelum hadirnya agama Islam. Kepercayaan ini telah mengakar. Islam yang datang di kemudian hari menyerapnya sebagai bagian dari kepercayaannya. Tentu, hal ini lebih menonjol di [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh <strong>Achmad Chodjim</strong></p>
<p>Sebenarnya kepercayaan tentang adanya surga, neraka, padang mahsyar, dan hari perhitungan dengan meniti jembatan setipis rambut dibelah tujuh, merupakan kepercayaan yang telah berkembang di Timur Tengah jauh sebelum hadirnya agama Islam. Kepercayaan ini telah mengakar. Islam yang datang di kemudian hari menyerapnya sebagai bagian dari kepercayaannya. Tentu, hal ini lebih menonjol di dalam Hadis daripada di Alquran.</p>
<p>Meskipun kepercayaan itu telah berkembang di masyarakat Timur Tengah, namun masyarakat Quraisy (Mekah) –terutama para elitnya– lebih menekankan pada keyakinan hidup dan mati hanya sekali. Maka, akhirat yang ditawarkan oleh Nabi Muhammad saw mendapatkan sanggahan yang amat keras dari mereka. Keyakinan tentang kebangkitan, yaitu terciptanya kembali manusia seperti sedia kala (QS 18:48) ditolak mereka. <span id="more-14"></span></p>
<p>Diterimanya kepercayaan tentang akhirat, kiamat, surga dan neraka, telah mengesampingkan pandangan tentang reinkarnasi. Kelahiran kembali manusia di dunia ini dianggap mustahil bin mustahal. Semua ayat yang mengindikasikan adanya “kebangkitan” atau kelahiran kembali di dunia ini (QS 7:25) dipahami sebagai kebangkitan yang terjadi setelah dunia hancur lebur. Perhitungan tentang amal baik dan buruk dianggap ada setelah manusia dibangkitkan nanti.</p>
<p>Kiamat, surga dan neraka, telah menjadi “mind set”, menjadi suatu yang baku dalam pikiran umat Yahudi, Kristen, dan Islam. Seolah-olah tidak diperlukan penjelasan tentang hal-hal itu. Seolah-olah kiamat itu merupakan peristiwa hancurnya alam semesta sebelum dicanangkannya kehidupan baru di dalam surga atau neraka. Padahal, yang semacam inilah yang pada abad-abad awal perkembangan agama Islam, atau awal perkembangan agama Yahudi dan Kristen, telah memicu konflik kepercayaan. Dalam, agama Islam misalnya, terjadi debat tentang bayi yang mati dimasukkan ke dalam surga atau neraka. Tentang jika bayi mati langsung masuk surga, mengapa orang yang bakal menjadi durhaka tidak dimatikan sejak bayi. Dan lain-lain. Nah, akibatnya umat tidak diberi teladan untuk berbuat kebaikan, tapi disibukkan dengan pertikaian.</p>
<p><strong>Manusia Lahir Kembali sebagai Manusia?</strong></p>
<p>Reinkarnasi, atau dilahirkan kembali tidaklah bermakna tunggal. Ada yang beranggapan bahwa kelahiran kembali itu dapat berwujud sebagai apa saja tergantung amalnya. Dapat dilahirkan sebagai manusia atau binatang. Atau, mungkin menjadi tumbuhan. Namun, bagi para spiritualis generasi sekarang, umumnya mereka beranggapan bahwa reinkarnasi itu proses hidup dari manusia ke manusia. Artinya, sebagai manusia, setelah kematiannya pada babak berikutnya akan dilahirkan sebagai manusia lagi. Tentu, ia akan dilahirkan sebagai manusia yang menderita atau bahagia itu tergantung pada amal perbuatannya.</p>
<p>Mengapa, jika reinkarnasi itu sebagai kebenaran bisa bermakna ganda? Ya, kebenaran adalah kebenaran. Kebenaran adalah kenyataan sebagaimana adanya, tanpa campur tangan manusia. Tetapi, ketika kebenaran itu coba dipahami oleh beberapa orang, maka makna yang diperolehnya belum tentu sama. Karena, kebenaran itu sendiri memiliki banyak sisi dan manusia yang mencoba memahami itu tergantung pada pengalamannya.</p>
<p>Oleh karena penjelajahan dan eksplorasi terhadap kehidupan manusia itu masuk kajian misteri, yaitu berada di balik sesuatu yang me-“materi”; maka kajian terhadap reinkarnasi tidak dapat dilepaskan dari pegangan orang yang mencoba memahaminya. Saya, tentunya juga tidak lepas dari teks-teks ajaran agama yang saya peluk. Jadi, meskipun pada sudut globalnya, yaitu saya menerima reinkarnasi, tapi ada nuansa lain dalam memahaminya.</p>
<p>Apakah kita akan dilahirkan sebagai manusia? Kalau hal ini kita coba tanyakan kepada orang-orang yang menyelidiki reinkarnasi melalui meditasi yang mengeksplorasi pengalaman hidup di masa lalu, tentu jawabannya akan beragam. Bagi yang merasa pernah menjadi binatang, jawabannya pasti dalam hidup ini kita bisa dilahirkan sebagai binatang. Bagi yang dalam penglihatannya di dalam meditasi itu tidak pernah mengalami sebagai hewan tentu akan menjawab bahwa reinkarnasi itu dari manusia menjadi manusia. Dan, ini tentu saja tidak dapat diperdebatkan.</p>
<p>Tapi, dalam kehidupan ini ada orang-orang yang mampu menimba sebanyak-banyaknya pengalaman hidup yang pernah dilaluinya di masa lalu. Mereka itu adalah para nabi, avatar, utusan dan yang setingkatnya. Mereka mampu membabar dan membeberkan kebenaran masa silam menjadi kitab-kitab suci atau lembaran-lembaran suci.</p>
<p>Nah sekarang marilah kita perhatikan ayat berikut ini</p>
<p>QS al-Kahf [18]: 48.</p>
<p><em>Wa ‘uridhû ‘alâ rabbika shaffâ laqad ji’tumûnâ kamâ khalaqnâ kum awwala marrah bal za‘antum allan naj‘ala lakum maw‘ida</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dan, mereka akan dibawa kepada Tuhan dikau dengan berbaris. Sesungguhnya kalian akan datang kepada Kami sebagaimana Kami ciptakan kalian pertama kalinya. Bahkan kalian mengatakan bahwa Kami tidak akan menetapi perjanjian.</p>
<p>QS al-An‘âm [6]: 94,</p>
<p><em>Walaqad ji’tumûnâ furâdâ kamâ khalaqnâ kum awwala marrah wa taraktum mâ khawwalnâ kum warâa zhuhûri kum wa mâ narâ ma‘a kum syufa‘â kum alladzîna za‘amtum anna hum fî kum syurakâ’ laqad taqattha‘a bayna kum wa dhalla ‘an kum mâ kuntum taz‘umûn</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dan sesungguhnya kalian akan datang kepada Kami sendiri-sendiri sebagaimana Kami menciptakan kamu pada mulanya. Kalian telah meninggalkan pada generasi berikutnya apa yang telah Kami karuniakan kepada kalian. Dan, Kami tidak melihat pemberi syafaat yang kalian anggap sebagai sekutu Tuhan itu bersama kalian. Sungguh telah terputus dan lenyap antara kamu dengan apa yang kalian anggap sebagai sekutu Tuhan.</p>
<p>Dua ayat di atas sebenarnya menjelaskan tentang kelahiran kembali manusia di atas bumi ini. Agar lebih jelas pemahaman ayat itu, mari kita perhatikan secara seksama kedua ayat tersebut.</p>
<p><strong>Pertama</strong><em>, </em>ayat pada al-Kahf menjelaskan bahwa manusia akan hadir di Hadapan Tuhan dalam <em>shaf-shaf,</em> berbaris. Tentu ini tidak dapat diartikan seperti tentara yang melakukan baris-berbaris. Mengapa? Karena Tuhan itu <em>tan kena kinaya ngapa</em>. Tuhan tidak dapat dibayangkan seperti apa pun. Dus, berbaris di Hadapan Tuhan harus dipahami sebagai hadir mengikuti aturan bekerjanya alam. Atau, mengikuti mekanisme alam.</p>
<p>Bagaimanakah mekanismenya? Nah, baik pada Surah al-Kahf maupun Surah al-An‘âm, diterangkan bahwa manusia akan datang kepada “Kami” secara sendiri-sendiri sebagaimana “Kami” menciptakan pada mulanya. Ya, sengaja kata “Kami” saya tempatkan dalam tanda petik, dan tidak saya ganti dengan kata “Tuhan”. Ada perbedaan di antara keduanya. Kalau disebut kata “Tuhan” itu memang yang dimaksud adalah Tuhan itu sendiri. Yang ditonjolkan adalah kebesaran-Nya. Perhatikan kalimat <em>“mereka akan dibawa kepada Tuhan”</em>.</p>
<p>Apa artinya kalimat tersebut? Artinya, hidup dan mati ini tidak dapat dilepaskan dari Kehadiran Tuhan Semesta Alam. Inilah cara mendidik manusia untuk mengeliminasi egoismenya. Agar di dalam hidup ini kita sadar bahwa kita ini dalam perjalanan menuju kepada Dia. Kita hidup tidak main-main. Meskipun mekanisme hidup itu bagaikan permainan dan sandiwara. Jadi, kita harus membedakan antara “mekanisme” dan “tujuan” hidup di dunia fana ini.</p>
<p><strong>Kedua</strong><em>, </em>tujuan hidup adalah kembali kepada Tuhan. Tapi, ketika yang disebutkan mekanisme kembali kepada Tuhan, maka kata “Tuhan” disebut dengan kata “Kami”. Ini kata yang bermakna “jamak”, plural. Mengapa dalam penciptaan manusia tidak disebut kata “Saya”? Ya, karena Tuhan itu <em>tan kena kinaya ngapa</em>. Dalam penciptaan manusia, Tuhan tidak mencipta seperti sosok makhluk yang berkuasa. Ada berbagai unsur yang dilibatkan dalam penciptaan manusia. Selain kedua orangtua, unsur lingkungan juga ikut menentukan.</p>
<p>Hakikat dari hakikat memang Tuhanlah yang menjadi pencipta. Tapi, di alam nyata ini ternyata Tuhan tidak menciptakan manusia, hewan, tumbuhan dan lain-lainnya dengan cara “sim salabim”. Penciptaan makhluk hidup melalui mekanisme perkembangbiakan di alam. Dan, untuk manusia, perlu kehadiran orangtua dan ketersediaan unsur-unsur pembentuk jasad hidup manusia. Di antaranya kandungan sel sperma per mililiternya harus sekian ratus juta, meski yang dibutuhkan hanya satu sel sperma.</p>
<p><strong>Ketiga</strong><em>, </em>manusia datang kepada “Kami” sendiri-sendiri. Perhatikan dengan seksama mengapa bukan datang kepada “Aku”. Karena, “Aku” adalah pribadi. Perintah mengabdi atau menyembah kepada Tuhan disebut dengan menyembah kepada “Nya”, “Engkau”, atau “Aku”. Ungkapan ini benar-benar bermakna Tuhan sendiri. Tetapi, “penciptaan” dan “datang” dikaitkan dengan kata “Kami”. Artinya apa? Ini artinya, penciptaan oleh Tuhan itu melalui segenap kehadiran unsur yang dapat dilihat dan disaksikan melalui indra manusia. Nah, datang kepada-Nya pun melalui mekanisme alam yang dapat dilihat dan disaksikan.</p>
<p>Maka, pada kedua ayat tersebut dikatakan bahwa datang kepada Tuhan itu <em>sebagaimana</em> Tuhan menciptakan pada mulanya. Inilah sistem penciptaan dan datang yang normal. Lahir sebagai manusia dan akan dilahirkan lagi sebagai manusia. Lahir sebagai bayi dan akan dibangkitkan (dikiamatkan) sebagai bayi. Inilah jalan untuk menjadi manusia sempurna. Karena, hanya dengan hadir sebagai manusia yang hidup manusia dapat meningkatkan amal baktinya dalam hidupnya.</p>
<p>Dengan proses semacam itu, Tuhan telah menetapi dan menepati janji-Nya, atau telah memenuhi perjanjian yang telah disetujui sang hamba seperti yang diungkapkan dalam QS al-A‘râf [7]: 172. Dengan proses lahir dan lahir lagi di bumi ini manusia diberi kesempatan untuk memperhatikan siapa dirinya dan bagaimana caranya untuk kembali kepada-Nya. Dengan lahir dan lahir berulang-ulang sebagai manusia, ia bisa meningkatkan kualitas dirinya untuk turut serta <em>hamemayu hayuning bawana</em>. Yaitu, sikap hidup untuk terus-menerus meningkatkan keindahan bumi yang diciptakan Tuhan dengan segenap kebaikannya. Maka, menurut konsep Jawa, <em>insan kamil</em> atau manusia sempurna adalah manusia yang dapat menjalankan <em>AIU</em>. Yaitu, <em>aku ini urip, aku iki </em>di-<em>uripi lan </em>ang-<em>uripi</em>. Dalam bahasa Indonesia, “saya ini hidup, semula dihidupi dan selanjutnya menghidupi”.</p>
<p>Dus, secara tata-cara alam, manusia sebenarnya makhluk yang sudah tumbuh menjadi sempurna. Dalam perjalanannya manusia berangkat sebagai <em>makhluk sempurna</em> untuk menjadi <em>manusia sempurna, </em>yaitu manusia yang mampu menjadikan dirinya “AIU”. Hanya manusia sempurnalah yang dapat kembali kepada Yang Maha Sempurna, yaitu Tuhan Yang Maha Esa. Dalam bahasa Alquran disebutkan bahwa manusia itu diciptakan dalam ujud (bukan <em>wujud</em>) yang terbaik daripada sebagian besar makhluk-Nya.</p>
<p><strong>Keempat</strong><em>, </em>manusia tidak sama dengan hewan. Bila hewan mati, maka ia tidak meninggalkan apa-apa –kecuali bangkai– kepada generasi berikutnya. Manusia memiliki nilai. Karena itu, manusia ingin mewariskan nilai itu kepada generasi berikutnya. Nah, nilai itu dapat berupa hal yang material maupun yang imaterial. Yang imaterial adalah ajaran-ajaran tentang budi luhur. Sedangkan yang material adalah harta benda yang dalam ayat di atas disebut <em>karunia Tuhan yang ditinggalkan kepada generasi berikutnya.</em></p>
<p>Kecaman pedas ditujukan kepada orang yang landasan hidupnya hanya berupa material. Banyak orang yang berpikiran bahwa harta benda dapat menyelamatkan dirinya. Ternyata, harta benda itu terpaksa ditinggalkan ketika mereka mengalami kematian. Apa yang dirasakan sebagai syafaat atau penolong dalam hidup sebelumnya, ternyata telah putus. Lenyap. Tidak lagi berfungsi seperti sebelumnya. Mengapa? Sebab, bilamana pada masa hidup sebelumnya kaya dan hanya mengandalkan kekayaannya untuk kelangsungan hidupnya, maka boleh jadi ia sekarang hidup dalam kondisi yang sebaliknya yaitu menderita kemiskinan.</p>
<p>Dengan ayat-ayat tersebut sebenarnya manusia diingatkan untuk tidak terjebak dalam kehidupan material belaka. Material adalah sesuatu yang fana sifatnya. Material tidak dapat membantu dirinya dalam perjalanan hidup selanjutnya. Maka, apa yang perlu diwariskan? Tiada lain adalah budi luhur atau akhlak mulia. Maka, ajaran Nabi Muhammad yang paling pokok adalah memraktikkan hidup yang berakhlak mulia. Dalam Hadis disebut, <em>innama buitstu li utammima makârim al-akhlâq, </em>sesungguhnya saya dibangkitkan untuk memprioritaskan budi pekerti yang mulia. Alias, budi luhur.</p>
<p>Sayang, akhlak mulia alias budi luhur ini dilupakan oleh sebagian besar pemeluk agama. Ya, agama apa saja! Pemeluk agama umumnya dibawa ke hal-hal yang sifatnya semu. Hal-hal yang sifatnya untuk konsumsi politik dan ekonomik tokohnya. Kalau sudah demikian, meski manusia dilahirkan berkali-kali sebagai manusia, tapi tak ada peningkatan kualitas, bahkan kualitasnya amat buruk dan lebih buruk dari hewan.</p>
<p>Dalam kenyataan di lapangan kita bisa melihat manusia-manusia yang perilakunya seperti hewan. Dan, bahkan ada yang pernah ditayangkan di teve swasta seorang anak yang sudah berumur 12 tahun yang tetap tidak bisa berbicara ala manusia umumnya. Kalau toh bicara, maka bicaranya itu mirip dengan bunyi burung yang <em>cruit, cruuiit, ceertt</em>. Dan, makannya pun tidak selayaknya manusia. Bukan nasi, sayur dan lauk-pauk, tapi daun-daunan semata. Sehingga, orangtuanya senantiasa mencarikan ranting-ranting muda yang dipenuhi daun. Lahap sekali dalam memakan daun.</p>
<p><strong>Bisakah Manusia Dilahirkan Kembali sebagai Binatang?</strong></p>
<p>Sudah disebutkan bahwa mekanisme normal menyebabkan manusia tetap dilahirkan kembali sebagai manusia. Tapi, di alam senantiasa terjadi <em>distorsi</em>, atau penyimpangan kejadian. Kita ambil contoh kelamin manusia. Secara alami manusia itu diciptakan menjadi manusia yang berkelamin laki-laki dan yang berkelamin perempuan. Semua kitab suci menyebut demikian. Tetapi, faktanya ada penyimpangan. Saya beberapa kali mendengar ada anak yang dilahirkan memiliki kelamin ganda. Dan, di bulan Oktober 2004 ini saya melihat suatu acara liputan di siang hari tentang seorang anak yang berkelamin ganda. Diperlihatkan di teve tersebut secara normal yang tampak adalah “alat kelamin laki-laki”. Jadi, secara sepintas tidak ada tanda-tanda bahwa dia mempunyai kelainan kelamin. Pokoknya kelihatan utuh kelamin laki-laki. Tapi, ketika batang penisnya diangkat, maka ternyata buah pelirnya berupa vagina. Ya, vagina yang sama dengan yang dimiliki seorang perempuan. Seandainya penis itu dipotong, ya tinggal vaginanya.</p>
<p>Nah, secara faktual ada penyimpangan kelamin. Dan, penyimpangan itu tidak banyak. Secara statistik sebuah kebenaran pun hanya berada dalam selang kepercayaan. Artinya, kebenaran bukanlah sesuatu yang bulat seratus persen. Katakanlah sesuatu dianggap benar bila ada dalam jangkauan 95-99 persen benar. Tapi, ada yang menyimpang meskipun 1 persen atau kurang. Itu dapat diamati dalam kehidupan sehari-hari.</p>
<p>Jadi, jangan heran bilamana kita pun menyaksikan perilaku hewan yang dalam ungkapan Jawa dikenal dengan <em>hewan yang kamanungsan</em>. Artinya, secara lahiriah ia berupa hewan, tapi perilakunya seperti manusia layaknya. Ia punya pengertian. Sehingga, tidurnya pun minta bersama majikannya di atas kasur. Tidak mau minum air kotor dan hanya mau minum air yang bersih, dan perilaku manusia lain-lainnya. Ada fakta!</p>
<p><strong>Bagaimana menurut kitab suci? Marilah kita periksa ayat-ayat dalam kitab suci Alquran.</strong></p>
<p><em>Dan sesungguhnya telah kamu ketahui orang-orang yang melanggar di antaramu pada hari Sabbat, lalu Kami berfirman kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina!”</em> (QS 2:65)</p>
<p><em>Katakanlah: “Apakah akan aku beritakan kepadamu tentang orang-orang yang lebih buruk pembalasannya dari orang-orang fasik pada Sisi Allah, yaitu orang-orang yang dikutuki dan dimurkai Allah , di antara mereka ada yang dijadikan kera dan babi, dan penyembah tagut?” Mereka lebih buruk tempatnya dan lebih tersesat jalannya. </em>(QS 5:60)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Maka, tatkala mereka bersikap sombong terhadap larangan yang ditetapkan kepada mereka, Kami katakan kepada mereka: “Jadilah kamu kera yang hina!” </em>(QS 7:166)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Dan mereka berkata: “Apakah bila kami telah menjadi tulang-belulang dan sesuatu yang rusak, apa benar kami dibangkitkan menjadi makhluk yang baru?”</em></p>
<p><em>Katakanlah: “Jadilah kamu batu atau besi,</em></p>
<p><em>Atau suatu makhluk yang tidak mungkin menurut pikiranmu!” Mereka bertanya: “Siapa yang akan menghidupkan kami kembali?” Katakanlah: “Yang telah menciptakan kamu pada kali mulanya.” Lalu, mereka menggeleng-gelengkan kepala kepadamu dan berkata: “Kapan itu?” Jawablah: “Semoga itu terjadi dalam waktu dekat.” </em>(QS 17: 49–51)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>..Binasalah orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala, di samping itu ada jahanam dan dia akan diberi minuman dengan air nanah. </em>(QS 14: 15–16)</p>
<p><em> </em></p>
<p>Cukuplah kiranya ayat-ayat<em> </em>yang menunjukkan adanya kejadian yang menyimpang dalam kehidupan di dunia ini. Perhatikan ayat-ayat tersebut dengan seksama tanpa melibatkan emosi. Jauhkan dari sikap apriori. Lalu, baca dengan logika.</p>
<p><strong>Pertama</strong><em>, </em>perhatikan kata “Kami” pada ayat-ayat tersebut. Jelas yang dimaksud di ayat itu adalah mekanisme alam. Tuhan semesta alam itu Maha Penyayang. Dia dalam Diri-Nya senantiasa kasih. Makanya, tidak dikatakan “Aku berfirman” atau “Aku menetapkan”. Alam semesta itu sendiri adalah <em>firman Tuhan</em>. Lalu, “Kami berfirman” sebenarnya lebih ditujukan pada “Sabda Alam”. Ya, alam yang bersabda. Mungkin kita menyangkal bahwa ada alam koq dapat bersabda. Nah, kita lupakan bahwa diri kita ini bagian dari alam, tapi toh nyatanya kita dapat bersabda.</p>
<p>Orang yang melanggar Hari Sabbat atau Hari Keramat bagi pemeluk Yahudi disebut orang yang melanggar pantangan alam. Karena alam mereka rusak, makanya perbuatannya itu mengakibatkan mereka menjadi kera yang hina. Ya, sudah menjadi kera, tapi kera yang hina pula. Banyak yang menafsirkan bahwa mereka yang merusak Hari Sabbat itu perilakunya seperti kera. Apa yang lepas dari ayat tersebut? Jelas sekali bahwa sabda itu bukan untuk menjadikan “seperti” kera, tapi kera sebenarnya. Bahasa Arab memiliki kosa kata untuk “seperti” yaitu <em>ka </em>atau <em>kamâ</em>. Bacalah ayat terdahulu, di situ disebutkan <em>“kamu datang kepada Kami sebagaimana…”</em>. Dan lagi, kalau dijadikan “seperti” kera, ya tidak usah menunggu lagi, wong mereka itu sudah seperti kera koq. Pelanggar Hari Sabbat itu perilakunya sudah seperti kera yang tidak tahu aturan. Masakan mereka masih diperintah jadi seperti kera. Hal demikian tentu tidak akan menyadarkan mereka.</p>
<p>Coba periksa ayat QS 5: 60! Dijelaskan pada ayat tersebut bahwa apa yang mereka lakukan itu sudah lebih buruk daripada orang fasik. Makanya, balasan yang diperoleh pun lebih buruk daripada orang yang berbuat fasik atau menyimpang dari jalan yang benar.<a href="#_ftn1">A</a> Maka, perbuatan mereka yang amat buruk itulah yang mengakibatkan mereka ada yang bangkit kembali sebagai kera, babi, atau penyembah tagut. Ayat ini jelas sekali, karena ada pembeda yang jelas antara hewan dan penyembah tagut. Kalau dilahirkan sebagai penyembah tagut, itu artinya dilahirkan sebagai manusia. Tapi, ia menjadi manusia yang melampaui batas-batas kehidupan itu sendiri. Atau, dengan kata lain ia menjadi manusia yang hidupnya hanya memperturutkan hawa nafsunya semata.</p>
<p>Entah menjadi kera, babi, atau penyembah tagut; menurut ayat tersebut mereka dikategorikan sebagai makhluk yang posisi kehidupannya lebih buruk daripada rata-rata orang, dan tidak tahu lagi jalan yang benar. Coba perhatikan! Menjadi hewan pun bukanlah hewan normal yang perilakunya berdasarkan <em>perikehewanan</em>. Artinya, secara wujud hewan, tapi perilakunya lebih buruk daripada hewan. Apa ada? Ya, coba saja amati hewan-hewan yang ada di sekitar kita. Kalau masih sulit membayangkan bagaimana beda kera atau babi asli dengan yang perwujudan dari manusia, ya perhatikanlah anjing yang hidup di sekitar kita.</p>
<p>Maka, kalau kita amati anjing, kita akan tahu perilaku anjing pada umumnya. Tapi, ada yang benar-benar <em>kamanungsan</em>. Ada pula yang amat jahat terhadap manusia, dan tak pernah mengerti majikan. Ia malah memilih hidup liar, dan makannya pun hanya mengandalkan sampah. Dan, ada anjing yang menjadi gila yang disebut “anjing gila”. Nah, kalau perusak kehidupan itu lahir sebagai babi atau kera, tentunya bukan babi atau kera yang disebut <em>kamanungsan</em>, tapi babi atau kera yang hina sebagaimana dinyatakan pada QS 2: 65 dan 7: 166. Makanya, babi dan kera yang dimaksud disetarakan dengan kehidupan para penyembah tagut.</p>
<p><strong>Kedua</strong><em>, </em>ada lagi yang lebih buruk daripada menjadi kera, babi atau penyembah tagut. Yaitu pada dua kelompok ayat berikutnya. Perusak kehidupan tidak dibangkitkan sebagai manusia atau binatang, tapi menjadi batu atau besi, atau makhluk yang berada di luar jangkauan pikiran.</p>
<p>Tidak menjadi hewan atau manusia. Artinya apa? Orang yang tidak lagi dapat dilahirkan berjasad fisik. Ini berarti cuma menjadi <em>hantu gentayangan</em>. Ia tersesat jalan yang amat parah. Sehingga, tidak tahu lagi kalau setiap hari ada proses penciptaan <em>badan wadag</em> manusia. Frekuensi energinya tidak mampu mengendus calon jabang bayi. Mereka akhirnya memilih tinggal di batu-batuan, rongsokan logam, atau benda lainnya.</p>
<p>Ia menjadi hantu gentayangan. Karena asal-usulnya dari manusia maka ia tetap menganggu manusia. Tentu manusia yang diganggunya itu tatkala getaran frekuensi energinya di ambang bawah. Oleh sang dukun hantu diusir-usir. Kalau ada orang baik dengan sendirinya terusir. Inilah yang disebut “tidak mengetahui jalan atau amat tersesat”.</p>
<p>*****</p>
<p>Reinkarnasi secara normal adalah manusia yang dilahirkan kembali sebagai manusia. Hanya saja ada manusia yang kelakuannya seperti hewan. Dan, ada pula yang hanya memperturutkan hawa nafsunya belaka. Tapi, sebagai akibat hukum penyimpangan, maka ada yang dilahirkan dalam wujud hewan, ternak, atau hewan piaraan. Tapi, hal ini sekali lagi hanya penyimpangan di alam. Mengapa bisa menyimpang? Ya, karena yang menjadi hewan itu hidup di jalan kehidupan yang amat dekat dengan jalan hidupnya hewan. Kalau tidak ingin terlanda banjir, ya jangan hidup di pinggir sungai. Kalau tidak ingin terbakar, ya jangan main-main api.</p>
<p>Nah, yang lebih celaka adalah tidak dapat dilahirkan sebagai makhluk hidup. Ia benar-benar tersesat yang kelewat batas. Ia tidak tahu caranya masuk ke dalam jabang bayi. Maka ia tetap di alam kehidupan yang tanpa badan wadag. Ia hanya bisa gentayangan.</p>
<p><strong>Bagaimana Kesudahan Perjalanan Manusia?</strong></p>
<p>Ketika air menjadi es, cairan, atau pun uap air, maka sebenarnya ia tetap air. Tidak lebih dan tidak kurang. Yang berubah-ubah hanya wujudnya. Hakikatnya ia tetap air. Di atas suhu 4 derajat, es akan menjadi air. Uap air yang mengumpul di angkasa jika faktor-faktor pembentuk hujan ada, maka uap itu akan turun ke bumi sebagai air.</p>
<p>Selama manusia hidup sebagai badan wadag atau hidup di alam astral, maka manusia tidak akan pernah kembali kepada Tuhan. Dalam jangka pendek atau dalam jangka panjang, ia akan mengalami siklus hidup sebagai manusia di bumi ini atau di planet lain. Dalam sebuah buku yang ditulis oleh Sayyid Hasan Abthahy (orang Iran), dikisahkan di dalamnya bahwa Carnes yang masih hidup berhubungan dengan Jiwa Louman yaitu temannya yang sudah meninggal. Carnes menanyakan di mana Louman sekarang tinggal. Menurut Louman dia tinggal di sebuah planet <em>kepela</em> dan jaraknya dari bumi adalah 71 tahun cahaya. Itulah sekilas cuplikan bahwa siklus hidup itu tidak hanya di planet bumi saja.</p>
<p>Manusia terus-menerus bisa meningkatkan dirinya menuju planet yang semakin indah. Hal ini dikabarkan dalam QS 39: 20, <em>“Tetapi orang-orang yang bertakwa kepada Tuhan mereka mendapat tempat-tempat yang tinggi, di atasnya dibangun pula tempat-tempat yang tinggi yang di bawahnya mengalir sungai-sungai…. </em></p>
<p>Namun demikian, ada pula yang dalam perjalanan hidupnya sudah melampaui dunia fisik di mana pun berada. Itulah orang-orang yang benar-benar kembali kepada-Nya.[]</p>
<p>Salam,</p>
<p><strong>A.Chodjim</strong></p>
<hr size="1" /><a href="#_ftnref1">A</a> Orang fasik itu adalah orang yang menyimpang dari perbuatan yang benar, tapi mereka itu tahu bahwa ia melanggar kebenaran. Sedangkan orang yang tidak tahu jalan yang benar, itu adalah orang yang tersesat.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://refleksi.alfisatria.com/bentuk-bentuk-reinkarnasi-dan-kesudahannya/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengapa Manusia Mengalami Reinkarnasi ?</title>
		<link>http://refleksi.alfisatria.com/mengapa-manusia-mengalami-reinkarnasi</link>
		<comments>http://refleksi.alfisatria.com/mengapa-manusia-mengalami-reinkarnasi#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 01 Nov 2010 12:07:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
				<category><![CDATA[Achmad Chodjim]]></category>
		<category><![CDATA[Reinkarnasi]]></category>
		<category><![CDATA[reinkarnasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://refleksi.alfisatria.com/?p=11</guid>
		<description><![CDATA[oleh Achmad Chodjim Kata “reinkarnasi” asalnya dari kata re+in+carnis. Kata Latin carnis berarti daging. Incarnis artinya mempunyai bentuk manusia. Sedangkan reinkarnasi adalah masuknya jiwa ke dalam tubuh yang baru. Jadi, jiwanya adalah jiwa yang sudah ada, tapi jasadnya baru. Maka, reinkarnasi juga dapat disebut kelahiran kembali. Kondisi ini disebut pula sebagai migrasi jiwa. Artinya, jasad [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>oleh <strong>Achmad Chodjim</strong></p>
<p>Kata “reinkarnasi” asalnya dari kata <em>re+in+carnis.</em> Kata Latin <em>carnis </em>berarti daging. <em>Incarnis </em>artinya mempunyai bentuk manusia. Sedangkan <em>reinkarnasi </em>adalah<em> </em>masuknya jiwa ke dalam tubuh yang baru. Jadi, jiwanya adalah jiwa yang sudah ada, tapi jasadnya baru. Maka, reinkarnasi juga dapat disebut <em>kelahiran kembali</em>. Kondisi ini disebut pula sebagai migrasi jiwa. Artinya, jasad lama ditinggalkan alias mati, dan pada suatu kesempatan jiwa tersebut masuk ke dalam jasad baru, alias menjadi bayi kembali. Dalam bahasa Inggris reinkarnasi disebut sebagai <em>reborn </em>atau <em>reembodiment</em>.</p>
<p>Bagi agama-agama di Timur, agama-agama yang tumbuh di India, Tibet, Cina, Jepang, dan di Kepulauan Nusantara; reinkarnasi bukan lagi sebagai hal yang aneh. Reinkarnasi bukan dipahami sebagai kepercayaan atau keimanan, tapi sebagai hukum alam.</p>
<p><span id="more-11"></span> Bagaimana dengan reinkarnasi di Dunia Barat? Sumber dasar filsafat Barat adalah budaya Yunani dan Romawi. Pada kedua budaya tersebut, reinkarnasi diterima sebagai kepercayaan. Di antara filsuf Yunani kuno, Plato yang hidup pada abad ke 5–4 seb. M, percaya bahwa jiwa tidak pernah mati, dan mengalami reinkarnasi berkali-kali. Lalu, kapan reinkarnasi itu berakhir? Ya, segala sesuatu pasti berakhir. Menurut agama Hindu, reinkarnasi berakhir bila sang manusia mengalami moksa. Menurut agama Buddha kelahiran kembali tak akan terjadi lagi bila roda <em>samsara</em> telah berhenti. Sang Jiwa selanjutnya ke alam nirwana.</p>
<p><strong>Tujuan Hidup dan Mati Menurut Ayat-ayat Alquran</strong></p>
<p>Sebagai seorang muslim tentu saya akan menguraikan reinkarnasi ini berdasarkan dalil-dalil Alquran dan Hadis. Dan, dalil-dalil ini tergolong ayat-ayat mutasyabihat. Ayat-ayat yang perlu dipahami maknanya dengan seksama. Oleh kalangan awam ayat-ayat ini biasanya dilepas begitu saja, dan tidak ada usaha memahaminya. Padahal, Alquran telah memerintahkan pembacanya untuk menggunakan akal atau pikiran untuk dapat mengerti makna yang tersembunyi dibalik makna literalnya.</p>
<p>Marilah kita simak ayat QS al-Mulk [67]: 2.</p>
<p><em>Alladzî khalaqa al-mawta wa al-<span style="text-decoration: underline;">h</span>ayâta li yabluwakum ayyukum a<span style="text-decoration: underline;">h</span>sanu ‘amalâ wa huwa al-‘azîz al-ghafûr.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Dia yang menciptakan kematian dan kehidupan. Dengan cara itu Dia mendidik dan melatihmu, dan untuk memberikan nilai bagi siapa yang lebih baik amalannya. Dan, Dia itu Maha Perkasa dan Maha Melindungi.</p>
<p><em><strong>Pertama</strong>, </em>mati dan hidup itu diciptakan. Hal semacam ini sering luput dari pemahaman. Dikiranya, yang diciptakan Tuhan itu hanya hidup. Mati ada di dalam wilayah ciptaan Tuhan. Demikian pula hidup. Tentu saja yang dimaksud di sini bukanlah “hidup sejati”. Tapi, hidup di dalam jasad. Jadi, hidup di dalam jasad, dan mati jasad itu ciptaan.</p>
<p>Jasad atau raga hanyalah pakaian bagi “jiwa”, <em>soul</em>. Jika raga tidak bisa dipakai alias tidak berfungsi, maka jiwa akan meninggalkannya. Tetapi, jika jiwa hanya sekadar meninggalkan jasad, belum tentu jasad mengalami kematian. Dalam peristiwa <em>OOBE </em>(Out Of the Body Experience), jiwa dapat keluar tubuh dan kembali lagi. Tidur nyenyak pun dapat membuat jiwa ke luar dari tubuh untuk beranjang sana-sini. Hal semacam ini dijelaskan dalam QS al-Zumar [39]: 42, sebagai berikut.</p>
<p><em>Allah yang memegang jiwa manusia ketika matinya dan di waktu tidur bagi yang belum mati. Dan, ditahan-Nya jiwa yang telah ditetapkan kematiannya, sedangkan yang belum mati dilepaskan hingga masa ajal tiba. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat ayat-ayat bagi orang yang berpikir.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Selama garis kematian belum tiba, jiwa dapat bepergian kesana-kemari. Menurut mistik Timur, jiwa dan raga ini ada tali pengikat yang disebut <em>benang perak </em>atau <em>silver cord</em>. Selama benang ini tidak putus, maka orang yang mengalami <em>OOBE</em> tidak akan tertimpa kematian.</p>
<p>Bila dilihat dari sudut energi, orang yang mengalami mati itu telah kehilangan energi prana, <em>elan vital,</em> atau premananya (Jawa). Baik benang perak atau premana tidak perlu dipertentangkan. Keduanya merupakan elemen kehidupan. Jika salah satunya rusak, orangnya akan mati. Artinya, bilamana elemen-elemen yang membangun hidup itu rusak alias tidak berfungsi, jiwa tak akan dapat beroperasi lagi. Jiwa akan meninggalkan tubuh yang demikian itu.</p>
<p><em><strong>Kedua</strong>, </em>penciptaan mati dan hidup itu dimaksudkan untuk mendidik dan melatih manusia agar manusia dapat beramal kebajikan. Jadi, jelas sekali bahwa proses mati-hidup-mati-hidup di dunia ini dimaksudkan untuk melatih manusia. Dunia ini sekolahan. Dunia adalah ladang bagi kehidupan berikutnya (Hadis). Siapa yang menanam, ia pula yang mengetam. Dan, dalam QS 51:56 disebutkan bahwa tujuan penciptaan manusia itu adalah <em>ma’rifat Allah, </em>mengenal Allah. Untuk apa? Agar manusia dapat kembali ke asalnya, yaitu kembali kepada Allah.</p>
<p>Seringkali balasan amal itu dipahami sebagai balasan atau imbalan yang akan diberikan kepada manusia setelah dibangkitkan dari kuburnya di alam akhirat setelah hancur-leburnya bumi. Hal ini tentu saja tidak sesuai dengan pernyataan-pernyataan tentang cepatnya perhitungan Tuhan terhadap para hamban-Nya. Lebih dari 10 ayat yang menyatakan bahwa <em>hisab</em> Tuhan atau perhitungan amal baik dan buruk manusia itu amat cepat. Kalau hukuman itu ditangguhkan hingga hari kiamat atau setelah hancurnya alam semesta, maka ada orang yang sudah jutaan tahun dalam masa menunggu, dan bagi yang hidup menjelang hancurnya alam semesta malah akan menerimanya lebih cepat. Tentu, hal ini akan bertentangan dengan kasih sayang Tuhan, sekaligus bertentangan dengan keadilan-Nya.</p>
<p>Balasan dan imbalan dari Tuhan terhadap amalan manusia itu amat cepat alias segera. Dan, perhitungan itu tidak sperti nilai rapor. Apabila nilai rapor sudah diperhitungkan nilai plus-minusnya, sehingga seseorang tinggal terima jadi, apakah ia naik kelas atau tinggal kelas; tidak demikian dengan perhitungan Tuhan. Dalam QS al-Zalzalah [99]:7–8 disebutkan sebagai berikut:</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Faman ya‘mal mitsqâla dzarrah khayran yarâh.</em></p>
<p><em>Wa man ya‘mal mitsqâla dzarrah syarran yarâh.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Barangsiapa yang beramal kebajikan sebesar zarah, maka buah amalnya itu akan dilihatnya.</p>
<p>Dan, barangsiapa berbuat keburukan sebesar zarah, maka balasan amal buruknya itu pun akan dilihatnya.</p>
<p>Jadi, tidak ada perhitungan dengan sistem yang dapat mencapai angka 6 atau lebih akan naik kelas atau akan tinggal di surga, dan yang tidak dapat angka indeks prestasi itu akan tinggal di neraka. Tidak. Tidak demikian! Bahkan bagi yang beramal keburukan sekecil debu pun akan merasakan balasannya. Sebaliknya, yang beramal kebaikan sekecil zarah pun akan merasakannya pula.</p>
<p>Balasan Tuhan itu amat cepat. Dalam bahasa Arab disebut <em>sarî‘ al-<span style="text-decoration: underline;">h</span>isâb.</em> Balasan yang cepat artinya suatu balasan yang dapat diamati di dunia ini. Dan, sistem perhitungannya pun sebagaimana dikemukakan pada ayat-ayat di Surah al-Zalzalah tersebut. Itu artinya balasan atau imbalan itu berlangsung di dunia ini. Caranya melalui kelahiran kembali. Hal ini disebut dalam QS 6:94, bahwa manusia datang sendiri-sendiri sebagaimana kejadian pada mulanya. Dan, mengenai penciptaan pada kali yang lain ini akan jelas sekali diterangkan dalam QS 29: 19–21 sebagai berikut.</p>
<p><em>Dan, apakah mereka tidak memperhatikan bagaimana Allah menciptakan pada awalnya dan mengulanginya. Sesungguhnya yang demikian itu mudah bagi Allah.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Katakanlah: “Berjalanlah di bumi, maka gunakan nalarmu untuk mema-hami bagaimana Allah menciptakan pada mulanya, kemudian menciptakannya pada kali yang lain. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Allah mengazab orang yang menghendaki (azab) dan memberikan rahmat kepada yang menghendakinya. </em><em>Dan, hanya kepada-Nya kamu dikembali-kan.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Perhatikan dengan seksama ayat tersebut. Pada ayat yang pertama, isi perintah-Nya adalah memperhatikan cara Allah menciptakan manusia. Ya, yang perlu diperhatikan adalah cara Allah menciptakan manusia pada mulanya. Bagaimana? Ternyata, caranya melalui pertemuan sel telur pada wanita dan sel sperma dari pria. Kemudian, keduanya bersatu, membelah diri, dan akhirnya tumbuh menjadi janin di dalam perut ibu. Lalu, lahir ke bumi sesuai dengan garis nasibnya. Ada yang dilahirkan di tengah orang berada, dan ada yang dilahirkan melalui keluarga papa.</p>
<p>Setelah paham tentang penciptaan pada pertamanya, maka kita diminta memperhatikan caranya Allah mengulangi penciptaan itu. Kita diperintah untuk memperhatikan pada penciptaan ulangan, agar kita <em>ngeh</em>, kita paham benar-benar bagaimana proses penciptaan manusia.</p>
<p>Ayat yang kedua, memerintah kita untuk menjelajah bumi ini. Kita diperintah untuk melakukan <em>study tour</em>, atau widya wisata. Untuk apa? Untuk mengerti tentang bagaimana Allah menciptakan pada mulanya, dan menciptakan pada kali lainnya. Coba renungkan dalam-dalam! Seandainya penciptaan pada kali lain itu terjadi setelah dunia ini hancur lebur, ya akan menjadi perintah yang salah. Mengapa? Karena penyelidikan penciptaan itu cukup di bumi ini, baik penciptaan pada mulanya maupun pada kali yang lain. Itu artinya kebangkitan itu di bumi ini. Yaitu, berupa kelahiran kembali. Ya, lahir kembali adalah penciptaan pada kali yang lain. Kalau bumi sudah hancur, maka kita tidak akan dapat melakukan studi tentang kebangkitan. Kita tidak dapat memperoleh pemahaman tentang itu.</p>
<p>Nah, pada penciptaan kali yang lain itulah seorang manusia yang dilahirkan menerima azab atau mendapat rahmat. Azab atau rahmat yang diterimanya itu berdasarkan kehendak orang yang dilahirkan kembali. Jadi, bukan karena kehendak Tuhan. Mengapa? Karena Tuhan sama sekali tidak merugikan hamba-Nya. Dalam QS 3:117 disebutkan bahwa Allah tidak menganiaya mereka, tetapi mereka yang menganiaya diri mereka sendiri. Sedangkan dalam QS 10:44 disebutkan bahwa, “Sesungguhnya Allah tidak menzalimi manusia sedikit pun, akan tetapi manusia sendiri yang berbuat zalim terhadap dirinya sendiri.”</p>
<p>Jelas sudah, bahwa bukan Allah yang menghendaki azab bagi manusia. Allah hanyalah menjalankan roda hukum alam yang telah ditetapkan-Nya. Sedangkan manusia itu sendiri adalah bagian dari hukum alam yang telah ditetapkan Tuhan. Karena hukum alam berjalan di bawah kehendak Tuhan, maka seakan-akan pahala dan balasan itu atas Kehendak-Nya. Sayang sekali, dalam berbagai terjemahan, kata <em>man yasyâ’ </em>diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia <em>Allah menghendaki</em>. Tentu saja terjemahan demikian melanggar pernyataan Allah bahwa Dia tidak merugikan manusia sedikit pun.</p>
<p>Apabila kita memahami bahwa Allah tidak merugikan manusia sedikit pun, lalu siapa yang membuat ada yang bernasib baik, dan ada yang bernasib buruk? Lalu, mengapa ada orang yang mulus hidupnya dan ada yang tidak luput dari bencana? Apa ada garis tangan seseorang?</p>
<p>Jawabnya, semua itu akibat ulah dan perbuatan orang yang tertimpa bencana itu sendiri. Kalau seseorang bernasib baik maka itu akibat amal kebajikan orang itu sendiri. Amalan kapan? Yaitu, amal baik dan buruk yang pernah dikerjakan pada kehidupan yang lampau. Jadi, takdir baik dan buruk itu digoreskan oleh seseorang pada masa lampaunya. Jika takdir baik dan buruk itu ditetapkan oleh Tuhan di zaman azali, maka itu artinya Tuhan telah berbuat zalim bagi sebagian hamba-Nya. Jika sudah demikian, berarti Tuhan telah pilih kasih terhadap hamba-Nya. Padahal, Tuhan tidak merugikan sedikit pun kepada manusia. Maka, jelas Tuhan tidak menetapkan takdir sebagaimana yang dipahami oleh sebagian besar umat Islam hingga sekarang ini. Maka, kita sekarang ini bukanlah kita yang baru dicipta. Tapi, kita sekarang ini adalah manusia yang telah lahir beberapa kali, bahkan ratusan atau bahkan ribuan kali.</p>
<p>Mengenai petaka atau bencana yang menimpa manusia di bumi ini, dapat dirujuk pada ayat-ayat berikut. Perhatikan dengan seksama dua ayat di bawah ini.</p>
<p><em>Dan, musibah apa pun yang menimpamu, maka itu disebabkan oleh tindakanmu sendiri, dan Allah mengampuni sebagian besar kesalahanmu. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Dan, kalian tidak dapat melepaskan diri dari bumi ini. Bagimu, tiada pelindung dan penolong selain Allah. (QS 42: 30-31)</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Apa saja jenis musibah atau bencana yang menimpa seseorang, ternyata itu akibat perbuatan tangannya sendiri. Bukan oleh orang lain. Bukan oleh Tuhan. Bukan oleh setan dan jin. Ternyata semua itu disebabkan oleh ulah yang tertimpa musibah itu. Termasuk kalau ada bayi yang dilahirkan cacat. Itu disebabkan oleh perbuatan jiwa si bayi tersebut.</p>
<p>Banyak orang yang tidak memahami tentang kelahiran kembali. Atau, reinkarnasi. Sehingga, kalau ada bayi cacat maka itu dianggap oleh kondisi kesehatan orangtuanya. Misalnya, ada kerusakan genetis. Penyakit dalam kandungan. Oleh sebab-sebab lain. Atau, karena dalam peperangan si bayi terkena peluru nyasar sehingga meski terselamatkan ia kehilangan anggota badannya. Umumnya orang tidak mengerti bahwa itu disebabkan oleh hutang-piutang karma atau perbuatan.</p>
<p>Memang, ada proses karma. Pertama si orangtua mempunyai karma negatif, atau karma buruk. Sehingga ketika dia mengandung, janin yang dikandungnya itu cacat. Jadi, yang cacat itu raga si bayi. Sedangkan raga itu sendiri ya tidak ada maknanya. Nah, ketika raga bayi itu cacat, maka jiwa yang dimasukkan ke dalam raga yang cacat itu adalah jiwa yang hutang karma. Jiwa yang pada kehidupan masa lalunya banyak berbuat keburukan. Dus, bayi yang dilahirkan cacat itu merupakan kaitan karma orangtua dan bayi tersebut. Sama-sama punya karma buruk pada kehidupan masa lalunya. Meskipun hal ini tidak berarti ada kaitan karma buruk antara orangtua dan si bayi pada kehidupan lalunya.</p>
<p>Kembali kepada ayat di atas. Disebutkan bahwa Tuhan mengampuni sebagian besar kesalahan manusia. Apa kaitannya dengan reinkarnasi? Jika Tuhan tidak mengampuni sebagian besar kesalahan manusia, maka manusia tidak akan mengalami kemajuan dalam hidupnya. Bayangkan, jika hutang seratus unit harus dibayar 100 unit; apa yang terjadi? Tak ada perubahan di dalam kehidupan manusia. Tuhan itu Maha Pemaaf. Sehingga, Tuhan tak akan mewujudkan balasan lebih daripada keburukan yang pernah dibuat hamba-Nya. Tuhan bukanlah tukang balas. Namun, kita pun harus paham bahwa mekanisme sebab-akibat itu merupakan ketetapan-Nya.</p>
<p>Dalam bahasa agama, cara kerja alam raya dalam kaitannya dengan sebab dan akibat disebut pemberian pahala untuk kebaikan dan pembalasan atau azab bagi kejahatan. Karena <em>rahman</em> dan <em>rahim</em>-Nya, kebaikan akan mendatangkan kebaikan berlipat ganda, tapi keburukan hanya mengakibat-kan keburukan yang setara atau kurang. Dalam bahasa psikologis alam raya itu bersifat memaafkan. Hal semacam inilah yang disebut dalam Alquran sebagai kebajikan Tuhan. Dia memaafkan sebagian besar kesalahan yang pernah dilakukan manusia.</p>
<p>Pada QS 42: 31, terdapat peringatan dari Tuhan. Apa isinya? Secara normal, manusia tidak akan dapat meninggalkan bumi ini. Salah satu unsur pembentuk fisik manusia adalah bumi. Maka, secara alami manusia tertarik oleh keindahan bumi. Dan, gaya tarik bumi terhadap unsur-unsur fisik manusia, yaitu bumi, air, api dan udara, sangat kuat. Sehingga manusia cenderung untuk kembali hidup di bumi. Hal semacam ini dikabarkan dalam QS 7:25, bahwa <em>manusia dihidupkan oleh Tuhan di bumi, dimatikan di bumi dan dibangkitkan di bumi juga</em>.</p>
<p>Dus, jikalau manusia hanya mengikuti hukum alam, tidak ada aksi dari manusianya sendiri untuk melepaskan diri dari bumi, maka selamanya ia akan tinggal di bumi. Sehingga, kenikmatan surga pun sebatas kenikmatan yang tersedia di bumi ini. Maka, pada penutup ayat 31 disebutkan bahwa bagi manusia tak ada pelindung dan penolongnya selain Allah. Dengan kata lain, pelindung dan penolong manusia itu hanyalah Allah!</p>
<p>Kata “Allah” dalam Alquran adalah sebutan bagi Tuhan semesta alam. Maka, bagi yang bukan orang Islam tidak perlu rancu terhadap sebeutan Tuhan. Bahkan di Alquran sendiri Tuhan dapat disebut berdasarkan Nama-nama baik-Nya (QS 17: 110). Bagi khazanah “New Age”, Tuhan disebut sebagai “Sang Maha Diri”, <em>the Absolute Reality</em> atau <em>Absolute Self</em>. Sedang-kan diri manusia ya “sang diri” atau diri sejati saja. Maka, tujuan hidup manusia adalah kembalinya “sang diri” kepada “Sang Maha Diri”.</p>
<p>Perjalanan sang diri kepada Tuhannya dalam hitungan waktu fisik amatlah panjang. Manusia yang sudah terkungkung oleh ruang-waktu, harus menempuhnya dalam hitungan jutaan tahun bumi. Jika satu generasi perlu hadir selama 50–100 tahun, maka perlu puluhan hingga ribuan kali manusia dapat menyempurnakan dirinya. Dengan kata lain, untuk dapat kembali ke alam kelanggengan atau paling tidak keluar dari bumi manusia perlu dilahir-kan berkali-kali. Manusia perlu mengikuti <em>kala-cakra</em>, atau putaran roda kehidupan di bumi.</p>
<p>Untuk kembali kepada-Nya, ya hanya dengan cara berlindung kepda-Nya semata. Jika kita masih berlindung kepada yang lain, kepada selain-Nya yang <em>notabene</em> hamba-Nya, maka kita pasti menderita di bumi ini. Makanya, semua agama yang ada memerintahkan manusia untuk berlindung dan mohon pertolongan kepada-Nya semata. Inilah yang disebut <em>tauhid</em> dalam agama Islam. Meng-Esa-kan Tuhan.</p>
<p>Musibah atau bencana di bumi sebenarnya merupakan pelajaran agar manusia dapat menyadari kesalahannya dan kembali kepada jalan Tuhan. Namanya saja kembali kepada-Nya, maka jalan yang harus ditempuh pun jalan-Nya yang disebut <em>shirâth al-mustaqîm, </em>jalan lurus. Yaitu, jalan untuk <em>hamemayu hayuning bawana</em> dan tidak menghambakan diri kepada yang selain-Nya.</p>
<p>Perhatikan QS al-Rûm [30]: 41 – 45 sebagai berikut.</p>
<p><em>Telah tampak kerusakan di darat dan di laut akibat perbuatan manusia. Allah bermaksud untuk membuat </em>mereka<em> itu merasakan sebagian akibat perbuatan </em>mereka<em> agar </em>mereka<em> dapat kembali (kepada jalan-Nya).</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Katakanlah: “Lakukan perjalanan di bumi dan perhatikan bagaimana akibat perbuatan orang-orang sebelummu. Sebagian besar mereka itu merupakan orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Oleh karena itu, hadapkanlah dirimu kepada agama yang lurus sebelum datangnya hari dari Allah yang tidak dapat ditolak. Pada hari itu mereka terpisah-pisah. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Barangsiapa yang kafir maka ia sendiri yang menanggung kekafirannya, dan bagi yang beramal saleh maka buah kebaikannya untuk dirinya sendiri. </em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Allah melimpahkan karunia-Nya kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Sesungguhnya Dia tidak mencintai orang-orang yang mengingkari-Nya.</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, ketika ayat ini diturunkan, daratan dan laut telah mengalami kerusakan. Apalagi sekarang! Dan, dinyatakan dengan tegas bahwa kerusa-kan itu akibat perbuatan manusia. Bukan disebabkan oleh perilaku hewan. Artinya, potensi kerusakan itu berasal dari manusia. Ya, akibat ulah manusia rusaklah daratan dan laut. Ternyata, kerusakan di darat dan laut itu dibiarkan oleh Allah agar manusia (yang melakukan kerusakan itu) merasakan seba-gian dari akibat perbuatannya. Untuk apa? Agar yang pernah melakukan kerusakan itu mendapat pelajaran untuk kembali kepada jalan yang benar. Ya, kembali kepada jalan-Nya.</p>
<p>Jadi, yang merasakan akibat perbuatannya itu ya yang pernah hidup pada masa lampau dan berbuat kerusakan. Bukan orang yang pertama kali dilahirkan di bumi ini. Bukankah Tuhan telah menyatakan bahwa Dia tidak merugikan manusia sedikit pun? Tidak mungkin manusia yang tidak berbuat kesalahan dikenakan azab. Dan, karena kasih-sayang Tuhan pula manusia yang dihidupkan lagi itu merasakan sebagian saja dari akibat perbuatannya. Manusia tidak merasakan seluruh akibat perbuatan buruknya. Hal semacam inilah yang disebutkan pada ayat lain bahwa Tuhan itu memaafkan sebagian besar kesalahan manusia.</p>
<p><em><strong>Kedua</strong>, </em>lagi-lagi kita diperintah Tuhan untuk melakukan perjalanan di muka bumi ini. Tapi, pada ayat ini kita diperintah untuk memperhatikan akibat perbuatan buruk orang-orang yang hidup pada masa lalu. Apa kata ayat tersebut? Banyaknya kerusakan di darat dan laut itu ternyata dilakukan oleh orang-orang <em>musyrik</em>. Orang-orang yang menyekutukan Tuhan. Dus, orang yang menyekutukan Tuhan itu adalah orang yang membuat kerusakan di bumi ini. Jelas kan, bahwa mereka bukanlah orang yang beribadah di depan patung?</p>
<p>Jelas, bahwa kemusyrikan itu lebih terkait dengan amal perbuatan manusia. Jika amalan itu merusak bumi, maka itu tindakan syirik. Jika perusakan bumi itu merupakan perilaku seseorang, maka orang itu disebut sebagai orang musyrik alias menyekutukan Tuhan. Agar tidak terjerumus ke jurang kemusyrikan manusia diperintah untuk menghadapkan dirinya kepada agama, <em>jalan hidup</em>, yang lurus. Yaitu, jalan hidup yang tidak menimbulkan kerusakan dan merugikan orang lain dan dirinya sendiri. Jalan hidup yang demikian inilah yang disebut “islam” (sebagai generik). Dalam kehidupan aktual, islam yang generik ini bisa disebut Islam, Yahudi, Kristen, Hindu, Buddha, dan lain-lainnya.</p>
<p><em><strong>Ketiga</strong>, </em>manusia harus berusaha berada di jalan yang lurus. Di tempat lain disebut sebagai orang yang bertakwa. Usaha ini harus ditempuh sebelum datangnya hari dari Allah yang disebut sebagai “hari yang tidak dapat ditolak”. Hari apa gerangan? Itulah hari kematian dan sekaligus kebangkitan seseorang. Karena dalam satu hari orang yang mati itu banyak, maka yang dibangkitkan pun banyak. Di mana dibangkitkan? Ya, di bumi ini! Lihat kembali QS 7:25.</p>
<p>Manusia dibangkitkan melalui kelahiran melalui ibunya sendiri-sendiri. Dalam ayat mereka disebut menjadi terpisah-pisah. Dan, disebutkan pada ayat berikutnya bahwa mereka yang kafir ya akan menanggung perbuatan kekafirannya. Yaitu, dilahirkan sebagai manusia yang sengsara. Sedangkan yang dahulunya berbuat amal saleh, ya akan dilahirkan di tempat yang penuh anugerah Tuhan.</p>
<p>Nah, sekarang perhatikan kata <em>musyrik </em>dan<em> kafir.</em> Identik kan? Kalau yang dirujuk itu sikap hidup, maka namanya musyrik. Tapi, kalau yang dirujuk itu keyakinan dan tindakannya yang mengingkari kebenaran, maka namanya kafir. Jadi, kafir itu tak ada kaitannya dengan agama yang dipeluk. Agama apa saja yang dipeluknya, kalau ia mengingkari kebenaran atau melakukan kerusakan maka ia termasuk orang kafir!</p>
<p><em><strong>Keempat</strong>, </em>Allah tidak mencintai orang-orang yang ingkar. Perhatikan pernyataan “tidak mencintai”, <em>lâ yu<span style="text-decoration: underline;">h</span>ibbu</em>! Ini tidak dapat diterjemahkan menjadi <em>tidak menyukai</em>. Berbeda! Allah tidak terlibat dalam <em>suka </em>dan<em> tidak suka</em>. Allah juga tidak terlibat dalam soal membenci atau tidak membenci. Allah itu bersifat <em>ma<span style="text-decoration: underline;">h</span>abbah</em>, mencintai hamba-Nya. Tetapi, kalau si hamba itu mengingkari-Nya, maka Dia tidak mencintainya.</p>
<p>Apa bedanya “tidak mencintainya” dengan “membenci”? Benci adalah perasaan tidak suka. Jadi, kalau Tuhan membenci berarti dalam diri Tuhan itu terkandung perasaan tidak suka. Ini tentu saja berlawanan dengan sifat-Nya yang rahman dan rahim. Jelas, tidak mungkin terjadi sifat yang saling berlawanan pada dirinya. Sifat Tuhan adalah Cinta. Maka, karena itu para ahli tasawuf menyebut Tuhan itu sendiri Cinta.</p>
<p>Cinta itu bukan suka! Cinta mengandung makna karunia. Artinya, sesuatu yang dicintai niscaya mendapat perhatian atau karunia dari yang mencintai. Jadi, kalau Tuhan mencintai seorang hamba, maka hamba itu akan mendapatkan cucuran rahmat dan karunia dari-Nya. Misalnya, sang hamba yang dicintai Tuhan itu akan mendapatkan perlindungan, pertolongan dan kenikmatan. Lha, kalau Tuhan “tidak mencintai” orang kafir, maka Dia membiarkan si kafir itu menerima akibat perbuatan-Nya.</p>
<p>Nah, apa yang diharapkan manusia? Tentu saja, rahmat-Nya. Kalau belum dapat melepaskan diri dari bumi ya perlindungan dan kenikmatan hidup di bumi. Dengan perlindungan-Nya itu seorang manusia dapat terus-menerus berusaha di jalan yang benar.</p>
<p><strong> Dalil-dalil Reinkarnasi</strong></p>
<p>Umat Islam merasa bahwa reinkarnasi itu tidak diajarkan dalam Islam. Bahkan pandangan tentang reinkarnasi dianggap bid’ah. Atau, pandangan sesat. Hal ini dapat dimengerti, karena reinkarnasi tidak dijelaskan secara eksplisit di dalam Alquran. Untuk dapat memahaminya kita harus benar-benar serius dalam menelaah ayat-ayat Alquran maupun Hadis.</p>
<p>Mengapa reinkarnasi di dalam Alquran tidak dijelaskan secara eksplisit dalam satu topik tersendiri? Karena, Alquran diwahyukan kepada Nabi sesuai dengan budaya Arab yang ada pada waktu itu. Dalam budaya Arab, kehidupan di akhirat saja diangap aneh. Kalau toh ada orang-orang Quraisy yang menerima pandangan tentang akhirat, sebenarnya itu merupakan pengaruh agama Yahudi, Nasrani dan Majusi.</p>
<p>Apa pandangan asli Arab tentang hidup sesudah mati? Tidak ada! Orang Arab pra-Islam berpandangan bahwa <em>hidup ini hanya sekali saja</em>. Hal ini direkam di beberapa ayat Alquran. Marilah kita baca dengan seksama rekaman Alquran terhadap kepercayaan orang-orang Arab pra-Islam.</p>
<p><em>6:29</em><em> – Dan, tentu mereka akan mengatakan: “Hidup hanyalah kehidupan kita di dunia saja, dan kita sekali-kali tidak akan dibangkitkan.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>23: 35-37  – “Apakah dia menjanjikan kepada kamu sekalian bahwa bila kamu telah mati, telah menjadi tanah dan tulang-belulang, kamu akan dikeluarkan? Jauh, jauh sekali (dari kebenaran), apa yang diancamkan kepadamu. Kehidupam kita itu tidak lain hanyalah kehidupan kita di dunia ini, kita mati dan kita hidup, dan sekali-kali tidak akan dibangkitkan lagi.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>34:7 – “Dan orang-orang kafir berkata: ‘Maukah kamu kami tunjukkan seorang lelaki yang memberitakan kepadamu bahwa apabila badanmu telah hancur, sesungguhnya kamu benar-benar akan dibangkitkan dalam ciptaan baru?’”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>44:35 – “Tidak ada kematian selain kematian kami yang pertama. </em><em>Dan kami sekali-kali tidak dibangkitkan.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p>Ayat-ayat tersebut sudah jelas menggambarkan kepercayaan yang ada pada masyarakat Arab. Mereka itu tidak percaya bahwa kehidupan itu tidak berakhir dengan kematian. Mereka meyakini bahwa kehidupan ini sekali saja, dan kematian merupakan akhir bagi segalanya. Makanya, mereka itu <em>hedonistis</em>. Mereka itu hanya berusaha mencari kesenangan duniawi semata. Mereka tidak peduli bahwa kesenangan yang diusahakan itu merugikan orang lain atau tidak.</p>
<p>Mereka kaget luar biasa ketika Nabi Muhammad mengajarkan tentang kehidupan setelah kematian. Baru dinyatakan ada kehidupan baru sebagai ciptaan baru setelah mati, mereka itu sudah menolak. Apalagi kalau mereka itu dijelaskan secara gamblang bahwa kehidupan itu bisa berlanjut berkali-kali, mungkin <em>nggak </em>percayanya itu kuadrat.</p>
<p>Reinkarnasi itu ayat mutasyabihat. Ya, kelahiran kembali itu diungkapkan dalam Alquran secara tersamar. Ayat-ayatnya harus dipikirkan dan direnungkan dalam-dalam. Kalau tidak dipikirkan masak-masak, pasti akan terjerumus pada penerjemahan atau penafsiran yang menyimpang.  Ayatnya tidak disampaikan secara berurutan atau sering diselipkan di berbagai topik kehidupan. Makanya, kalau kita tidak jeli membacanya akan kecele.</p>
<p><em>16:70 – “Allah menciptakan kamu. Kemudian, Allah mewafatkan kamu (mengakhiri hidupmu di bumi ini), dan di antara kamu ada yang dikem-balikan pada umur yang paling lemah, agar dia tidak mengetahui lagi sesuatu pun yang pernah diketahuinya. Sesunggunya Allah Maha Menge-tahui dan Mahakuasa.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>16:77 – “Dan kepunyaan Allahlah segala yang gaib di langit maupun di bumi. Dan, tidaklah perintah kebangkitan itu selain sekejap mata atau lebih cepat. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>16:78 – “Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun. Dan, Dia memberimu pendengaran, peng-lihatan dan fuad agar kamu dapat bersyukur.”</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><strong><em>Pertama</em></strong>, pada umumnya orang yang hidup di bumi ini berakhir dengan kematian. Tentu saja, ada yang benar-benar telah wafat, alias telah sempurna hidupnya, sehingga tidak dilahirkan kembali di bumi ini. Tapi, kebanyakan manusia itu dilahirkan kembali. Dalam bahasa ayat di atas dinyatakan sebagai <em>“dikembalikan pada umur yang paling lemah”</em>. Umumnya, kalimat <em>ardzal al-‘umur</em> pada ayat tersebut diartikan “tua-renta”. Sedangkan kalimat <em>“tidak mengetahui sesuatu pun yang pernah diketahuinya”</em> diartikan dengan “pikun” atau pelupa karena sudah tua sekali.</p>
<p>Penerjemah biasanya tidak memahami bahasa Indonesia dengan benar. Mereka tidak menyadari bahwa “tua-renta” itu belum tentu lemah. Banyak orang di Indonesia ini yang umurnya sudah 80 tahun masih tampak lebih segar daripada yang berumur 40 tahun. Beberapa negarawan kita sudah berumur lebih dari 80 tahun, tapi masih berbicara tentang politik dan situasi negara kita dewasa ini secara kritis. Maka, jelas kalimat “dikembalikan pada umur yang paling lemah” itu tidak berarti tua-renta atau lanjut usia.</p>
<p><em><strong>Kedua</strong>, </em>kalimat “tidak mengetahui sesuatu pun apa yang pernah dike-tahui sebelumnya” diartikan dengan “pikun”. Ini salah besar! Orang pikun itu pelupa. Mudah lupa terhadap apa yang diketahui atau dikerjakannya. Tapi, pikun itu masih ada yang diingat. Bukan tidak ingat sama sekali apa yang pernah diketahui, atau <em>lost memory</em>. Dan, pikun itu sifat yang ada pada orang tua yang telah lanjut usia di mana saja. Namun, tidak setiap orang yang lanjut usia itu pikun. Jadi, tidak mungkin bangsa Arab tidak punya khazanah untuk kata pikun. Dalam bahasa Arab, pikun itu <em>mukharraf</em>.</p>
<p>Jadi, kondisi tua-renta dan pikun itu tidak merupakan pemetaan satu-satu. Artinya, ada orang yang tua-renta tidak pikun, dan ada orang pikun yang masih muda usianya. Makanya, harus kita cari ayat-ayat yang menya-takan “tidak tahu sesuatu pun apa yang pernah diketahuinya” itu dalam kaitan yang lain. Ternyata, pada ayat 78 disebutkan bahwa kalimat tersebut terkait dengan pernyataan “dikeluarkan dari perut ibumu”. Artinya, “tidak tahu sesuatu pun” itu dimiliki oleh bayi yang baru dilahirkan. Dan, di ayat sebelumnya dijelaskan bahwa kondisi ini disebut kebangkitan! <em>Dus, kebangkitan seseorang itu ada di bumi ini, yaitu keluar dari perut ibu</em>.</p>
<p>Ya…, kebangkitan adalah kelahiran. Dan, ini cocok dengan makna bangkit itu sendiri. Yaitu, bangkit sebagai manusia kembali. Dengan adanya kebangkitan atau kelahiran itu, maka orang yang telah mati, dan tulang-belulangnya telah hancur, akan hidup kembali sebagai ciptaan yang baru yang disangkal oleh orang-orang Arab pra-Islam.</p>
<p>Maka, kiamat dalam pengertian kita selama ini sebenarnya kelahiran kembali. Inilah yang disebut <em>reinkarnasi</em>. Dan, kehidupan dunia yang kita alami saat ini adalah akhirat bagi kehidupan masa lalu. Siksa dan pahala yang dialami saat ini merupakan buah perbuatan pada kehidupan masa lalu. Namun Tuhan itu rahman dan rahim, sehingga manusia dapat melanjutkan perjalanannya untuk kembali kepada-Nya.</p>
<p>Jika pada kedua ayat tersebut masih samar-samar dan memerlukan kejelian dalam membacanya, maka pada Surah Yâ Sîn [36]: 68 yang biasa dibaca oleh orang Islam pada berbagai kesempatan, hal reinkarnasi itu lebih jelas lagi. Bunyi terjemahan ayatnya, <em>“Dan barangsiapa yang Kami panja-ngkan hidupnya niscaya Kami kembalikan pada kejadiannya. Apakah mereka itu tidak memikirkannya?”</em></p>
<p>Perhatikan! Pemanjangan hidupnya di bumi ini niscaya diikuti dengan kembalinya pada kejadiannya. Yaitu, dilahirkan sebagai bayi! Tapi, meski sudah terang-benderang maknanya, hampir penerjemah Alquran standar memberikan catatan kaki bahwa itu dikembalikan menjadi lemah dan kurang akal. Jelas, ini orang yang ngawur! Mana ada panjang umur selalu diikuti dengan lemah dan kurang akal? Sepikun-pikunnya atau kurang akalnya orang tua, masih lebih cerdas daripada bayi. Sebagaimana sudah dijelaskan bahwa orang yang telah lanjut usianya belum tentu pikun. Beberapa kepala negara malah masih aktif memimpin, meski umurnya sudah di atas 80 tahun. Tetapi, banyak orang yang baru berusia 60 tahun sudah menunjukkan gejala kepikunan.</p>
<p>Apa arti dikembalikan pada “kejadian”. Bukankah kejadian manusia itu berawal dari seorang bayi? Bagaimana mungkin mereka memahami kejadian sebagi lemah dan kurang akal? Rupanya, mereka itu perlu dididik biologi, agar mereka memahami arti kejadian manusia hingga wafatnya. Mereka perlu diajari membaca kamus dan struktur kalimat bahasa Indonesia. Untuk apa? Agar kalau ada kalimat “tidak mengetahui sesuatu pun” tidak diterjemahkan pikun. Bahasa untuk pikun itu ada di setiap bangsa. Karena, pikun merupakan fenomena yang menimpa orang tua atau lanjut usia.</p>
<p>Bahkan karena sesuatu gangguan, ada orang-orang yang kehilangan ingatan terhadap apa yang pernah diketahuinya. Mereka ini tidak terkait dengan batasan usia. Tapi, hal ini disebabkan oleh gangguan pada saraf otaknya. Ini kasus! Sehingga, hal semacam ini tidak dimasukkan dalam ayat. Maka, kalimat “tidak mengetahui sesuatu pun” harus dicarikan kaitannya pada ayat yang lain. Ini yang namanya menafsirkan ayat Alquran dengan ayat Alquran lainnya. Inilah penafsiran yang paling valid!</p>
<p>Kemudian, kalau kita melihat Surah Yâ Sîn di atas, ayat 68 itu ditutup dengan kalimat “apakah mereka tidak memikirkan”. Kalau kita dalam hidup sehari-hari ini menjumpai sesuatu yang lazim, maka kita tak perlu memikirkan maknanya. Kita baru memikirkan sesuatu jika kita ingin mengetahui makna di balik kejadian yang tampak itu.</p>
<p>Reinkarnasi dalam Hadis. Selain ayat-ayat Alquran, indikasi adanya reinkarnasi itu dapat kita temukan dalam beberapa Hadis. Di bawah ini saya cuplikkan beberapa Hadis yang ada kaitannya dengan reinkarnasi.</p>
<p><em>“Demi Tuhan yang jiwaku dalam genggaman-Nya, seandainya seseorang gugur di jalan Allah, kemudian dihidupkan lagi lalu gugur lagi, kemudian dihidupkan lagi lalu gugur lagi, niscaya ia tidak dapat masuk surga sebelum melunasi hutangnya.” </em>(H.R. Nasai)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Orang yang berhutang itu dibelenggu dalam kuburnya, tiada yang dapat melepaskannya selain ia membayar hutangnya.” </em>(H.R. Dailami)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em>“Sesungguhnya di antara dosa-dosa ada yang tidak dapat ditutupi oleh salat, puasa, haji dan umrah. Yang dapat menutupinya hanyalah duka-cita (kesulitan) dalam hidup mencari rezeki.” </em>(H.R. Ibnu Asakir)</p>
<p><em> </em></p>
<p><em><strong>Pertama</strong>, </em>meskipun gugur berkali-kali tapi bilamana belum melunasi hutangnya, ia tak akan masuk surga. Perhatikan, kata gugur berkali-kali dan hutang. Secara sederhana umat Islam menerjemahkan hutang itu dalam arti hutang harta-benda. Tidak sepenuhnya benar! Yang jelas, hutang harta-benda itu bagian dari hutang perbuatan (karma).</p>
<p>Dan lagi, pada kalimat di atas tidak dinyatakan “kecuali jika ada hutang, keluarganya melunasinya”. Kalimat ini tidak ada. Yang ada, justru menegaskan bahwa yang gugur itulah yang melunasinya. Jadi, hutang itu tidak dapat dilunasi orang lain. Seseorang tidak menanggung beban atau dosa orang lain. Setiap orang akan menanggung dosanya sendiri. Itulah yang dijelaskan di berbagai ayat Alquran.</p>
<p><em> </em></p>
<p><em><strong>Kedua</strong>, </em>hidup susah dalam mencari rezeki adalah cara untuk menutupi dosa-dosa. Coba, dosa darimana? Kalau hidup sekarang ini merupakan hidup yang pertama kali, maka tidak adil kiranya bila ada orang yang dilahirkan menderita di kolong jembatan. Padahal, Tuhan sudah menyatakan dengan tegas bahwa Dia tidak menzalimi hamba-hamba-Nya.</p>
<p>Banyak sekali di dunia ini orang yang hidupnya menderita semenjak dilahirkan di bumi ini. Menurut Hadis di atas, penderitaan itu sebenarnya untuk menutupi dosa-dosanya. Dan, dosa-dosa itu sendiri tidak dapat ditutupi oleh ibadah formal. Dosa yang tidak bisa dihapus dengan cara salat, puasa, umrah dan haji. Ini tentu saja dosa yang berat. Sehingga perbuatan ibadahnya pun tak bisa menghapusnya. Dosanya hanya hapus bila dia dilahirkan kembali di bumi ini sebagai orang yang hidup menderita!</p>
<p>Kiranya penjelasan saya tentang reinkarnasi pada hari ini saya sudahi sampai di sini. Penjelasan selanjutnya akan diberikan pada pertemuan di tempat yang sama minggu depan, tgl 31 Oktober 2004 tentang “Bentuk-bentuk Reinkarnasi dan Kesudahannya”.</p>
<p>Sampai jumpa. Terima kasih.</p>
<p>Salam,</p>
<p><strong>A. Chodjim</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://refleksi.alfisatria.com/mengapa-manusia-mengalami-reinkarnasi/feed</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

